CEO Nvidia Jensen Huang dalam wawancara mengungkap pangsa pasar perusahaan di China turun ke nol persen

Pangsa Pasar Nvidia di China Anjlok ke Nol Persen

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pangsa pasar Nvidia di China turun drastis dari 90 persen menjadi nol persen
  • CEO Jensen Huang ungkap fakta ini dalam wawancara di program Memos to the President akhir April
  • Kebijakan kontrol ekspor AS yang ketat menjadi penyebab utama kehilangan pasar China
  • Huang dukung kebijakan AS untuk tidak memberikan chip AI mutakhir ke China
  • Namun ia juga minta Washington beri ruang bagi perusahaan AS untuk bersaing di China
  • Chip H200 yang sudah dipangkas kemampuannya tetap tidak cukup untuk mempertahankan pasar

Telset.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa pangsa pasar perusahaannya di China kini telah turun drastis hingga mencapai angka nol persen. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara di program Memos to the President yang digelar oleh lembaga Special Competitive Studies Project pada akhir April lalu.

Padahal, Nvidia sebelumnya mendominasi pasar chip semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) di China. “Nvidia sebelumnya memiliki, sebut saja, sekitar 90-an persen pangsa pasar di sana,” ungkap Huang. “Namun hari ini, di China, pangsa pasar kami kini telah turun menjadi nol.”

Kejatuhan ini menjadi ironi tersendiri. Aturan kontrol ekspor yang dirancang ketat oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) justru menjadi bumerang. Kebijakan yang awalnya bertujuan melindungi posisi dominan dan keunggulan teknologi AS ini malah menyebabkan hilangnya pangsa pasar Nvidia di China. Ketidakmampuan Nvidia menjual chip andalannya menciptakan celah yang dimanfaatkan produsen chip lokal China untuk merebut pasar.

CEO Nvidia, Jensen Huang memamerkan chip AI Blackwell buatan perusahaannya.

## Dukung Kebijakan AS, Tolak Beri Chip ke China

Meski perusahaannya kehilangan pasar raksasa, Huang tetap satu suara dengan pemerintahnya. Ia secara terbuka menyatakan setuju bahwa China tidak seharusnya memiliki akses terhadap chip AI paling mutakhir. Huang secara spesifik menyebut arsitektur GPU AI generasi terbaru Nvidia, Blackwell dan Rubin, dan menegaskan China tidak boleh mendapatkan akses ke chip tersebut.

Dalam perlombaan AI global, menurut Huang, AS harus memegang kendali penuh. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memiliki “yang pertama, yang terbanyak, dan yang terbaik” dalam hal kepemilikan perangkat keras AI.

## Tetap Minta Ruang Bersaing

Meski mendukung supremasi teknologi AS, Huang juga mendesak Washington agar tidak mematikan langkah perusahaan Amerika di pasar global. Ia meminta agar pemain semikonduktor AS tetap diberi kelonggaran untuk bersaing secara kompetitif, termasuk berbisnis di China untuk menjual lini produk yang tidak melanggar aturan ekspor.

Kondisi pangsa pasar yang anjlok ini bertolak belakang dengan situasi beberapa bulan sebelumnya. Pada Maret lalu, Huang sempat menyebut Nvidia telah mengantongi pesanan chip dari “banyak pelanggan” asal China setelah mendapatkan persetujuan ekspor untuk mendistribusikan chip AI seri H200. H200 merupakan chip AI Nvidia yang kemampuannya sudah dipangkas agar lolos aturan AS.

Namun, dinamika geopolitik, ketatnya sanksi ekspor AS yang menjadi bumerang, serta manuver agresif produsen chip lokal China mengubah peta persaingan secara drastis dalam waktu singkat.

Situasi ini semakin kompleks dengan berbagai perkembangan di industri chip. Produsen chip lokal China terus mengembangkan kemampuan mereka, termasuk melalui kolaborasi dengan perusahaan seperti Huawei. Ancaman AI China dengan chip buatan sendiri menjadi perhatian serius bagi Nvidia dan pemerintah AS.

## Implikasi bagi Industri Chip Global

Hilangnya pangsa pasar Nvidia di China menunjukkan bagaimana kebijakan geopolitik dapat mengubah peta persaingan industri teknologi secara fundamental. Produsen chip lokal China kini memiliki momentum untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Nvidia.

Sementara itu, Nvidia terus mencari celah untuk tetap bersaing di pasar global. Perusahaan asal AS ini juga terus mengembangkan berbagai produk terbaru untuk segmen berbeda, termasuk laptop gaming.

Di sisi lain, dukungan terhadap ekosistem chip terbuka juga menjadi strategi Nvidia. Melalui dukungan untuk SiFive, Nvidia turut mendorong pengembangan chip AI yang lebih terbuka.

Komentar

Belum ada komentar.