Telset.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan membentuk “AI Force” dan mencari seorang “AI czar” untuk memimpinnya, langkah yang menegaskan penolakannya terhadap seruan perlambatan pengembangan kecerdasan buatan atau AI dari kalangan industri. Pengumuman ini disampaikan Trump melalui unggahan di jaringan sosial Truth Social, saat sebagian pelaku industri justru mendesak agar laju pengembangan AI dikendalikan.
Trump menyebut dirinya akan mengumumkan sosok yang akan menjalankan AI Force “dalam waktu dekat”. Ia membandingkan upaya ini dengan pembentukan Space Force pada masa jabatan pertamanya. “Kami sama sekali tidak akan menghambat atau mengekang pertumbuhan industri yang luar biasa ini,” tulis Trump dalam unggahannya. “Sebaliknya, kami akan menjaganya, membantunya, dan mengawasinya, saat ia tumbuh!”
Dalam unggahan yang sama, Trump juga membuka jajak pendapat untuk mengganti istilah “Artificial Intelligence” dengan sebutan yang dianggapnya lebih elegan dan akurat, seperti “Extreme Intelligence” atau “Supreme Intelligence”. Ia menyebut banyak orang menilai frasa “Artificial Intelligence” tidak tepat dan tidak elok. Jajak pendapat tersebut masih berlangsung hingga artikel ini dipublikasikan. Trump tidak menjelaskan secara rinci apa tugas dan wewenang AI Force maupun AI czar yang akan dibentuknya.
Benturan dengan Seruan Perlambatan Industri AI
Langkah Trump ini berlawanan arah dengan permintaan sejumlah pemimpin industri AI dalam beberapa hari terakhir. CEO Anthropic, Dario Amodei, menerbitkan proposal panjang untuk menahan laju pengembangan AI. Tak lama setelah itu, para CEO dari perusahaan AI pesaing seperti OpenAI dan xAI menyetujui seruan Amodei untuk memperlambat laju pengembangan. Sikap tersebut sebelumnya juga menjadi sorotan dalam pemberitaan soal perlambatan AI.
Trump menilai bahwa menghambat pengembangan AI di Amerika Serikat justru akan memberi China kesempatan mengejar ketertinggalan dalam kompetisi. Presiden AS itu dijadwalkan bertemu dengan rekannya dari China pekan depan, dengan AI diperkirakan menjadi salah satu topik pembahasan utama. Posisi Trump dan China yang sama-sama menolak pengetatan ini pernah menjadi bahasan tersendiri ketika CEO AI serukan perlambatan.
Baca Juga:
Di sisi lain, Trump menyebut kekhawatiran seputar AI sebagai bagian dari rangkaian hoaks yang “dihasilkan oleh Radical Left Dumocrats, for purposes of destroying our Country”. Ia menilai upaya “decimation, or destruction, of AI” sebagai salah satu dari “banyak” hoaks Demokrat, serupa dengan “RUSSIA, RUSSIA, RUSSIA, UKRAINE, UKRAINE, UKRAINE, Global Warming, Impeachment Hoax #1, Impeachment Hoax #2, Men in Women’s Sports, [dan] Transgender for Everyone”. Trump menegaskan tidak akan tinggal diam membiarkan hal itu terjadi. Ia menyebut gelombang kritik ini bermula dari serangan terhadap data center, sebelum beralih “langsung ke AI”. Trump tidak menyertakan bukti apa pun untuk mendukung klaimnya bahwa kecurigaan luas terhadap AI dan data center bukanlah sesuatu yang organik dan tulus. Baik Partai Republik maupun Demokrat diketahui menyoroti isu data center, dan New York baru-baru ini menjadi negara bagian pertama yang menghentikan izin untuk proyek besar.
Pernyataan Trump tersebut juga menggemakan komentarnya di sebuah turnamen golf akhir pekan lalu. Saat itu ia menyatakan terbuka terhadap “guardrails” atau rambu pengaman, namun berargumen, “I think you have a lot of negative forces that are bringing it up that shouldn’t be bringing it up.” Sebelumnya, Trump juga sempat menyoroti bahwa kekhawatiran AI disebut sebagai hoax, seperti yang tercatat dalam pemberitaan ketika Jensen Huang ambil panggilan di atas panggung All-In Summit.
Pergantian Posisi AI Czar dan Dinamika Debat Keamanan AI
Posisi AI czar sebelumnya diemban oleh venture capitalist David Sacks, yang mundur dari jabatannya sebagai AI and crypto czar Trump pada awal tahun ini. Ia kemudian beralih menjadi co-chair President’s Council of Advisors on Science and Technology. Trump menyatakan bahwa untuk AI czar yang baru, “Only High I.Q. individuals need apply!”
Debat soal keamanan AI kembali memanas setelah seorang peneliti AI menyatakan berhenti dari Anthropic karena kekhawatiran bahwa perusahaan AI terkemuka “earnestly believe it could kill us all by the end of the decade” dan “gambling with our lives”. CEO Anthropic Dario Amodei kemudian merilis rencana untuk “pace the frontier”, yang tampaknya didukung oleh CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk. Para kritikus industri AI menilai banyak kekhawatiran soal ancaman eksistensial teknologi ini justru mengalihkan perhatian dari bahaya AI yang lebih langsung.
Sementara itu, CEO Nvidia Jensen Huang memanggil Trump ke atas panggung saat All-In Summit yang di-co-host oleh Sacks. Huang menyetujui pandangan presiden bahwa reaksi balik terhadap AI adalah “hoax”, dan menegaskan bahwa “we’re not going to let” perlambatan terjadi. Sikap terbuka Trump terhadap pelaku industri juga terlihat dalam isu lain, misalnya ketika ia membuka peluang bagi mobil China masuk AS dengan syarat produksi di dalam negeri.
Pembentukan AI Force dan pencarian AI czar menegaskan arah kebijakan Trump yang memilih mendukung pertumbuhan industri AI ketimbang menahan lajunya. Langkah ini sekaligus mempertentangkan posisi Gedung Putih dengan sebagian CEO perusahaan AI terkemuka yang menyerukan perlambatan, serta menempatkan isu AI dalam agenda pertemuan dengan China pekan depan.





Komentar
Belum ada komentar.