Telset.id – Tom Hanks, pengisi suara karakter Woody di franchise Toy Story, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa studio dapat menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menggantikan perannya setelah ia meninggal. Kekhawatiran ini muncul di tengah produksi Toy Story 5 yang masih berlangsung pada tahun 2026, 31 tahun setelah film pertama dirilis pada 1995.
Dalam wawancara terbaru dengan Entertainment Weekly bersama rekannya Tim Allen (pengisi suara Buzz Lightyear), Hanks secara gamblang membahas kemungkinan Disney menggunakan AI untuk melanjutkan waralaba tersebut. “Waktu tidak terkalahkan. Pertanyaannya adalah apakah kita bisa merakit beberapa versi dari diriku,” ujar Hanks. “Setiap kata yang pernah kami rekam dalam Toy Story ada di media digital di suatu tempat, jadi mereka bisa merakit apa pun yang mereka inginkan.”

Hanks dan Allen sepakat bahwa gagasan tersebut adalah “pemikiran yang menakutkan.” Ini bukan pertama kalinya aktor berusia 69 tahun itu menyuarakan kekhawatiran tentang potensi AI. Sebelumnya, ia juga mengungkapkan keprihatinan serupa dalam wawancara dengan The San Francisco Chronicle.
“Inilah yang saya khawatirkan: bahwa akan ada sesuatu yang terang-terangan dibuat oleh AI — diciptakan, dibayangkan, diproduksi, semuanya — dan penonton tidak akan peduli bahwa itu adalah AI,” kata Hanks dalam wawancara tersebut. “Mereka hanya akan berkata, ‘Yah, itu AI, tapi kamu tahu, aku tetap menontonnya.’”
Aktor pemenang Oscar itu menekankan pentingnya elemen manusia dalam hubungan antara penonton dan pembuat film. “Ada tipe tertentu dari elemen manusia yang diperlukan dalam kontrak antara penonton dan pembuat film,” tambahnya. “Dan jika satu sisi tidak peduli dengan kontrak itu…”
Hanks sendiri sudah pernah mengalami masalah dengan AI. Ia berulang kali harus memperingatkan para penggemarnya tentang berbagai penipuan yang menggunakan deepfake AI dari wajahnya tanpa izin. Di sisi lain, ia juga pernah menggunakan teknologi peremajaan AI untuk film Robert Zemeckis berjudul “Here” yang dirilis pada 2024 — sebuah penggunaan yang ia bela.
Baca Juga:
Kekhawatiran Hanks tentang masa depan Toy Story tidak hanya terbatas pada AI. Ia juga memiliki pandangan ambivalen tentang kelanjutan waralaba tersebut, bahkan jika ia sendiri yang masih terlibat. “Jika kamu akan membuat Toy Story lagi, itu harus berharga,” katanya kepada Entertainment Weekly. “Itu harus hebat. Kamu harus mengeksplorasi beberapa tema yang tidak hanya menarik-narik karena orang menyukai judulnya.”
“Maksudku, ini adalah bisnis korporat besar tanpa keraguan, aku tidak akan mengabaikannya. Tapi kecuali itu bagus, baru, segar, tidak ada alasan untuk melakukannya sama sekali,” tegas Hanks.
Pernyataan Hanks ini muncul di tengah maraknya penggunaan AI di industri hiburan. Banyak studio besar mulai mengeksplorasi penggunaan teknologi AI untuk berbagai keperluan, mulai dari pembuatan skrip hingga penggantian aktor. Namun, kekhawatiran tentang dampak AI terhadap pekerjaan kreatif dan integritas artistik terus menjadi perdebatan hangat.
Dalam konteks Toy Story 5 yang saat ini sedang dalam produksi, pernyataan Hanks memberikan perspektif baru tentang bagaimana teknologi dapat memengaruhi waralaba ikonik ini. Dengan 31 tahun sejak film pertama dirilis, pertanyaan tentang kapan franchise ini harus berakhir menjadi semakin relevan.
Hanks dan Allen telah menjadi bagian integral dari kesuksesan Toy Story sejak awal. Suara khas Hanks sebagai Woody dan Allen sebagai Buzz Lightyear telah menjadi ikon budaya pop yang dikenal di seluruh dunia. Namun, dengan kemajuan teknologi AI, identitas vokal tersebut kini bisa direplikasi secara digital tanpa kehadiran fisik para aktor.
“Setiap kata yang pernah kami rekam dalam Toy Story ada di media digital di suatu tempat,” ungkap Hanks, menyoroti betapa mudahnya studio untuk mengakses data suara mereka. Hal ini membuka kemungkinan bahwa Disney dapat terus memproduksi film Toy Story tanpa melibatkan aktor asli, meskipun kualitas artistiknya mungkin berbeda.
Pandangan Hanks tentang AI juga mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di industri hiburan. Banyak aktor, penulis, dan kreator lainnya khawatir bahwa AI dapat menggantikan peran manusia dalam proses kreatif. Namun, Hanks juga mengakui bahwa AI memiliki potensi positif, seperti yang ia alami sendiri dalam film “Here”.
Sementara itu, Disney belum memberikan pernyataan resmi mengenai penggunaan AI dalam produksi Toy Story 5 atau waralaba lainnya. Namun, dengan pernyataan Hanks yang begitu gamblang, publik kini memiliki gambaran yang lebih jelas tentang tantangan etis dan artistik yang dihadapi industri film di era AI.
Pertanyaan tentang masa depan Toy Story tanpa Tom Hanks atau Tim Allen mungkin masih jauh, tetapi diskusi ini telah membuka pintu untuk perdebatan yang lebih luas tentang peran AI dalam seni dan hiburan. Seperti yang dikatakan Hanks sendiri, “kecuali itu bagus, baru, segar, tidak ada alasan untuk melakukannya sama sekali.”
Dalam wawancara yang sama, Hanks dan Allen juga membahas tentang warisan yang mereka tinggalkan melalui karakter Woody dan Buzz Lightyear. Keduanya mengakui bahwa karakter-karakter ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka dan penggemar di seluruh dunia. Namun, mereka juga sadar bahwa waktu terus berjalan dan teknologi terus berkembang.
Kekhawatiran Tom Hanks tentang penggantian AI bukanlah hal yang aneh di industri ini. Banyak selebritas dan profesional kreatif lainnya telah menyuarakan keprihatinan serupa. Namun, sebagai salah satu aktor paling ikonik di Hollywood, pernyataan Hanks memiliki bobot tersendiri dan dapat memengaruhi diskusi publik tentang regulasi AI di industri hiburan.
Dengan Toy Story 5 yang masih dalam produksi, publik kini menantikan bagaimana Disney dan Pixar akan menangani isu ini. Apakah mereka akan tetap setia pada aktor asli atau mulai mengeksplorasi penggunaan AI untuk memperpanjang umur waralaba? Jawabannya mungkin akan menentukan arah industri film di masa depan.
Bagi penggemar Toy Story, pernyataan Hanks ini mungkin menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Namun, seperti yang ia katakan, yang terpenting adalah kualitas cerita dan pesan yang disampaikan, bukan sekadar memanfaatkan popularitas judul. “Kecuali itu bagus, baru, segar, tidak ada alasan untuk melakukannya sama sekali,” tegasnya sekali lagi.
Ke depannya, industri hiburan harus menemukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan pelestarian elemen manusia yang menjadi inti dari seni bercerita. Pernyataan Tom Hanks tentang Toy Story 5 dan AI menjadi pengingat bahwa di balik setiap karakter ikonik, ada jiwa manusia yang memberinya kehidupan.





Komentar
Belum ada komentar.