Telset.id – Praktik homeschooling di Amerika Serikat kini menghadapi tren baru yang mengkhawatirkan: sejumlah orangtua mengaku menggunakan ChatGPT dan model bahasa besar (LLM) lainnya untuk menggantikan kurikulum pendidikan anak-anak mereka. Fenomena ini terungkap melalui video viral yang memperlihatkan pendekatan pendidikan yang sangat longgar, bahkan tanpa pengawasan kurikulum yang memadai.
Salah satu video yang menarik perhatian berasal dari pasangan influencer kontroversial Cole dan Savannah LaBrant. Dalam tayangan langsung tersebut, Savannah menjelaskan metode homeschooling untuk kelima anaknya dengan pendekatan berbasis preferensi pribadi, bukan struktur akademis yang jelas. Ia mengaku hanya memberikan pelajaran sejarah seminggu sekali, dan terkadang menggunakan ChatGPT untuk membuat materi pelajaran.
“Saya membuat kurikulum sendiri, dan terkadang saya hanya menggunakan ChatGPT,” ujar Savannah dalam video yang beredar. Pendekatan ini menimbulkan kekhawatiran besar, terutama karena aturan homeschooling di Amerika Serikat memang sangat longgar. Sebanyak 11 negara bagian bahkan tidak memiliki regulasi sama sekali, tanpa kewajiban kurikulum tertentu atau penilaian standar.
Fenomena ini menjadi sorotan karena dampaknya terhadap kualitas pendidikan anak. Alih-alih menggunakan kurikulum terstruktur, sebagian orangtua memilih materi berdasarkan apa yang mereka anggap penting secara pribadi. Kondisi ini diperparah dengan kemampuan LLM yang bisa dengan mudah menghasilkan rencana pelajaran sesuai permintaan pengguna, termasuk kurikulum yang sarat muatan ideologi tertentu.
ChatGPT Tidak Punya Pengaman Pendidikan
Pertanyaan kritis yang muncul adalah apakah chatbot AI memiliki pengaman terkait konten pendidikan. Futurism melakukan uji coba dengan meminta ChatGPT menyusun kurikulum homeschooling untuk siswa kelas 3 di Michigan, negara bagian dengan regulasi homeschooling yang sangat longgar. Permintaan tersebut secara eksplisit meminta kurikulum berbasis doktrin evangelis dan menolak “sejarah atau sains yang woke”.
Hasilnya cukup mengejutkan. ChatGPT langsung menyetujui permintaan tersebut dan menyusun kurikulum yang mengintegrasikan kitab suci di semua mata pelajaran. Kurikulum yang dihasilkan mencakup pendekatan penciptaan dalam sains bumi, pandangan tradisional terhadap sejarah Amerika dengan fokus pada tokoh kontroversial seperti Henry Ford, serta pelajaran astronomi yang membedakan observasi dari interpretasi tentang usia dan asal usul alam semesta.

Yang menjadi perhatian utama bukanlah ketidaktahuan Savannah tentang sejarah, karena banyak orangtua yang memiliki keterbatasan serupa. Masalahnya terletak pada keyakinan untuk mengganti kurikulum terstruktur dengan materi yang ditentukan sepihak oleh orangtua. Tidak ada jaminan bahwa materi yang dihasilkan AI akan akurat atau sesuai standar pendidikan nasional.
Kekhawatiran ini diperkuat dengan fakta bahwa chatbot AI dikenal dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, termasuk peta yang salah. Ketika teknologi ini digunakan tanpa verifikasi untuk pendidikan anak, risiko kesalahan faktual semakin besar. Dampaknya bisa sangat luas mengingat ada sekitar 3,75 juta anak homeschooling di Amerika Serikat.
Regulasi Longgar Memperparah Situasi
Di sebagian besar wilayah Amerika Serikat, orangtua homeschooling diberikan kebebasan yang sangat luas dalam menentukan materi pelajaran. Sebanyak 11 negara bagian tidak memiliki regulasi sama sekali, di mana orangtua tidak diwajibkan mengikuti kurikulum tertentu, tidak ada asesmen standar, bahkan tidak perlu memberi tahu negara bagian bahwa anak mereka tidak bersekolah formal.
Banyak negara bagian lain hanya mewajibkan pemberitahuan niat homeschooling dan bukti kehadiran sesekali. Sementara itu, hanya lima negara bagian yang secara tegas mewajibkan tes standar dan kurikulum kaku: Rhode Island, Pennsylvania, New York, Vermont, dan Massachusetts. Kondisi ini membuka peluang bagi orangtua untuk menggunakan AI dalam menyusun materi yang sejalan dengan pandangan dunia mereka, tanpa pengawasan pihak berwenang.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada keluarga LaBrant. Akun influencer populer Heavenly Homeschool juga memiliki konten serupa yang memandu orangtua membuat rencana pelajaran selama setahun penuh, disesuaikan dengan pandangan dunia spesifik mereka. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam homeschooling menjadi tren yang berkembang.
Baca Juga:
Implikasi dari tren ini sangat serius. Selain potensi halusinasi AI yang dapat merusak materi pendidikan, teknologi ini menjadi kotak Pandora bagi orangtua yang ingin menanamkan teori konspirasi atau pandangan anti-sosial kepada anak-anak mereka tanpa menghadapi penolakan. Kurikulum yang dihasilkan AI tidak memiliki filter kualitas atau verifikasi kebenaran.
Ketika orangtua menggunakan AI untuk menggantikan kurikulum terstruktur, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: siapa yang bertanggung jawab memastikan kualitas pendidikan anak? Dalam sistem homeschooling yang longgar, jawabannya sering kali tidak jelas. Teknologi yang seharusnya menjadi alat bantu pendidikan justru bisa menjadi pengganti yang berbahaya.
Kondisi ini juga menyoroti pentingnya literasi digital di kalangan orangtua. Memahami batasan AI dan kemampuan untuk memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang semakin krusial. Orangtua perlu menyadari bahwa meskipun AI dapat menghasilkan materi dengan cepat, akurasi dan kelengkapan informasi tetap harus divalidasi.
Fenomena penggunaan ChatGPT untuk homeschooling ini juga relevan dengan diskusi yang lebih luas tentang peran AI dalam pendidikan. Berbagai pihak telah menyuarakan kekhawatiran tentang dampak teknologi ini, baik di lingkungan sekolah formal maupun non-formal. Kekhawatiran ini tidak hanya berlaku di Amerika Serikat, tetapi juga menjadi pertimbangan bagi sistem pendidikan di berbagai negara.
Dengan semakin mudahnya akses ke teknologi AI, tantangan terbesar bukan lagi pada ketersediaan alat, melainkan pada kemampuan pengguna untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Dalam konteks pendidikan anak, tanggung jawab ini menjadi lebih berat karena menyangkut masa depan generasi penerus.
Kesimpulannya, penggunaan ChatGPT dalam homeschooling mencerminkan kebutuhan mendesak akan regulasi yang lebih baik dan kesadaran yang lebih tinggi tentang keterbatasan teknologi AI. Tanpa pengawasan yang memadai, teknologi yang dirancang untuk membantu justru dapat merugikan perkembangan pendidikan anak dalam jangka panjang.





Komentar
Belum ada komentar.