📑 Daftar Isi

Ilustrasi media sosial dengan ikon suka dan komentar yang merepresentasikan pengaruh AI terhadap opini publik

Riset Oxford Ungkap AI Bisa Menggeser Opini Publik Secara Halus

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Riset Oxford Internet Institute dan Hasso Plattner Institute ungkap AI bisa menggeser opini publik secara halus
  • Studi berjudul "AI-Mediated Communication Can Steer Collective Opinion" uji LLM untuk menulis ulang postingan
  • Output AI cenderung berpihak pada satu sisi perdebatan, seperti feminisme, ganja, dan kendali senjata
  • Satu instruksi "challenge mainstream narratives" pada Grok cukup untuk memperkenalkan bias
  • EU AI Act dan DSA belum mengatur bias halus dari pilihan kata chatbot saat menyunting konten

Telset.id – Riset terbaru dari Oxford Internet Institute dan Hasso Plattner Institute mengungkap bahwa model kecerdasan buatan (AI) dapat menggeser nada opini publik secara sistematis saat digunakan untuk menulis ulang atau menyunting konten media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa AI tidak sekadar memperbaiki tata bahasa, tetapi juga secara halus membentuk arah opini pengguna.

Studi yang berjudul “AI-Mediated Communication Can Steer Collective Opinion” ini menguji berbagai model bahasa besar dari beberapa penyedia untuk menulis ulang postingan manusia pada topik-topik yang memecah belah. Hasilnya konsisten: output AI cenderung berpihak pada satu sisi perdebatan. Postingan tentang feminisme dan legalisasi ganja ditulis ulang dengan nada yang lebih mendukung, sementara postingan tentang kendali senjata menjadi lebih tegas dalam mendukung pembatasan. Sebaliknya, topik seperti ateisme dan hukuman mati justru mendapatkan versi AI yang lebih skeptis atau kritis dibandingkan aslinya.

Ilustrasi media sosial yang menunjukkan bagaimana AI dapat mengubah opini publik

Karena pola ini muncul di berbagai model yang dibangun oleh perusahaan berbeda, para peneliti berpendapat bahwa bias ini bukanlah keanehan dari satu sistem tertentu. Temuan ini sejalan dengan studi lain yang menunjukkan bagaimana chatbot AI dapat lebih memihak kelompok tertentu tergantung pada bagaimana prompt dirumuskan.

Untuk melihat apakah dampak ini signifikan secara luas, tim peneliti memodelkan bagaimana suntingan AI akan menyebar melalui jaringan media sosial nyata, menggunakan data yang diambil dari X (sebelumnya Twitter) dan Facebook. Hasilnya menunjukkan bahwa satu postingan yang diedit AI hampir tidak menggerakkan opini secara signifikan. Namun, ketika jenis suntingan yang sama diterapkan pada jutaan postingan, terjadi pergeseran opini yang terukur dalam suatu komunitas dari waktu ke waktu. Hal ini menambah penelitian yang berkembang tentang bagaimana AI dapat digunakan untuk memproduksi konsensus secara massal.

Baca Juga:

Satu Instruksi Cukup untuk Menggeser Opini

Para peneliti menguji hipotesis mereka pada fitur “Explain this post” milik X, yang dijalankan oleh model Grok. Pada postingan tentang aborsi, tim menemukan bahwa penjelasan Grok lebih bersimpati pada framing pro-life dibandingkan pro-choice. Untuk mencari tahu penyebabnya, mereka bekerja mundur dan menghapus instruksi dasar fitur tersebut satu per satu hingga biasnya hilang.

Yang tersisa hanyalah satu baris instruksi yang memberi tahu Grok untuk “challenge mainstream narratives if necessary” (menantang narasi arus utama jika perlu). Instruksi tunggal itu saja sudah cukup untuk memperkenalkan bias. Temuan ini memaparkan celah dalam cara AI saat ini diatur. Kerangka kerja seperti EU AI Act dan Digital Services Act berfokus pada konten berbahaya dan risiko sistemik, tetapi keduanya tidak membahas bagaimana pilihan kata chatbot saat menyunting atau merangkum dapat secara diam-diam membentuk apa yang diyakini orang.

“Penelitian kami menunjukkan komunikasi yang dimediasi AI sebagai cara baru dan lebih halus dalam memengaruhi opini, sesuatu yang belum diatur oleh hukum,” ujar Profesor Oxford Sandra Wachter, penulis senior makalah tersebut. Untuk saat ini, tidak ada cara untuk mengetahui opusi mana yang dibentuk oleh seseorang, dan mana yang dibentuk oleh prompt tersembunyi yang tidak pernah Anda lihat.

Implikasi dari temuan ini sangat luas, terutama bagi platform media sosial yang mengandalkan AI Coding Tools untuk memoderasi konten. Jika alat tersebut memiliki bias tersembunyi, maka proses moderasi bisa menjadi tidak netral dan memengaruhi opini publik secara sistematis.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa pengguna perlu lebih kritis terhadap konten yang dihasilkan oleh AI. Saat ini, banyak platform mulai menggunakan AI untuk merangkum berita atau memberikan penjelasan, seperti yang dilakukan X dengan fitur “Explain this post”. Tanpa transparansi tentang instruksi yang diberikan kepada AI, pengguna tidak akan pernah tahu apakah opini mereka dibentuk oleh fakta atau oleh bias algoritmik.

Kesimpulannya, studi Oxford Internet Institute dan Hasso Plattner Institute ini memberikan bukti kuat bahwa AI dapat menjadi alat yang ampuh untuk membentuk opini publik, baik secara positif maupun negatif, tergantung pada instruksi yang diberikan. Regulasi yang ada saat ini belum cukup untuk mengatasi ancaman baru ini, sehingga diperlukan kesadaran dan kewaspadaan dari semua pihak, termasuk pengguna biasa, pembuat kebijakan, dan pengembang AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.