Telset.id – Dunia teknologi dan militer baru saja disuguhi sebuah ironi tingkat tinggi yang mungkin hanya bisa terjadi di era digital saat ini. Bayangkan skenario ini: seorang presiden mengeluarkan perintah tegas untuk memboikot sebuah perusahaan teknologi, namun hanya beberapa jam kemudian, militernya justru menggunakan teknologi dari perusahaan yang sama untuk melancarkan serangan udara presisi. Inilah yang terjadi dengan teknologi AI Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude yang kini berada di tengah pusaran konflik antara Gedung Putih dan Pentagon.
Pada tanggal 27 Februari lalu, Presiden Trump melalui platform Truth Social secara mengejutkan memerintahkan seluruh agensi federal untuk “segera menghentikan semua penggunaan teknologi Anthropic”. Alasannya? Adanya perselisihan tajam antara Departemen Pertahanan (DoD) dan perusahaan AI tersebut. Namun, realitas di lapangan seringkali tidak sehitam putih perintah eksekutif. Menurut laporan eksklusif dari The Wall Street Journal, hanya berselang beberapa jam setelah titah tersebut keluar, Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran. Yang mengejutkan, operasi militer kompleks tersebut justru dibantu oleh alat kecerdasan buatan milik Anthropic.
Situasi ini menyoroti betapa dalamnya ketergantungan infrastruktur pertahanan modern terhadap algoritma canggih, terlepas dari sentimen politik yang melingkupinya. Presiden Trump memang memberikan catatan adanya “periode penghentian bertahap selama enam bulan” bagi agensi seperti “Department of War”—istilah yang ia gunakan untuk menyebut DoD—yang masih menggunakan produk Anthropic. Ini mengindikasikan bahwa meskipun retorika politik terdengar keras, melepaskan diri dari ekosistem AI yang sudah terintegrasi bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Federal masih diharapkan untuk perlahan beralih dari Claude, namun proses ini jelas tidak instan.
Jejak Digital Anthropic dalam Operasi Militer AS
Penggunaan AI Anthropic dalam serangan ke Iran bukanlah debut perusahaan ini di kancah militer kelas berat. Laporan WSJ sebelumnya mengungkapkan fakta yang lebih mencengangkan: Claude, model bahasa besar andalan Anthropic, ternyata memiliki peran krusial dalam penangkapan mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Hal ini membuktikan bahwa di balik layar, teknologi yang sering kita anggap hanya sebagai asisten penulis atau koding ini, telah berevolusi menjadi instrumen intelijen yang mematikan. Kemampuan analisis data dalam jumlah masif secara real-time menjadikan AI sebagai aset tak ternilai dalam operasi penargetan dan strategi tempur.
Tentu saja, penggunaan teknologi sipil untuk keperluan militer memicu perdebatan etis, namun efektivitasnya di lapangan tampaknya menjadi prioritas utama Pentagon saat ini. Ketegangan geopolitik yang meningkat, seperti isu email kampanye yang sempat heboh, menuntut respons cepat yang seringkali hanya bisa difasilitasi oleh AI. Namun, keputusan Trump untuk memutus hubungan dengan Anthropic memaksa militer AS untuk mencari pelabuhan baru.
Baca Juga:
Ke depan, Departemen Pertahanan diprediksi akan mulai memindahkan beban kerja kecerdasan buatan mereka ke opsi lain. Nama-nama besar seperti xAI milik Elon Musk dan OpenAI besutan Sam Altman disebut-sebut telah mencapai kesepakatan untuk menyuplai model mereka ke dalam jaringan agensi federal. Pergeseran ini bukan sekadar ganti vendor, melainkan perubahan peta kekuatan teknologi di Washington. Preferensi Trump terhadap figur-figur tertentu di Silicon Valley tampaknya mulai membentuk ulang arsitektur digital pertahanan Amerika.
Tantangan Migrasi: Tidak Semudah Ganti Aplikasi
Meskipun kesepakatan dengan xAI dan OpenAI sudah di depan mata, transisi teknis di lapangan adalah mimpi buruk logistik tersendiri. Mengganti “otak” dari sebuah sistem pertahanan yang kompleks membutuhkan waktu berbulan-bulan, bukan hari. Laporan WSJ menggarisbawahi bahwa menggantikan Claude dengan model AI lain akan memakan waktu lama karena integrasi yang sudah mendalam. Ini bukan sekadar soal menginstal perangkat lunak baru, tetapi memastikan model pengganti memiliki kapabilitas, keamanan, dan reliabilitas yang setara atau lebih baik dalam situasi hidup-mati.
Selain itu, perkembangan teknologi militer global juga semakin liar. Kita tidak hanya berbicara soal algoritma di server, tetapi juga manifestasi fisik dari teknologi tersebut. Di belahan dunia lain, inovasi seperti teknologi tempur humanoid dan drone canggih terus bermunculan, memaksa AS untuk tidak boleh lengah sedikitpun dalam masa transisi AI mereka. Jika proses migrasi dari Anthropic ke xAI atau OpenAI mengalami hambatan, ada risiko kekosongan kapabilitas intelijen yang bisa dimanfaatkan oleh lawan.
Pada akhirnya, drama antara Trump, Anthropic, dan Pentagon ini mengajarkan kita satu hal: dalam perang modern, kode pemrograman sama pentingnya dengan amunisi. Keputusan politik untuk memboikot satu penyedia teknologi bisa memiliki konsekuensi operasional yang luas, bahkan mempengaruhi jalannya sebuah serangan udara di Timur Tengah. Kita akan menyaksikan dalam enam bulan ke depan, apakah transisi ke “sekutu teknologi” baru Trump akan berjalan mulus, atau justru menciptakan celah keamanan baru bagi Amerika Serikat.

