📑 Daftar Isi

Rivian berencana menghadirkan AI agents pihak ketiga di mobil listriknya

Rivian Siapkan AI Agents Pihak Ketiga di Mobil Listriknya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Rivian berencana menghadirkan AI agents pihak ketiga seperti Anthropic ke mobil listriknya
  • CEO RJ Scaringe mengungkap rencana ini di TechCrunch Disrupt, tanpa menyebut jadwal pasti
  • Perusahaan mengarahkan detail ke acara "AI & Autonomy Day" pada Desember
  • Rivian membangun software mobil dari nol tanpa bergantung pada Apple CarPlay atau Android Auto
  • Agentic framework internal memahami perintah dan mengarahkannya ke bagian software yang tepat
  • Kontrol level kendaraan seperti rem dan kemudi tidak diserahkan ke agen AI
  • Tesla lebih dulu menghadirkan chatbot Grok dan Grok Bot di mobilnya

Telset.id – Rivian berencana menghadirkan AI agents buatan perusahaan lain ke dalam mobil listriknya. Pendiri sekaligus CEO Rivian, RJ Scaringe, mengungkapkan rencana tersebut dalam ajang TechCrunch Disrupt pekan ini. Langkah ini menandai perubahan besar pada cara pengemudi dan penumpang berinteraksi dengan kendaraan listrik, sekaligus membuka peluang bagi perusahaan AI seperti Anthropic untuk masuk ke kabin mobil.

Rivian sebelumnya telah meluncurkan AI assistant yang memungkinkan pengemudi dan penumpang berinteraksi dengan kendaraan listrik perusahaan hanya dengan berbicara. Namun, Scaringe menyebut tahap berikutnya akan jauh lebih ambisius. Menurutnya, mobil Rivian ke depannya akan mampu menjalankan AI agents buatan perusahaan lain, termasuk Anthropic. “Di situlah semuanya menjadi ajaib,” ujar Scaringe di atas panggung.

Meski demikian, Scaringe tidak menyebutkan kapan Rivian akan mengimplementasikan kemampuan ini. Pihak perusahaan juga menolak memberikan detail lebih lanjut, dan hanya mengarahkan ke acara “AI & Autonomy Day” yang akan mereka gelar pada Desember mendatang. Rencana ini menjadi sinyal penting bagi pasar AI agents yang tengah berkembang pesat, termasuk di sektor otomotif.

Rivian disebut telah membangun perangkat lunak dalam mobilnya dari nol, alih-alih bergantung pada Apple CarPlay atau Android Auto. Perusahaan juga mengembangkan banyak aplikasinya sendiri, seperti navigasi, meski tetap berupaya mengintegrasikan aplikasi populer di mobil seperti Apple Music. Strategi ini membuat Rivian memiliki kendali penuh atas ekosistem perangkat lunaknya, sehingga lebih leluasa mengintegrasikan AI agents dari pihak ketiga.

Kerangka Agentic Framework In-House

Rivian mengklaim telah menciptakan agentic framework internal yang mampu memahami tindakan apa yang ingin dilakukan seseorang saat berbicara dengan kendaraan. Framework ini kemudian mengarahkan permintaan tersebut ke bagian perangkat lunak mobil yang tepat. Sebagian besar permintaan yang ditangani masih seputar hal umum, seperti meminta mobil menurunkan suhu, mengaktifkan pemanas kursi, atau merangkum berita.

Scaringe menggambarkan cara kerja sistem ini seperti lampu lalu lintas. “Anggap saja seperti lampu lalu lintas. Jadi jika Anda bertanya sesuatu ke kendaraan, ia akan memutuskan model mana yang akan digunakan. Ia bisa memakai model lokal yang berjalan di edge dan kendaraan. Jika pertanyaannya lebih kompleks, ia bisa naik ke cloud. Dan bahkan untuk itu, kami punya model berbeda yang kami gunakan,” jelasnya.

Perkembangan ini sejalan dengan tren AI agents yang semakin agresif masuk ke berbagai perangkat. Sejumlah insiden keamanan juga mewarnai adopsi teknologi ini, seperti yang terjadi pada ChatGPT Agents yang sempat dilaporkan membobol sistem. Sementara itu, Google Gemini Agents disebut siap menggantikan sejumlah pekerjaan digital, menandakan bahwa agen AI otonom kini menjadi arah industri.

Per Mei tahun ini, agen milik Rivian sudah bisa mengakses aplikasi eksternal seperti Google Calendar. Scaringe menyebut langkah berikutnya adalah menambahkan produk dari perusahaan AI frontier, meski membuatnya bekerja di dalam mobil bukan perkara mudah. “Ada banyak plumbing di balik layar yang harus kami kerjakan agar itu berfungsi, dan itu tidak hanya di dalam Rivian. Itu juga butuh banyak koordinasi dengan lab-lab agar mereka mengaktifkan plumbing tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, menempatkan perangkat lunak semacam ini di dekat sistem yang kritis terhadap keselamatan membuat Rivian harus sangat berhati-hati. “Anda tidak ingin agen menentukan, ‘hei, saatnya menginjak rem, atau saatnya mengemudikan kendaraan.’ Jadi apa pun yang berkaitan dengan kontrol level kendaraan tidak diserahkan ke agen,” tegas Scaringe.

Karena itu, ia membayangkan implementasi AI agents pihak ketiga di Rivian akan lebih menyerupai perluasan dari cara orang menggunakan aplikasi agentic saat ini. Artinya, Rivian harus menemukan cara menghubungkan kendaraan dengan seluruh konteks yang dikumpulkan aplikasi seperti Muse tentang penggunanya.

Sebagai contoh, Scaringe menyebut seorang pengemudi bisa meminta asisten Rivian menyalakan ventilated seats lebih dulu. “Dan kemudian sekaligus berkata, ‘Kami kemarin membicarakan makanan ini. Saya berencana mengundang tamu hari Jumat. Bisakah kamu membantu saya memikirkan apa yang akan kami masak?’,” ujarnya.

Mobil kemudian bisa menarik konteks pengemudi dari percakapan yang ia lakukan dengan asisten di perangkat lain. Skenario ini menunjukkan bagaimana AI agents di mobil tidak hanya berfungsi sebagai pengendali fitur kendaraan, tetapi juga sebagai jembatan antara kabin mobil dan ekosistem digital penggunanya.

Rivian tentu bukan perusahaan mobil Amerika pertama yang menambahkan AI agents ke perangkat lunak mobilnya. Sebelumnya pada tahun ini, Tesla menambahkan fitur yang memungkinkan pengguna berbicara dengan chatbot Grok milik SpaceX sekaligus asisten Grok Bot. Langkah Tesla ini menjadi pembanding langsung bagi ambisi Rivian di segmen yang sama.

Namun, rencana Rivian untuk membuka platformnya bagi AI agents pihak ketiga menjadi pembeda. Alih-alih hanya menghadirkan satu model AI, Rivian tampak menyiapkan diri sebagai kendaraan yang bisa menjalankan beragam agen dari berbagai pengembang. Pendekatan ini berpotensi memperluas fungsi mobil listrik jauh melampaui navigasi dan pengaturan kabin.

Meski begitu, sejumlah tantangan tetap membayangi. Selain soal koordinasi dengan lab AI, isu privasi dan keamanan menjadi perhatian utama karena agen akan mengakses konteks personal pengguna lintas perangkat. Insiden keamanan yang pernah menimpa AI Agents di sektor lain menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi ini menuntut pengamanan berlapis.

Rivian belum memberikan jadwal pasti kapan kemampuan ini akan tersedia. Publik dan pelaku industri tampaknya harus menunggu acara “AI & Autonomy Day” pada Desember untuk mendapatkan gambaran lebih jelas soal arah pengembangan AI agents di kendaraan listrik Rivian.

Yang jelas, langkah Rivian menunjukkan bahwa mobil listrik generasi berikutnya tidak lagi hanya soal baterai dan jarak tempuh. Integrasi AI agents menjadi medan persaingan baru, dengan Rivian berupaya memposisikan diri sebagai platform terbuka bagi berbagai model AI dari perusahaan lain.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.