Ilustrasi ChatGPT, Gemini, dan Meta AI sebagai platform kecerdasan buatan yang digunakan untuk menghasilkan karya

Survei: 69% Orang Anggap Hasil AI Adalah Karya Mereka Sendiri

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 69% responden anggap hasil AI sebagai karya sendiri jika membuat prompt dan setujui versi final
  • 54% percaya karya berbasis AI harus ditandai dengan jelas
  • 46% mengaku akan menyembunyikan keterlibatan AI dalam pekerjaan
  • Survei melibatkan 7.200 orang dewasa di AS, Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Latin
  • Muncul model "authorship by direction" di mana AI membuat draf awal dan manusia merevisi
  • Use.AI: AI memisahkan produksi karya dari kepemilikannya
  • Belum ada standar bersama tentang kapan peran AI harus terlihat

Telset.id – Sebuah survei baru dari Use.AI mengungkap bahwa 69% responden menganggap materi yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) dapat diklaim sebagai karya mereka sendiri, selama mereka yang menyusun prompt dan menyetujui versi finalnya. Temuan ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara masyarakat memandang kepemilikan dan kepenulisan karya yang melibatkan bantuan AI.

Survei yang melibatkan 7.200 orang dewasa di Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Latin ini juga menemukan bahwa 54% responden percaya karya berbasis AI harus ditandai dengan jelas. Sementara itu, 46% responden mengaku akan menyembunyikan keterlibatan AI dalam pekerjaan mereka.

ChatGPT, Gemini, Meta

## Kesenjangan Pandangan soal Kepemilikan Karya AI

Hasil survei menunjukkan adanya perbedaan yang semakin lebar antara klaim kepenulisan manusia atas karya AI dan ekspektasi pelabelan yang jelas terhadap karya tersebut sebagai hasil AI. Sikap yang berbeda juga teridentifikasi berdasarkan konteks penggunaan karya AI, seperti email pribadi dibandingkan laporan sekolah atau pekerjaan profesional.

Fenomena ini menggambarkan munculnya model yang disebut “authorship by direction” atau kepenulisan berdasarkan arahan. Dalam model ini, AI dipercaya untuk membuat draf awal, yang kemudian direvisi dan diklaim oleh manusia. Meskipun AI telah berkontribusi dalam proses pembuatan, hanya nama manusia yang tercantum pada produk akhir, sehingga memunculkan pertanyaan tentang kepemilikan dan kepenulisan.

Managing Director Use.AI, Ihor Herasymov, menjelaskan bahwa AI sedang memisahkan produksi karya dari kepemilikan karya tersebut. “Orang-orang semakin siap untuk mengarahkan proses, menyetujui hasil, dan mengambil kredit, tetapi masih belum ada standar bersama tentang kapan peran AI harus terlihat oleh orang lain,” ujarnya.

## Implikasi Hukum dan Etika di Balik Klaim Kepengarangan

Pengamatan Herasymov menunjukkan standar yang terus berkembang seputar pembuatan dan penggunaan materi yang dihasilkan AI. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya keresahan atas penggunaan AI dalam tugas-tugas kreatif.

Implikasi dari klaim kepemilikan atas karya otomatis yang dihasilkan dari instruksi ke model bahasa besar (LLM) yang dilatih pada sebanyak mungkin tulisan, seni, musik, dan sinema manusia sangatlah besar, dan melampaui sekadar pertanyaan etika. Hak cipta hanyalah salah satu elemen yang paling jelas, tetapi kita juga bergerak menuju lanskap di mana memasukkan prompt pada perangkat keras milik perusahaan mengambil kepenulisan dari orang di depan keyboard.

Pada akhirnya, tugas memberi prompt dan merevisi berarti siapa pun yang menggunakan AI dengan cara ini berhenti menjadi penulis dan menjadi editor, sebelum kepemilikan sebenarnya dari output tersebut ditentukan.

## Data Survei yang Menyoroti Perbedaan Sikap

Dengan 69% responden yang menganggap karya AI sebagai milik mereka jika mereka yang membuat prompt, 46% yang mengaku akan merahasiakan keterlibatan AI dalam pekerjaan mereka, dan 54% yang merasa penggunaan AI harus diungkapkan, jelas bahwa kita masih jauh dari kesepakatan tentang penggunaan AI dalam tugas-tugas kreatif.

AI writer

Data ini juga menyoroti bagaimana adopsi AI yang berkembang tampaknya memperkenalkan sikap baru terhadap kreativitas yang dapat diterima. Penggunaan AI kini semakin ekstensif, dengan prompt yang berasal dari manusia menghasilkan draf dan versi dari mesin, diikuti oleh penyuntingan dari manusia.

Perbedaan sikap berdasarkan konteks juga menjadi temuan penting. Responden memiliki pandangan yang berbeda ketika karya AI digunakan untuk keperluan pribadi seperti email, dibandingkan dengan penggunaan profesional seperti laporan kerja atau tugas sekolah.

AI model distillation

Temuan ini menegaskan bahwa standar kepenulisan di era AI masih dalam proses pembentukan. Belum ada konsensus tentang kapan peran AI harus diungkapkan dan kapan hasil kolaborasi manusia-AI dapat diklaim sepenuhnya sebagai karya manusia.

Demystiying AI

Survei Use.AI ini memberikan gambaran awal tentang bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kehadiran AI dalam proses kreatif, sekaligus menyoroti pertanyaan-pertanyaan mendasar yang masih perlu dijawab terkait kepenulisan, kepemilikan, dan transparansi di era kecerdasan buatan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.