Robot humanoid bertenaga chip Qualcomm roboh di panggung presentasi Computex

Robot Qualcomm Gagal di Panggung, Gemini Robotics 2 Jadi Sorotan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Robot bertenaga chip Qualcomm roboh di panggung saat presentasi platform referensi Dragonwing IQ10 di Computex, Taipei
  • Robot Apollo dari Apptronik dengan Gemini Robotics 2 DeepMind mampu menyelesaikan tugas baru tanpa pelatihan
  • Gemini Robotics 2 menawarkan kontrol seluruh tubuh terpusat dan koordinasi banyak robot
  • Qualcomm klarifikasi robot bukan produk mereka, penyebabnya gangguan komunikasi yang memicu safe-collapse
  • Kesenjangan kemampuan robot humanoid masih besar meski teknologi berkembang cepat
  • Gemini Robotics 2 masih tahap penelitian tapi berpotensi jadi standar baru pengendalian robot

Telset.id – Insiden robot bertenaga chip Qualcomm yang roboh di tengah presentasi menjadi kontras dengan kemampuan terbaru Gemini Robotics 2 dari DeepMind yang diusung robot Apollo. Peristiwa ini memperlihatkan kesenjangan besar antara kemampuan robot humanoid yang dipamerkan berbagai perusahaan dengan teknologi kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan para peneliti.

Seorang jurnalis teknologi yang menyaksikan kedua video tersebut menggambarkan perbedaan mencolok. Robot bertenaga SoC Qualcomm yang membawakan platform referensi robotics Qualcomm Dragonwing IQ10 di atas nampan tiba-tiba roboh di kaki presenter. Robot tersebut sempat mengangkat satu tangan seolah menyerah sebelum petugas menutupinya dengan kain.

Sementara itu, di sisi lain, robot Apollo dari Apptronik yang menjalankan Gemini Robotics 2 menunjukkan kemampuan luar biasa. Sistem kecerdasan buatan baru dari DeepMind ini memungkinkan robot menyelesaikan berbagai tugas mirip manusia secara mandiri. Video demonstrasi yang dirilis DeepMind memperlihatkan robot Apollo mengikat kantong sampah dengan kedua tangannya.

Kejadian robot Qualcomm roboh tersebut menjadi perbincangan hangat di komunitas teknologi. Belum jelas apa penyebab pasti robot itu gagal berfungsi. Kemungkinan besar terjadi kesalahan internal pada sistem, atau bisa juga masalah baterai yang habis sebelum presentasi dimulai.

Gemini Robotics 2 menawarkan pendekatan berbeda dalam pengendalian robot humanoid. Alih-alih menggunakan sensor terpisah untuk membuat keputusan tentang gerakan dan sentuhan, sistem ini menjanjikan kontrol seluruh tubuh yang terpusat. DeepMind menyatakan teknologi ini “menghadirkan kecerdasan seluruh tubuh untuk humanoid, memungkinkan ketangkasan tingkat lanjut, dan dapat mengoordinasikan banyak robot untuk bekerja sama di ruang bersama.”

Baca Juga:

Perbedaan kemampuan kedua robot ini menunjukkan tantangan terbesar pengembangan robot humanoid, yaitu kompleksitas dunia nyata. Lingkungan tempat tinggal dan bekerja manusia tidak dirancang khusus untuk membantu robot menghindari kesalahan. Sebaliknya, lingkungan tersebut merupakan ruang terbuka di mana manusia terus belajar dan beradaptasi.

DeepMind berharap Gemini Robotics 2 dapat menjadi solusi atas tantangan tersebut. Mereka memandang teknologi ini sebagai “otak yang mengendalikan seluruh tubuh humanoid” yang mampu beradaptasi dan belajar menavigasi lingkungan melalui sensor, visi, dan subrutin.

Contoh robot Apollo yang mengikat kantong sampah menunjukkan kemajuan signifikan. Tugas sederhana bagi manusia ini menjadi terobosan bagi robot karena mereka belum pernah dilatih untuk melakukan tugas tersebut sebelumnya. Gemini Robotics 2 memungkinkan robot menyelesaikan tugas baru tanpa pelatihan khusus.

robot fail

Sementara itu, robot bertenaga chip Qualcomm hanya mampu berjalan singkat sebelum akhirnya tergeletak di lantai. Perbandingan ini menggambarkan kondisi aktual teknologi robot humanoid saat ini, bukan sekadar janji-janji yang disampaikan perusahaan robot humanoid lain seperti Tesla, Neo, dan Figure.

Setelah artikel tersebut dipublikasikan, Qualcomm memberikan klarifikasi bahwa robot tersebut bukan produk humanoid buatan mereka, meskipun menggunakan chip buatan perusahaan. Qualcomm menjelaskan insiden tersebut terjadi saat Computex di Taipei.

“Demo langsung melibatkan risiko. Di Computex di Taipei, gangguan komunikasi singkat memicu kesalahan pada prototipe humanoid dan memicu penghentian terkontrol. Robot melakukan urutan ‘runtuh aman’ yang dirancang, menurunkan diri ke lutut untuk melindungi lingkungan di sekitarnya. Sistem keamanan bekerja sesuai rancangan. Insiden ini juga memberikan data dunia nyata yang berharga untuk membantu memperkuat keandalan sistem dan mempercepat pengembangan robotika yang lebih aman dan tangguh,” demikian pernyataan Qualcomm.

Genesis AI robots

Gemini Robotics 2 masih dalam tahap penelitian. Namun teknologi ini menunjukkan arah pengembangan robot yang lebih berguna dan berpotensi lebih aman untuk hidup dan bekerja bersama manusia. Robot-robot ini diharapkan tidak membutuhkan pelatihan dan pengawasan terus-menerus.

Jurnalis yang telah meliput robotika selama seperempat abad tersebut mengungkapkan kelelahan terhadap perusahaan-perusahaan yang menjanjikan robot di rumah melakukan pekerjaan manusia tahun ini, atau bahkan dalam lima tahun ke depan. Menurutnya, mayoritas robot humanoid saat ini masih jauh dari kemampuan yang ditunjukkan Apollo dan DeepMind.

Kemampuan Gemini Robotics 2 dalam mengoordinasikan banyak robot sekaligus juga menjadi nilai tambah. Teknologi ini memungkinkan robot bekerja sama di ruang bersama, membuka peluang penggunaan di berbagai sektor industri dan layanan.

Insiden robot Qualcomm dan keberhasilan Apollo menunjukkan bahwa pengembangan robot humanoid masih menghadapi jalan panjang. Meskipun terjadi akselerasi perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, masih banyak tantangan yang harus diatasi sebelum robot humanoid benar-benar dapat diandalkan di lingkungan manusia.

Perusahaan robot humanoid lain seperti Tesla, Neo, dan Figure mungkin akan mempercepat pengembangan mereka jika mengadopsi sistem seperti Gemini Robotics 2. Teknologi ini berpotensi menjadi standar baru dalam pengendalian robot humanoid.

Ke depan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan seperti Gemini Robotics 2 akan menjadi kunci dalam mewujudkan robot humanoid yang benar-benar berguna. Kemampuan belajar dan beradaptasi secara mandiri menjadi pembeda utama antara robot yang sekadar menjalankan program dengan robot yang mampu menghadapi situasi tak terduga.

Robot Apollo yang mampu mengikat kantong sampah tanpa pelatihan khusus menunjukkan potensi besar teknologi ini. Kemampuan semacam ini akan sangat berguna dalam berbagai aplikasi, mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga operasi industri.

Namun demikian, insiden robot Qualcomm yang roboh menjadi pengingat bahwa teknologi robot humanoid masih jauh dari sempurna. Dibutuhkan waktu dan pengembangan lebih lanjut sebelum robot humanoid dapat diandalkan sepenuhnya di lingkungan yang kompleks dan dinamis seperti dunia manusia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.