📑 Daftar Isi

Ilustrasi kecerdasan buatan AI sebagai senjata serangan siber

Rusia Serang Inggris Pakai AI, Bos Intelijen Beri Peringatan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Kepala GCHQ Inggris Anne Keast-Butler peringatkan serangan AI Rusia meningkat
  • Rusia terus lakukan aktivitas hibrida terhadap Inggris dan negara Eropa
  • AI disebut sebagai kekuatan tak terhentikan yang dipersenjatai seperti perang tradisional
  • Hampir 500.000 tentara Rusia tewas sejak invasi Ukraina
  • GCHQ sedang kembangkan agentic AI sebagai perisai siber nasional
  • China dan Rusia investasi besar untuk AI di bumi dan luar angkasa

Telset.id – Kepala badan intelijen komunikasi Inggris, GCHQ, Anne Keast-Butler, memperingatkan bahwa Rusia terus meningkatkan serangan siber dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) terhadap Inggris dan sekutunya. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya aktivitas hibrida Rusia yang disebutnya berada di ruang antara perdamaian dan perang.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari Associated Press pada Senin (1/6/2026), Keast-Butler mengatakan bahwa kecerdasan buatan adalah kekuatan tak terhentikan yang kini dipersenjatai dengan cara-cara yang skalanya nyaris menyerupai peperangan tradisional. Ia menekankan bahwa negara-negara Barat berisiko kalah dalam konflik siber melawan Rusia jika tidak meningkatkan urgensi keamanan siber.

“Saya menghabiskan tiga dekade bekerja di bidang keamanan nasional dan risiko salah perhitungan saat ini adalah yang tertinggi yang pernah saya lihat,” ujar Keast-Butler. Ia menambahkan bahwa perusahaan teknologi merilis inovasi AI dengan kecepatan luar biasa yang membawa konsekuensi tak terbayangkan.

Ancaman Aktivitas Hibrida Rusia

Keast-Butler secara khusus menyoroti Rusia sebagai ancaman utama. Ia menuduh Moskow tanpa henti menargetkan infrastruktur kritis, demokrasi, rantai pasok, dan kepercayaan publik. Selain itu, Rusia juga disebut mencuri teknologi serta merencanakan sabotase dan pembunuhan.

“Rusia terus meningkatkan aktivitas hibrida harian terhadap Inggris dan Eropa, membentang dari dasar laut hingga ruang siber,” ungkapnya. Fokus utama Inggris saat ini adalah mengungkap motif dan kemampuan bawah air Rusia dalam menarget kabel telekomunikasi dan pipa energi bawah laut.

Di saat yang sama, data intelijen menunjukkan hampir setengah juta tentara Rusia tewas sejak invasi ke Ukraina. Meski mengalami kemunduran di medan tempur, Rusia justru meningkatkan aktivitas permusuhannya di zona abu-abu yang berada persis di bawah ambang peperangan terbuka.

Beberapa bulan terakhir, pihak berwenang di berbagai negara termasuk Swedia, Polandia, Denmark, dan Norwegia, menuding hacker yang terafiliasi Rusia menargetkan infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan bendungan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ancaman siber Rusia tidak hanya menyasar Inggris, tetapi juga negara-negara Eropa lainnya.

AI sebagai Ancaman dan Peluang

Keast-Butler menegaskan bahwa kecerdasan buatan adalah kekuatan yang membawa peluang besar sekaligus berbagai risiko. “AI adalah kekuatan tak terhentikan dan membawa peluang besar. Namun, ia juga merupakan kekuatan yang membawa berbagai risiko,” sebutnya.

Kemajuan pesat AI disebut menunjukkan jendela waktu makin menyempit bagi Inggris dan sekutunya untuk bisa selangkah lebih maju dari negara-negara seperti China, yang kini menjadi adikuasa sains dan teknologi. Ancaman juga meluas hingga ke luar angkasa, di mana ribuan satelit diluncurkan beberapa tahun terakhir.

“Baik China maupun Rusia berinvestasi besar-besaran untuk menyokong ambisi perdamaian maupun perang mereka,” cetus Keast-Butler. Pernyataan ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi AI tidak hanya terjadi di bumi, tetapi juga di luar angkasa.

GCHQ saat ini sedang menyusun rencana pemanfaatan agentic AI mutakhir sebagai perisai siber nasional. Proyek ini diharapkan dapat melindungi infrastruktur dan bisnis Inggris dari serangan siber, meskipun diperkirakan baru akan rampung beberapa tahun ke depan.

Sebelumnya, Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, Richard Horne, juga memperingatkan bahwa negara-negara seperti Rusia, China, dan Iran merupakan dalang di balik serangan siber paling serius yang dihadapi Inggris. Peringatan berantai ini menunjukkan bahwa ancaman siber semakin nyata dan memerlukan respons yang lebih serius.

Dalam konteks global, penggunaan AI untuk serangan siber bukanlah hal baru. Beberapa negara telah memanfaatkan teknologi ini untuk berbagai tujuan, termasuk intelijen digital yang dapat menyasar warga biasa. Bahkan, akun media sosial pun tidak luput dari pengintaian oleh perusahaan intelijen.

Pidato Keast-Butler ini merupakan yang terbaru dari serangkaian peringatan ahli intelijen bahwa Rusia meningkatkan aktivitas permusuhannya di zona abu-abu. Batas yang berada persis di bawah ambang peperangan terbuka ini menjadi medan pertempuran baru yang sulit dideteksi dan direspons secara konvensional.

Implikasi dari peringatan ini sangat luas. Jika negara-negara Barat tidak segera meningkatkan kesiapan siber mereka, risiko kerugian besar akibat serangan AI Rusia akan semakin tinggi. Keamanan infrastruktur kritis, demokrasi, dan kepercayaan publik menjadi taruhan utama dalam pertempuran siber ini.

Komentar

Belum ada komentar.