Starbucks Hentikan AI untuk Inventaris setelah Sembilan Bulan, Begini Alasanya!

Starbucks Hentikan AI untuk Inventaris setelah Sembilan Bulan, Begini Alasanya!

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Starbucks memutuskan untuk menghentikan program kecerdasan buatan (AI) untuk manajemen inventaris setelah hanya berjalan sembilan bulan. CEO Brian Niccol melaporkan kepada staf bahwa alat “Automated Counting” yang diluncurkan pada September 2025 di gerai-gerai Amerika Utara akan dihapuskan karena sering salah menghitung dan salah mengelompokkan barang.

Alat yang dikembangkan bersama NomadGo ini sejatinya dirancang untuk mempercepat pelacakan inventaris. Karyawan, yang disebut Starbucks sebagai “partners”, cukup menggunakan perangkat genggam untuk memindai barang-barang di rak. Ide di balik teknologi ini adalah mengotomatiskan tugas membosankan menghitung susu dan sirup, meningkatkan akurasi, serta mengoptimalkan rantai pasokan.

Dalam blog yang telah dihapus pada September 2025, CTO Deb Hall Lefevre mempromosikan alat ini dengan klaim bahwa dengan pemindaian cepat menggunakan tablet genggam, para mitra dapat langsung melihat stok yang tersedia. Hal ini memastikan cold foam, oat milk, atau caramel drizzle selalu tersedia, sehingga pelanggan dapat menikmati minuman sesuai keinginan mereka setiap saat, dan mitra menghabiskan lebih sedikit waktu di gudang.

Namun, realitas di lapangan berbeda. Reuters melaporkan bahwa alat tersebut sering salah memberi label dan salah menghitung barang. Alat ini dikenal sering mencampuradukkan jenis susu yang serupa atau bahkan melewatkannya sama sekali. Sebuah video yang disematkan dalam blog Starbucks bahkan secara tidak sengaja menunjukkan sistem tersebut melewatkan satu botol sirup peppermint saat seorang pekerja memindai rak.

Akibatnya, para “partners” Starbucks kini harus kembali ke metode manual untuk menghitung inventaris. Sebuah buletin internal perusahaan yang dilihat oleh Reuters menyatakan bahwa komponen minuman dan susu sekarang akan dihitung dengan cara yang sama seperti kategori inventaris lainnya. Seorang karyawan menulis sebagai tanggapan atas perubahan ini, “Terima kasih telah menghentikan Automatic Counting! Ide di baliknya bagus, tapi eksekusinya terbukti sulit.”

Kegagalan ini menunjukkan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar, implementasinya di dunia nyata seringkali menemui hambatan. Starbucks, yang sebelumnya juga menghadapi berbagai tantangan operasional, kini harus mengevaluasi kembali strategi digitalisasinya. Untuk informasi lebih lanjut tentang tantangan yang dihadapi perusahaan ini, Anda dapat membaca artikel tentang Pegawai Starbucks yang terlibat dalam insiden pengintaian.

Keputusan ini juga menyoroti pentingnya uji coba yang matang sebelum meluncurkan teknologi baru dalam skala besar. Starbucks, yang memiliki jaringan global yang luas, seharusnya dapat mengantisipasi potensi masalah seperti ini. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan lain yang ingin mengadopsi AI untuk operasional mereka. Sementara itu, konsumen mungkin akan melihat sedikit perubahan, karena stok bahan baku kini akan dikelola secara manual kembali.

Bagi mereka yang tertarik dengan inovasi teknologi di sektor ritel, kegagalan ini menunjukkan bahwa AI bukanlah solusi instan untuk semua masalah. Dibutuhkan adaptasi, pelatihan, dan penyempurnaan yang terus-menerus. Starbucks sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai langkah selanjutnya setelah penghentian alat ini. Namun, keputusan ini jelas menjadi pukulan bagi reputasi perusahaan dalam hal inovasi teknologi.

Komentar

Belum ada komentar.