📑 Daftar Isi

Sam Altman CEO OpenAI berbicara dalam wawancara soal dampak buruk AI

Sam Altman: Dunia Harus Terima Dampak Buruk AI Demi Manfaatnya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO OpenAI Sam Altman sebut dunia harus terima dampak buruk AI demi manfaatnya
  • Altman nilai manfaat AI jauh lebih besar dibanding efek buruknya
  • MIT's AI Risk Initiative catat 18 dari 24 risiko berpotensi katastrofik
  • Altman tak sepenuhnya percaya risiko katastrofik dan hilang kendali AI
  • Penulis Tom's Guide menolak menerima risiko AI tanpa pengawasan

Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman menyatakan dunia harus menerima sejumlah dampak buruk dari kecerdasan buatan (AI) demi mendapatkan manfaat besar dari teknologi ini. Pernyataan tersebut disampaikan Altman dalam wawancara dengan Decoded by POLITICO, dan langsung memicu perdebatan tentang seberapa jauh risiko AI boleh ditoleransi.

Pernyataan Altman menjadi sorotan karena datang dari pemimpin salah satu perusahaan AI terbesar di dunia, di tengah kekhawatiran yang terus menguat soal keamanan AI. Isu ini menyentuh langsung pengguna ChatGPT, Claude, Gemini, dan berbagai model AI lain yang kini dipakai luas untuk bekerja maupun aktivitas harian.

Kutipan lengkap Sam Altman adalah: “I think there’s a lot of daylight. We believe that the world should accept some bad things happening for the benefits of this technology and people having the agency.” Menurutnya, dengan pendekatan regulasi AI yang lebih ringan, “people will do tremendously — orders of magnitude more — good stuff than bad stuff.”

Altman juga menegaskan bahwa AI adalah alat yang kuat. Baik digunakan lewat ChatGPT terbaru, Claude, Gemini, atau model lainnya, pengguna bisa menyelesaikan banyak hal dengan AI. Namun ia tidak menampik bahwa teknologi ini membawa banyak kekhawatiran, termasuk kemungkinan AI keluar kendali dan masalah lingkungan akibat pusat data.

Risiko Katastrofik dan Perdebatan Regulasi

Pernyataan Altman berhadapan langsung dengan temuan MIT’s AI Risk Initiative. Menurut inisiatif tersebut, “18 of 24 risks have more than a 10% chance of causing catastrophic outcomes.” Risiko-risiko itu “could include more than one million deaths, more than $100 billion in financial losses, or other harms.”

Altman sendiri menyatakan tidak sepenuhnya menerima “the really catastrophic risks,” termasuk potensi “a serious loss of control to AI.” Ia juga menyoroti pandangan yang menginginkan struktur AI lebih terpusat untuk mencegah hal buruk terjadi.

“I disagree, but I understand the perspective of people who are like, ‘This technology is going to get so powerful, and it’s so dangerous, that a single lab in San Francisco should have it and make sure nothing bad happens, and kind of figure out how to dole out the benefits,” ujar Altman.

Isu AI keluar kendali bukan sekadar wacana. Sejumlah pemberitaan yang dihimpun Tom’s Guide menyoroti topik serupa, mulai dari analisis soal apa arti “rogue AI” dalam kasus terbaru, peringatan eks peneliti Anthropic, hingga rencana OpenAI dan Anthropic untuk mencegah AI keluar kendali. Bahkan ada laporan soal serangan rogue AI yang sempat mengganggu layanan Wikipedia.

Perdebatan ini juga menyentuh sisi bisnis dan industri. Nama OpenAI belakangan muncul dalam berbagai perkembangan, termasuk saat ICANN menerima 1.615 aplikasi domain baru dengan Meta dan OpenAI menguasai TLD AI, serta ketika OpenAI merilis ratusan solusi matematika yang memicu protes matematikawan. Altman pun sempat menjadi sorotan dalam kontroversi lain, seperti ketika Publicis dan OpenAI menghentikan wawancara Sam Altman soal kematian pengguna ChatGPT.

Sam Altman of OpenAI

Di sisi lain, penulis artikel Tom’s Guide, Dave LeClair, mengaku sulit menerima begitu saja pernyataan Altman. Sebagai penulis yang mata pencahariannya terus terancam diambil AI, ia menilai sikap tersebut lebih mudah diucapkan oleh CEO salah satu perusahaan AI terbesar di dunia. Ia juga menegaskan tidak bersedia menerima satu pandangan pribadi tentang “catastrophic risks” sebagai fakta.

LeClair menambahkan, dalam dunia yang sempurna, semua orang akan bekerja lebih sedikit karena AI mengambil alih tugas membosankan dan berulang, sementara harga barang turun signifikan berkat efisiensi. Namun karena dunia tidak sempurna, ia tidak bersedia menerima begitu saja “bad things happening” tanpa pengawasan.

Terlepas dari perdebatan itu, pernyataan Altman menegaskan satu hal: OpenAI memilih jalur regulasi yang lebih ringan dengan keyakinan bahwa manfaat AI akan jauh melampaui dampak buruknya. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah kita harus menghadapi risiko katastrofik terkait AI atau tidak.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.