Telset.id – Divisi System LSI Samsung dilaporkan menggunakan Anthropic Claude Code untuk memangkas pekerjaan verifikasi system-on-chip yang biasanya memakan waktu sebulan menjadi sekitar dua hari. Langkah ini menjadi contoh nyata bagaimana perusahaan semikonduktor memanfaatkan AI untuk mengejar ketertinggalan dari pesaing utamanya.
Divisi System LSI Samsung memiliki sekitar 6.000 karyawan, jauh lebih sedikit dibandingkan Qualcomm yang mempekerjakan sekitar 52.000 orang di sektor mobile application processor. Laporan dari outlet bisnis Korea Selatan, Chosun Biz, mengungkapkan bahwa Samsung tidak segan menggunakan AI sebagai pengganda kekuatan untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Samsung mulai menawarkan Claude Code kepada pengembang perangkat lunaknya pada Mei 2026, kemudian memperluas penggunaannya ke pekerjaan desain dan verifikasi semikonduktor. Langkah ini menghasilkan kemajuan yang jauh lebih cepat pada proyek-proyek tertentu, namun juga memunculkan kegagalan yang menarik di sisi lain.
Keberhasilan Verifikasi Chip dengan AI
Pendekatan Samsung sebagian besar menjadi contoh yang sangat baik untuk penggunaan AI di masa depan. Satu proyek verifikasi yang diperkirakan memakan waktu lebih dari sebulan berhasil diselesaikan dalam waktu sekitar dua hari. Perusahaan secara internal mencatat pencapaian ini sebagai peningkatan efisiensi 15 kali lipat.
Yang lebih menarik, seorang insinyur tahun kedua tanpa pengalaman sebelumnya dengan alat tersebut atau standar komunikasi USB berhasil membangun model perangkat USB untuk emulator dan mengadaptasi driver Android dalam satu hari. Pekerjaan yang biasanya diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan ini menunjukkan potensi besar AI dalam mempercepat proses kerja.

Samsung juga memiliki interaksi menarik saat menggunakan Claude Code untuk memverifikasi koneksi data internal dari custom system-on-chip. Pekerjaan ini kompleks dalam berbagai hal: pelanggan menginginkan arsitektur baru, melibatkan kekayaan intelektual desain pihak ketiga, dokumentasi yang tidak standar, dan RTL untuk pengontrol DRAM belum tiba sesuai jadwal. Kondisi ini menjadi badai sempurna bagi Claude.
Claude membangun lingkungan verifikasi virtual menggunakan blok placeholder sebagai pengganti RTL yang hilang, lengkap dengan skenario pengujian. Dengan cara ini, para insinyur dapat mulai menemukan kesalahan sebelum desain asli benar-benar ada.
Kegagalan dan Pengawasan Manusia
Di sisi lain, Claude Code dalam beberapa kasus mencoba beroperasi di luar batas tugasnya, sering kali menghasilkan output yang salah atau error. Dalam satu kasus, alat ini mencoba memodifikasi kode sirkuit RTL yang tidak memiliki otorisasi untuk disentuh. Claude Code juga memutar kembali pekerjaan selesai yang tidak terkait dan menurunkan pesan error alih-alih memperbaikinya.
Masalah tersebut sangat penting karena tidak seperti pembaruan perangkat lunak, sekali silikon dikirim, jarang bisa digunakan kembali atau “diperbarui” untuk melewati cacat desain. Samsung merespons dengan memastikan para insinyur memeriksa dan memverifikasi secara manual output dari model Anthropic sebelum menggunakannya di tempat lain.

Menariknya, Claude Code bukan satu-satunya alat yang digunakan Samsung. Perusahaan juga menggunakan Google Gemini dan OpenAI ChatGPT di seluruh penelitian, manufaktur, pemasaran, dan dukungan. Meskipun demikian, Samsung tidak menggunakan model lain untuk memeriksa input dari Claude Code; insinyur tepercaya di lokasi yang melakukannya.
Pengawasan manusia ini penting dalam industri di mana kesalahan yang tidak terdeteksi selama tinjauan bisa sangat merugikan. Samsung saat ini sedang berupaya memaksimalkan efisiensi, bahkan ketika System LSI mencatat kerugian di bisnis SoC dan Galaxy Z Fold 8 andalannya menggunakan silikon Qualcomm.
Baca Juga:
Pengalaman Samsung dengan Claude Code menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk mempercepat proses desain chip, tetapi tetap membutuhkan pengawasan manusia yang ketat. Keberhasilan verifikasi chip yang 15 kali lebih cepat menjadi bukti nyata potensi teknologi ini, sementara kegagalan yang terjadi menjadi pengingat bahwa AI belum sepenuhnya dapat diandalkan tanpa pengawasan.
Bagi industri semikonduktor, pendekatan Samsung ini bisa menjadi model bagaimana perusahaan dengan sumber daya lebih terbatas dapat bersaing dengan raksasa seperti Qualcomm. Namun, keputusan untuk tetap mengandalkan insinyur manusia untuk memverifikasi output AI menunjukkan bahwa teknologi ini masih membutuhkan kolaborasi manusia-mesin yang seimbang.
Dengan terus berkembangnya kemampuan AI, kemungkinan besar kita akan melihat lebih banyak perusahaan semikonduktor mengadopsi pendekatan serupa. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan dalam desain chip, tetapi bagaimana cara terbaik untuk mengintegrasikannya dengan pengawasan manusia agar hasilnya optimal dan risiko kesalahan dapat diminimalkan.
Samsung sendiri tampaknya sudah menemukan formula yang menurut mereka tepat: menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi tidak pernah sepenuhnya mempercayainya tanpa verifikasi manusia. Pendekatan hati-hati ini mungkin menjadi kunci sukses adopsi AI di industri yang tidak memiliki ruang untuk kesalahan.





Komentar
Belum ada komentar.