📑 Daftar Isi

Pelajar menggunakan smartphone untuk mengakses aplikasi AI dalam mengerjakan tugas sekolah

Studi: 80% Pelajar Pakai AI, Nilai Ujian Justru Anjlok 20%

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi terhadap 27.000 siswa China (kelas 7-12) menemukan 80% menggunakan AI seperti DeepSeek dan Doubao
  • Nilai PR pengguna AI naik 18% dan waktu pengerjaan turun 30% (dari 64 ke 45 menit)
  • Namun nilai ujian bulanan pengguna AI justru 20% lebih rendah dari non-pengguna
  • Profesor Brown University menemukan nilai ujian akhir anjlok dari 65% ke 48% setelah diubah menjadi tatap muka
  • Studi MIT menunjukkan aktivitas otak lebih rendah pada pengguna AI saat menulis esai
  • Kerugian belajar terbesar terjadi pada mata pelajaran sosial, diikuti STEM dan bahasa
  • Grade inflation melonjak 30% di mata kuliah rentan kecurangan AI sejak ChatGPT dirilis

Telset.id – Penggunaan AI di kalangan pelajar sekolah menengah memunculkan temuan yang mengkhawatirkan. Sebuah studi yang melacak hampir 27.000 siswa di China menemukan bahwa mereka yang rutin menggunakan AI untuk mengerjakan tugas justru mengalami penurunan nilai ujian hingga 20 persen dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak menggunakan teknologi tersebut.

Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Stockholm University dan University of Hong Kong ini mengamati siswa berusia 12 hingga 18 tahun (kelas 7-12). Sekitar 80 persen dari responden dilaporkan menggunakan model AI seperti DeepSeek dan Doubao milik ByteDance. Sisanya yang tidak menggunakan AI menjadi kelompok kontrol dalam penelitian ini.

Hasilnya menunjukkan pola yang kontradiktif. Setelah enam bulan, nilai pekerjaan rumah (PR) siswa yang menggunakan AI naik 18 persen di semua mata pelajaran. Waktu pengerjaan tugas mereka juga turun drastis dari rata-rata 64 menit menjadi 45 menit, atau berkurang 30 persen. Namun, angka ini berbanding terbalik dengan hasil ujian bulanan mereka yang justru 20 persen lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak memakai AI.

Temuan ini membalikkan asumsi lama bahwa siswa dengan nilai PR bagus cenderung unggul dalam ujian. Kini, justru siswa dengan nilai PR terbaik yang berakhir dengan performa terburuk saat menghadapi ujian. Fenomena ini mengindikasikan bahwa AI mungkin digunakan sebagai alat bantu menyelesaikan tugas, bukan sebagai sarana memahami materi.

Indikasi Kecurangan Terdeteksi di Perguruan Tinggi

Pola serupa juga terlihat di lingkungan perguruan tinggi. Seorang profesor dari Brown University mencatat kejanggalan pada ujian tengah semester take-home tahun akademik ini. Nilai rata-rata siswa berada di kisaran tinggi 90-an, dengan separuh kelas mendapatkan nilai sempurna. Kecurigaan terhadap keterlibatan AI membuat profesor tersebut mengubah ujian akhir menjadi sesi tatap muka.

Dugaan itu terbukti. Nilai rata-rata ujian akhir anjlok ke angka 48 persen. Sebelumnya, rata-rata nilai ujian akhir di kelas tersebut tidak pernah turun di bawah 65 persen. Puluhan siswa bahkan tidak mengikuti ujian akhir, dan mayoritas dari mereka adalah siswa yang sebelumnya mendapat nilai sempurna pada ujian tengah semester.

Penelitian lain juga menyoroti efek kognitif AI terhadap proses belajar. Sebuah studi MIT yang diterbitkan awal tahun ini menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI untuk menulis esai menunjukkan aktivitas otak yang lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menggunakannya. Kelompok pengguna AI bahkan kesulitan mengutip esai mereka sendiri. Saat diminta menulis tanpa bantuan AI, aktivitas otak mereka tetap berada pada level yang rendah.

Temuan ini sejalan dengan studi lain yang menunjukkan bahwa AI mengganggu kemampuan berpikir kritis dan dikaitkan dengan gangguan memori. Studi terbaru dari China ini memang menyoroti tren akademis, bukan efek kognitif, tetapi hasilnya selaras dengan berbagai penelitian sebelumnya.

Studi ini juga mengungkap bahwa kerugian belajar terbesar terjadi pada mata pelajaran ilmu sosial, diikuti oleh STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) serta mata pelajaran bahasa. Menariknya, pengguna AI yang menghabiskan waktu pengerjaan PR hampir sama dengan non-pengguna mengalami kerugian belajar yang lebih kecil, meskipun kerugian tersebut tetap ada.

Temuan ini menambah kekhawatiran tentang peran AI dalam inflasi nilai atau grade inflation yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Riset terbaru menemukan bahwa persentase nilai A di mata kuliah yang rentan terhadap kecurangan AI—biasanya di bidang humaniora dan teknik—melonjak 30 persen sejak ChatGPT dirilis.

Para pengajar kini dihadapkan pada tantangan baru dalam mengevaluasi pemahaman siswa. Kecepatan penyelesaian tugas dan nilai PR yang tinggi tidak lagi menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk mengukur penguasaan materi. Ujian tatap muka menjadi salah satu metode yang dianggap lebih efektif untuk memastikan hasil belajar yang sebenarnya.

Bagi pelajar dan mahasiswa, temuan ini menjadi pengingat bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu pemahaman, bukan pengganti proses berpikir. Ketergantungan berlebihan pada AI untuk menyelesaikan tugas justru dapat menghambat perkembangan kemampuan kognitif yang esensial untuk keberhasilan akademis jangka panjang.

Fenomena ini juga menjadi perhatian bagi institusi pendidikan untuk merancang metode evaluasi yang adaptif terhadap kehadiran teknologi AI. Keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan berpikir mandiri menjadi kunci dalam menghadapi lanskap pendidikan yang terus berubah.

Studi yang dilaporkan oleh The Economist ini memberikan gambaran nyata tentang dampak penggunaan AI pada performa akademis generasi muda. Data yang komprehensif dari ribuan siswa menunjukkan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan secara serius oleh pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.