Telset.id – CEO OpenAI, Sam Altman, menyebut kecerdasan buatan (AI) di masa depan akan menjadi utilitas publik seperti listrik atau air, di mana pengguna membayar berdasarkan pemakaian. Pernyataan ini langsung memicu perdebatan sengit di media sosial dan kalangan industri teknologi.
Dalam sebuah acara di BlackRock, Washington D.C., Altman menyampaikan visinya secara gamblang. “Kami melihat masa depan di mana kecerdasan adalah sebuah utilitas, seperti listrik atau air, dan orang-orang membelinya dari kami berdasarkan meteran,” ujar Altman. Komentar ini tidak hanya menyoroti potensi AI, tetapi juga memunculkan pertanyaan kritis tentang siapa yang akan mengendalikan teknologi tersebut di masa depan.
Altman menggambarkan dunia di mana AI menjadi infrastruktur fundamental yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Konsumen dan bisnis cukup “terhubung” ke dalamnya, sama seperti mereka bergantung pada listrik, Wi-Fi, atau air bersih.
Mengapa Perbandingan Utilitas Masuk Akal?
Dari perspektif bisnis, analogi Altman sebenarnya cukup logis. Kebanyakan orang tidak menghasilkan listrik mereka sendiri. Mereka terhubung ke jaringan listrik terpusat dan membayar berdasarkan penggunaan. Semakin hari, AI bekerja dengan cara yang sama.
Ribuan perusahaan seperti OpenAI, Google, Microsoft, dan Anthropic sudah mengandalkan API untuk menyalakan chatbot, alat pencarian, asisten coding, dan aplikasi produktivitas. Dalam banyak hal, pengembang tidak lagi “membangun kecerdasan” — mereka memanfaatkan infrastruktur kecerdasan yang sudah ada.
Itulah mengapa sebagian kalangan di Silicon Valley percaya bahwa AI pada akhirnya akan berfungsi lebih mirip komputasi awan atau listrik. Pada dasarnya, selalu tersedia, selalu berjalan di latar belakang, dan dikenakan biaya berdasarkan penggunaan. Altman memperkuat gagasan ini dengan merujuk pada frasa energi nuklir lama “too cheap to meter”, yang menyiratkan tujuan jangka panjang OpenAI adalah membuat kecerdasan berlimpah dan mudah diakses.
Mengapa Kritik Menganggapnya Meresahkan
Reaksi negatif terhadap pernyataan Altman mungkin tidak terlalu berkaitan dengan teknologinya, melainkan lebih pada cara penyampaiannya. Listrik menyalakan mesin, tetapi kecerdasan menyalakan pengambilan keputusan manusia, kreativitas, pendidikan, dan produktivitas itu sendiri. Anda tidak bisa memberi harga pada kecerdasan manusia yang sesungguhnya.
Itulah sebabnya para kritikus berpendapat bahwa memperlakukan kognisi sebagai layanan korporat yang diukur menimbulkan pertanyaan tidak nyaman: Apa yang terjadi jika segelintir perusahaan mengendalikan akses ke penalaran tingkat lanjut? Mungkinkah AI premium menciptakan kesenjangan antara mereka yang mampu membayar “infrastruktur kognitif” yang lebih baik dan mereka yang tidak? Apa yang terjadi ketika sekolah, tempat kerja, dan pemerintah menjadi tergantung pada sistem yang dimiliki oleh perusahaan swasta?
Sepintas komentar di media sosial X menunjukkan bahwa beberapa pengguna menganggap pernyataan Altman terdengar seperti cetak biru awal untuk kekuasaan kognitif yang terpusat. Kata-kata tersebut juga menusuk karena banyak model AI dilatih dengan data internet publik dalam jumlah besar — seperti buku, artikel, forum, dan karya kreatif — yang dibuat oleh jutaan orang yang tidak pernah diberi kompensasi secara langsung. Hal ini memicu kritik bahwa perusahaan teknologi kini berusaha memonetisasi pengetahuan kolektif manusia dalam skala industri.
Ironi lain juga muncul: AI sudah berperilaku seperti utilitas dalam satu hal kritis, yaitu mengonsumsi sumber daya fisik yang sangat besar. Pusat data masif yang menyalakan sistem AI modern membutuhkan listrik, air untuk pendinginan, lahan, chip, dan infrastruktur jaringan. Hal ini menjadi semakin kontroversial karena komunitas di seluruh Amerika Serikat menolak ekspansi pusat data yang cepat.
Aktivis lingkungan Erin Brockovich baru-baru ini meluncurkan peta pusat data publik yang bertujuan melacak pertumbuhan infrastruktur AI dan dampaknya terhadap komunitas lokal. Hal ini menyoroti kekhawatiran yang berkembang seputar penggunaan energi, tekanan air, dan efek lingkungan. Dalam kata lain, perbandingan dengan listrik mungkin lebih literal daripada yang disadari banyak orang.
Baca Juga:
Yang membuat pernyataan Altman begitu penting adalah bagaimana pernyataan itu mengungkap cara para pemimpin AI memandang teknologi mereka. Mereka melihatnya sebagai infrastruktur skala peradaban. Hal ini membuat persaingan menjadi tentang menjadi lapisan infrastruktur untuk kecerdasan itu sendiri. Dan apa yang membuat masa depan itu terdengar menarik atau sangat tergantung pada seberapa besar kepercayaan yang diberikan orang kepada perusahaan yang membangunnya.
Implikasinya jelas: jika AI benar-benar menjadi utilitas seperti listrik, maka akses terhadap kecerdasan tingkat lanjut tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan dasar. Pertanyaannya, siapa yang akan mengendalikan keran meterannya? Dan apakah kita siap untuk masa depan di mana kecerdasan bukan lagi bawaan lahir, melainkan langganan bulanan?





Komentar
Belum ada komentar.