Telset.id – Nvidia dan OpenAI dikabarkan sedang dalam negosiasi lanjutan untuk menyewa kampus data center raksasa berkapasitas 10 gigawatt (GW) di Piketon, Ohio, Amerika Serikat. Langkah ini menandai perubahan strategis besar di industri kecerdasan buatan (AI), di mana OpenAI untuk pertama kalinya bertindak sebagai penyewa langsung, bukan sekadar pelanggan dari penyedia cloud seperti Microsoft, Amazon, atau Oracle.
Menurut laporan Wall Street Journal pada Minggu (9/3/2026) yang mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah ini, Nvidia juga terlibat dalam pembicaraan untuk menjamin pendanaan sekitar USD 250 miliar (sekitar Rp 4.000 triliun) di belakang proyek tersebut. Kampus ini dimiliki oleh SB Energy, dan jika kesepakatan tercapai, ini akan menjadi fasilitas pertama yang disewa langsung oleh OpenAI.
Pembicaraan ini terjadi di tengah meningkatnya persaingan di sektor AI. Nvidia, sebagai pemasok utama chip AI, terus memperkuat posisinya. Perusahaan baru-baru ini memperkenalkan Fitur Terbaru dalam sistem pendingin AI seri Rubin, yang menunjukkan komitmennya pada inovasi.
Selain jaminan pendanaan sebesar USD 250 miliar, Nvidia juga secara terpisah mendiskusikan pembiayaan untuk akselerator (chip AI) yang akan dipasang di dalam data center tersebut. Nilai pendanaan untuk chip ini diperkirakan bisa mencapai USD 350 miliar lagi. Dengan demikian, total potensi komitmen finansial Nvidia dalam proyek ini bisa mencapai USD 600 miliar.

Namun, perlu dicatat bahwa persyaratan kesepakatan ini belum final dan masih bisa gagal. Salah satu kendala utamanya adalah OpenAI tidak memiliki peringkat kredit investment-grade. Oleh karena itu, keterlibatan Nvidia menjadi krusial karena memungkinkan SB Energy untuk menggalang dana dengan menjaminkan neraca keuangan Nvidia yang jauh lebih kuat, bukan bergantung pada kemampuan finansial OpenAI.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Nvidia telah menginvestasikan USD 30 miliar ke OpenAI. Investasi ini mendorong proyeksi belanja komputasi OpenAI menjadi sekitar USD 750 miliar hingga tahun 2030, naik dari perkiraan sebelumnya yang sekitar USD 600 miliar pada awal tahun ini. Angka ini menunjukkan betapa besarnya skala investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan AI generatif.
Lokasi kampus data center ini berada di lahan federal, tepatnya di bekas Portsmouth Gaseous Diffusion Plant. Karena itu, Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, memiliki kendali atas alokasi daya listrik di situs tersebut. Menariknya, pesaing utama OpenAI seperti Anthropic, Microsoft, dan Google juga telah berbicara dengan Lutnick dalam beberapa pekan terakhir mengenai situs yang sama.
Baca Juga:
Risiko Finansial Raksasa di Balik Kesepakatan
Meskipun Nvidia adalah perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang sangat besar, jaminan pendanaan sebesar USD 250 miliar menimbulkan pertanyaan serius tentang risikonya. Dalam laporan keuangan Q1 FY2027 (10-Q), Nvidia membatasi eksposur maksimum bruto untuk semua jaminan sewa fasilitas mitra pada angka USD 3,5 miliar. Jumlah ini menyusut seiring pembayaran yang dilakukan mitra kepada lessor, dengan USD 712 juta saat ini disimpan dalam escrow.
Sebagai perbandingan, jaminan pertama yang diungkapkan Nvidia pada kuartal ketiga tahun fiskal 2026 dibatasi hingga USD 860 juta dengan USD 470 juta escrow di belakangnya. Dalam skema itu, mitra secara terpisah berkontrak untuk menjual kapasitas cloud data center, dan Nvidia memiliki opsi untuk mengambil alih sewa untuk penggunaan internal atau menyewakannya kembali jika escrow dan kontrak tersebut tidak mencukupi.
Namun, opsi penyelesaian seperti itu tidak memiliki padanan yang jelas untuk kampus seluas 10 GW di lahan federal. Sebuah jaminan sebesar USD 250 miliar kira-kira setara dengan 71 kali lipat dari buku jaminan yang telah diungkapkan Nvidia, lebih dari setahun pendapatan perusahaan, dan sekitar empat kali lipat kas yang dimilikinya.
Pada penutupan tahun fiskal 2026, 25 Januari 2026, Nvidia memegang USD 62,6 miliar dalam bentuk kas, setara kas, dan surat berharga. Pendapatan setahun penuh mencapai USD 215,9 miliar dengan laba bersih USD 117 miliar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun Nvidia sangat kuat secara finansial, komitmen sebesar USD 250 miliar tetap merupakan lompatan yang sangat besar.

Detail Proyek dan Implementasi
SB Energy memulai pembangunan di bekas Portsmouth Gaseous Diffusion Plant pada 20 Maret 2026. Acara peletakan batu pertama dihadiri oleh Menteri Energi Chris Wright, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan Ketua SoftBank Masayoshi Son. Situs ini sebelumnya digunakan untuk memperkaya uranium bagi program senjata AS dari tahun 1954 hingga 2001 dan masih dalam proses dekontaminasi.
Departemen Energi AS sebelumnya telah mendaftarkan lokasi ini sebagai salah satu dari 16 situs federal yang dibuka untuk pembangunan data center. SB Energy menyewa tanah tersebut, bukan memilikinya. Untuk mendukung operasional kampus, diperlukan pembangkit listrik gas alam baru sebesar 9,2 GW dan pekerjaan transmisi senilai USD 4,2 miliar dengan AEP Ohio.
Pendanaan untuk infrastruktur ini berasal dari komitmen Jepang sebesar USD 33,3 miliar berdasarkan perjanjian dagang dengan AS. Fase pertama proyek, dengan kapasitas sekitar 800 MW, ditargetkan selesai pada tahun 2028. Ini menunjukkan bahwa proyek skala besar semacam ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk direalisasikan.
Keputusan OpenAI untuk menyewa kapasitas data center, bukan membangun sendiri, merupakan kelanjutan dari strategi yang diadopsi tahun lalu. Perusahaan yang didukung Microsoft ini sebelumnya telah meninggalkan rencana untuk membangun data center Stargate miliknya sendiri dan beralih ke model sewa yang lebih fleksibel.
Sementara itu, SoftBank, yang merupakan pemilik SB Energy, membawa lebih dari USD 130 miliar utang sambil mendanai pembangunan di Ohio, Prancis, dan tempat lain. Hal ini menunjukkan betapa besarnya leverage finansial yang digunakan dalam perlombaan infrastruktur AI global. Nvidia juga terus berinovasi, termasuk dengan rencana menempatkan Chip Pertama di Bulan melalui proyek Jetson.
Langkah strategis ini menegaskan bahwa persaingan di industri AI tidak hanya soal model dan algoritma, tetapi juga soal infrastruktur fisik raksasa yang membutuhkan investasi setara produk domestik bruto sebuah negara kecil.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.