Martin Scorsese berkolaborasi dengan startup AI Black Forest Labs untuk storyboard film

Scorsese Dukung AI Storyboard, Industri Film Bereaksi Keras

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Sutradara Martin Scorsese mengumumkan kolaborasi dengan startup AI Black Forest Labs untuk storyboard film
  • Scorsese bergabung sebagai mitra dan penasihat sejak tahun lalu
  • Komunitas film bereaksi keras, menganggapnya pengkhianatan terhadap kreativitas
  • Scorsese hanya menggunakan AI untuk storyboard, mengklaim membantu efisiensi tanpa mengorbankan kualitas
  • Banyak seniman khawatir AI akan mengancam profesi storyboard artist
  • Kontroversi ini terjadi di tengah perdebatan peran AI dalam industri kreatif

Telset.id – Sutradara legendaris Martin Scorsese baru saja mengumumkan kolaborasinya dengan startup AI bernama Black Forest Labs, memicu gelombang kekecewaan di komunitas film. Dalam pernyataan resmi kepada The New York Times, Scorsese mengaku telah menggunakan teknologi AI untuk membuat storyboard dalam proses perencanaan film terbarunya.

Scorsese, yang dikenal melalui karya-karya ikonik seperti “GoodFellas” dan “Mean Streets”, bergabung sebagai mitra dan penasihat untuk Black Forest Labs tahun lalu. Kolaborasi ini diumumkan bersamaan dengan perilisan video promosi yang menampilkan sutradara berusia 83 tahun itu menggunakan alat generasi gambar AI untuk storyboarding—proses memvisualisasikan adegan melalui ilustrasi sebelum syuting.

Reaksi dari komunitas film sangat cepat dan keras. Banyak penggemar dan kritikus film merasa bahwa dukungan dari seorang seniman yang sangat dihormati seperti Scorsese terhadap teknologi AI adalah sebuah pengkhianatan terhadap esensi kreativitas. Seorang pengguna media sosial menulis, “Tidak bisa cukup ditekankan betapa mengecewakannya Martin Scorsese bekerja sama dengan perusahaan AI dan menodai namanya di akhir hidup dan karirnya.”

Kritik lainnya menyoroti dampak langsung terhadap profesi seniman storyboard. “Membuat seniman storyboard kehilangan pekerjaan itu buruk dan seharusnya tidak menjadi pendapat yang kontroversial,” tulis seorang pengguna lainnya. Bahkan jurnalis film Richard Newby bereaksi dengan gamblang, “Saya merasa seperti akan muntah,” cuitnya di Twitter.

Kekecewaan ini sangat terasa karena Scorsese bukanlah sutradara biasa. Ia adalah salah satu figur paling dihormati di industri film, yang mempelopori gerakan yang melepas belenggu sistem studio kaku dan melahirkan Renaisans perfilman Hollywood. Gaya sinematiknya yang khas, dengan penghormatan mendalam pada sineas asing seperti Akira Kurosawa serta duo Michael Powell dan Emeric Pressburger, serta keberaniannya mengeksplorasi isu-isu sosial, menjadikannya ikon kreativitas sejati.

Di luar perannya di belakang kamera, Scorsese juga dikenal sebagai pendukung penting film-film internasional yang terabaikan dan pelestari sejarah film melalui Film Foundation-nya. Oleh karena itu, dukungannya terhadap AI dianggap sebagai kemenangan besar bagi industri teknologi, tetapi pukulan telak bagi para seniman yang melihat AI sebagai ancaman bagi mata pencaharian dan kreativitas itu sendiri.

Namun, perlu dicatat bahwa Scorsese secara eksplisit membatasi cara ia memuji AI. Dalam video promosi dan pernyataannya kepada NYT, ia menekankan bahwa ia hanya menggunakan AI untuk storyboard. Ia mengklaim bahwa teknologi ini memungkinkan timnya “bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas atau keahlian” selama tahap pra-produksi.

“Selama 70 tahun, saya telah membuat storyboard sendiri,” kata Scorsese kepada NYT. “Selalu ada masalah bagaimana Anda mengomunikasikan apa yang Anda lihat di kepala Anda kepada para pemain dan kru. Ada beberapa hal yang harus Anda lihat dan rasakan.”

Ia menambahkan, “Sekarang dengan alat ini, saya dapat membagikan apa yang saya visualisasikan dengan lebih jelas dan efisien kepada tim kreatif saya—production designer, art designer, dan sinematografer.”

Meskipun penjelasan ini mungkin masuk akal, banyak yang melihat pernyataan Scorsese lebih mirip siaran pers perusahaan daripada wawancara jujur yang biasa ia berikan. Seorang pengembang game indie, yang mengaku terinspirasi oleh storyboard Scorsese untuk film “Taxi Driver”, mengungkapkan kekecewaannya.

“Storyboard Scorsese untuk Taxi Driver adalah inspirasi besar bagi saya, seorang seniman miskin, untuk merasa percaya diri menggambar ide untuk dibagikan kepada ilustrator kami,” tulisnya. “Saya tidak mengerti mengapa begitu banyak generasi tua seniman tergoda oleh omong kosong ini ketika mereka sudah memiliki segalanya.”

Kontroversi ini terjadi di tengah perdebatan yang lebih luas tentang peran AI dalam industri kreatif. Sebelumnya, OpenAI juga mengalami kegagalan dengan upaya mereka membuat film bergaya Pixar yang berantakan, menunjukkan bahwa jalan AI di dunia perfilman masih penuh tantangan.

Fotografi sutradara Martin Scorsese di depan latar belakang warna kuning dan merah.

Keputusan Scorsese untuk mendukung AI menimbulkan pertanyaan mendasar tentang masa depan kreativitas di era digital. Apakah AI akan menjadi alat yang memperkaya proses kreatif, atau justru mengancam esensi seni itu sendiri? Yang jelas, dukungan dari figur sekelas Scorsese memberikan legitimasi besar bagi teknologi AI di industri film, meskipun dengan konsekuensi yang pahit bagi para seniman tradisional.

Bagi para penggemar film yang ingin mengikuti perkembangan terkini, Fitur Terbaru aplikasi Halide Mark III yang menghadirkan editor dan filter film bawaan juga patut diperhatikan. Sementara itu, bagi yang tertarik dengan Inovasi Digital di industri kreatif, Google Photos juga telah meluncurkan fitur lemari digital ala film Clueless.

Implikasi dari dukungan Scorsese terhadap AI ini akan terus bergema di industri film. Pertanyaan tentang bagaimana teknologi ini akan digunakan dan diatur, serta bagaimana melindungi hak-hak seniman, masih perlu dijawab. Yang pasti, kolaborasi antara seniman visioner dan teknologi disruptif ini akan menjadi studi kasus yang menarik dalam sejarah perfilman.

Komentar

Belum ada komentar.