Logo OpenAI di latar belakang biru dengan efek blur

OpenAI Ungkap Kampanye China Lawan Data Center AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI merilis laporan tentang dua klaster akun palsu dari China yang menggunakan ChatGPT untuk kampanye disinformasi
  • Klaster pertama "Data Center Bandwagon" fokus pada isu kenaikan biaya listrik akibat pusat data AI
  • Klaster kedua mengkritik kebijakan tarif dan teknologi AS serta menargetkan audiens Taiwan
  • Akun-akun ini berpura-pura menjadi warga Amerika dan memposting konten di media sosial
  • OpenAI mengakui kampanye gagal meraih engagement autentik dan tidak mengubah opini publik
  • Biaya listrik di area dekat pusat data naik hingga 267% dalam lima tahun terakhir
  • OpenAI tidak dapat menentukan alasan kampanye menggunakan ChatGPT dibandingkan DeepSeek

Telset.id – OpenAI merilis laporan yang mengungkap dua kelompok akun palsu yang kemungkinan besar berasal dari China. Akun-akun tersebut menggunakan ChatGPT untuk merencanakan kampanye guna memengaruhi opini warga Amerika tentang pusat data AI.

Laporan yang diterbitkan pada Juni 2026 ini mendeskripsikan dua klaster pengguna. Klaster pertama diberi nama “Data Center Bandwagon”. Kelompok ini diduga meminta ChatGPT untuk menghasilkan poin pembicaraan dan gambar berbahasa Inggris, termasuk komik strip, yang berfokus pada dampak pusat data AI terhadap kenaikan permintaan listrik dan tagihan konsumen.

Menurut OpenAI, para pengguna ini berpura-pura menjadi warga Amerika dari berbagai latar belakang di media sosial. Mereka memposting hasil teks dan gambar yang didapat dari ChatGPT. OpenAI meyakini mereka adalah bagian dari tim media sosial di sebuah perusahaan swasta China yang bekerja untuk klien pemerintah daerah.

Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok ini mengunggah file ke ChatGPT yang menjelaskan tujuan dan strategi mereka. Strategi itu mencakup cara memengaruhi opini publik dan cara mendirikan akun media sosial palsu tanpa terdeteksi.

Kelompok “Data Center Bandwagon” juga menargetkan warga China yang tinggal di negara lain. Mereka bahkan meminta ChatGPT untuk menghasilkan hinaan yang ditujukan untuk melecehkan para pembangkang dan komentator politik China. Saat berpura-pura menjadi imigran China dan profesional yang berbasis di AS, mereka mendorong tokoh publik online untuk lebih banyak berbicara tentang kegagalan kebijakan AS.

Meskipun menggunakan akun tidak autentik, OpenAI mencatat bahwa para pengguna ini memposting tautan ke “berita sah tentang lelang kapasitas operator jaringan listrik dan permintaan daya pusat data.” Kenaikan biaya listrik di kota-kota dekat pusat data AI memang menjadi kekhawatiran nyata dan merupakan salah satu efek pertama dari ledakan AI yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Menurut laporan Bloomberg, listrik kini harganya bisa mencapai 267 persen lebih mahal untuk sebulan dibandingkan lima tahun lalu di area dekat pusat data. Hal ini terjadi karena permintaan energi mereka melebihi pasokan.

Sementara itu, klaster kedua yang ditemukan OpenAI menghasilkan komentar dan gambar yang mengkritik tarif dan kebijakan teknologi AS. Kelompok ini secara spesifik berfokus pada konten yang kritis terhadap AS dan menekankan bahwa negara itu telah mengkhianati sekutunya. Kelompok ini meminta ChatGPT untuk tidak menyertakan Presiden China Xi Jinping dalam gambar yang mereka hasilkan dan menyuruh chatbot menulis komentar dalam bahasa Inggris, Italia, Jepang, dan China tradisional untuk menargetkan audiens Taiwan.

OpenAI mengakui bahwa kampanye-kampanye ini gagal meraih banyak keterlibatan autentik dan tidak benar-benar mengubah opini publik. Berdasarkan laporan OpenAI sendiri, kampanye ini justru berfokus pada isu-isu nyata yang sudah kontroversial dan banyak dibahas secara online.

Perusahaan menjelaskan bahwa alasan kampanye ini signifikan adalah karena “para operator berusaha menyusup secara rahasia ke dalam perdebatan Amerika yang sedang berlangsung tentang masa depan kemampuan AI negara itu sambil menyembunyikan siapa mereka dan apa motivasi mereka.”

Mengenai alasan kampanye ini menggunakan chatbot AI Amerika alih-alih DeepSeek, OpenAI pun tidak bisa menjawab. “Kami tidak dalam posisi untuk menentukan apa yang mendorong pilihan ini,” bunyi laporan tersebut.

Temuan ini menunjukkan betapa rentannya platform AI generatif seperti ChatGPT terhadap penyalahgunaan untuk kampanye disinformasi. Meskipun dampak kampanye ini terbatas, pola operasi yang terdeteksi memberikan gambaran tentang taktik yang mungkin digunakan di masa depan. OpenAI telah mengambil langkah transparan dengan mempublikasikan laporan ini, sebuah pendekatan yang penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap teknologi AI.

Ke depannya, pengawasan ketat terhadap penggunaan chatbot AI untuk tujuan manipulatif akan menjadi semakin krusial. Perusahaan seperti OpenAI perlu terus mengembangkan mekanisme deteksi dan pencegahan yang lebih canggih untuk mengantisipasi taktik serupa yang lebih terstruktur. Sementara itu, pengguna juga harus lebih kritis terhadap konten yang beredar di media sosial, terutama yang berkaitan dengan isu-isu sensitif seperti kebijakan energi dan teknologi.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi AI, meskipun menawarkan banyak manfaat, juga dapat menjadi alat yang ampuh di tangan pihak-pihak yang berniat buruk. Kolaborasi antara perusahaan teknologi, pemerintah, dan masyarakat sipil menjadi kunci untuk memitigasi risiko ini tanpa menghambat inovasi.

OpenAI sendiri telah mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan keamanan platformnya, termasuk merilis Lockdown Mode untuk mencegah serangan prompt injection. Langkah ini menunjukkan keseriusan perusahaan dalam melindungi integritas platformnya dari penyalahgunaan.

Selain itu, OpenAI juga telah mengambil langkah transparansi dengan mengizinkan pemerintah AS meninjau model AI sebelum dirilis. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa model AI yang diluncurkan telah memenuhi standar keamanan dan etika yang ketat.

Laporan OpenAI ini menjadi bukti bahwa ancaman manipulasi opini publik melalui AI adalah nyata dan membutuhkan respons yang terkoordinasi. Meskipun kampanye yang terdeteksi kali ini gagal, potensi kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh operasi serupa di masa depan tidak boleh diremehkan. Industri AI harus belajar dari insiden ini untuk membangun pertahanan yang lebih kuat.

Para ahli keamanan siber menekankan pentingnya berbagi informasi dan intelijen antar perusahaan teknologi untuk melawan ancaman bersama. Kampanye terkoordinasi yang menggunakan AI generatif membutuhkan pendekatan deteksi yang juga berbasis AI, sebuah perlombaan senjata teknologi yang terus berlangsung.

Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini juga menyoroti ketegangan geopolitik yang mempengaruhi lanskap teknologi global. Persaingan antara AS dan China tidak hanya terjadi di bidang perdagangan dan militer, tetapi juga dalam perang opini yang menggunakan teknologi canggih sebagai senjatanya.

OpenAI menegaskan komitmennya untuk terus memantau dan melaporkan aktivitas mencurigakan di platformnya. Transparansi semacam ini penting untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa AI digunakan untuk tujuan yang konstruktif, bukan destruktif.

Dengan semakin canggihnya kemampuan model bahasa besar seperti ChatGPT, potensi penyalahgunaannya juga meningkat. Oleh karena itu, pengembangan AI yang bertanggung jawab harus mencakup tidak hanya aspek teknis, tetapi juga aspek etika dan keamanan yang komprehensif.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh ekosistem AI tentang pentingnya kewaspadaan dan kolaborasi dalam menghadapi ancaman disinformasi berbasis AI.

Komentar

Belum ada komentar.