Telset.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengubah istilah artificial intelligence menjadi super intelligence melalui perintah eksekutif. Perubahan ini menjadi bagian dari langkah rebranding yang dilakukan pemerintah AS terhadap teknologi kecerdasan buatan, sekaligus menandai pergeseran pesan politik di hadapan para pemimpin industri teknologi terbesar dunia.
Langkah tersebut diumumkan dalam sebuah pertemuan yang mempertemukan sejumlah nama besar di industri kecerdasan buatan. Menurut laporan TechCrunch melalui podcast Equity, Trump menggelar pertemuan itu untuk mengumumkan bahwa pemerintah AS tidak lagi menyebut teknologinya sebagai artificial intelligence, melainkan super intelligence. Sebagai bagian dari kebijakan ini, pejabat resmi AS diwajibkan menggunakan istilah super intelligence, bukan artificial intelligence.
Perubahan istilah ini turut dibahas dalam konteks pengumuman yang lebih luas terkait keamanan AI. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut lebih sebagai upaya rebranding ketimbang perubahan regulasi yang substantif. Hal ini sejalan dengan langkah lanjutan yang dibahas dalam Perintah Eksekutif terkait penamaan ulang AI tersebut.
Pertemuan Para Raksasa Teknologi dan Pakta Non-Binding
Dalam pertemuan tersebut, hadir sejumlah tokoh utama industri teknologi, termasuk Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Elon Musk, dan Dario Amodei. Para eksekutif ini menandatangani sebuah dokumen bertajuk “Joint Commitment on Frontier Responsibilities”. Namun, dokumen tersebut dinilai tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
Sean O’Kane, salah satu pembahas dalam podcast TechCrunch Equity, menyebut perjanjian itu sebagai “deeply non-binding” atau sama sekali tidak mengikat secara hukum. Ia bahkan menyoroti bahwa dalam dokumen yang ditandatangani tersebut, penulisan “United States” mengalami kesalahan ejaan. Sebagai gantinya, Trump menyebut perjanjian itu sebagai “morally binding” atau mengikat secara moral.
Meski pakta tersebut dinilai tidak akan menghasilkan perubahan besar, fakta bahwa pertemuan itu digelar dinilai tetap signifikan. Anthony Ha, pembahas lainnya, menilai bahwa kebutuhan akan gestur semacam ini menunjukkan adanya dorongan politik yang nyata, terlepas dari minimnya dampak hukum yang dihasilkan.
Baca Juga:
Posisi Anthropic dan Dinamika di Dalam Pemerintahan
Dinamika menjelang pertemuan tersebut juga menyoroti posisi Anthropic dan CEO-nya, Dario Amodei. Menurut Kirsten Korosec, beberapa hari sebelum pertemuan, Anthropic berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dalam hubungannya dengan pemerintahan Trump. Situasi itu berubah setelah Amodei diundang menghadiri makan malam pada pukul 10 malam, sebelum akhirnya hadir dalam jamuan makan siang bersama para pemimpin teknologi lainnya.
Namun, hubungan antara pemerintahan dan Anthropic dinilai belum sepenuhnya pulih. Sean O’Kane menyebut bahwa Departemen Pertahanan AS masih bersikeras menganggap Anthropic bermasalah, “woke”, dan merupakan risiko keamanan nasional. Emil Michael, menurut laporan tersebut, secara rutin mengkritik Anthropic di platform X. Hal ini menunjukkan masih adanya jarak antara kedua pihak meski Amodei hadir dalam pertemuan tersebut.
Anthony Ha menambahkan bahwa terdapat perbedaan sikap di dalam Gedung Putih terhadap Anthropic. Menteri Keuangan disebut sebagai penggemar berat Anthropic, sementara Departemen Pertahanan tidak menyukai sejumlah kondisi yang diajukan Anthropic terkait penggunaan teknologinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam hubungan kelembagaan, meski ada pihak-pihak di Gedung Putih yang ingin melibatkan Anthropic dalam pengambilan keputusan.
Rebranding ini juga berkaitan dengan langkah lanjutan berupa pembentukan Super Intelligence Force yang diumumkan pada akhir pekan setelah pertemuan tersebut.
Pesan utama dari pertemuan dan perubahan istilah ini, menurut Kirsten Korosec, adalah bahwa AI digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan, berpotensi mematikan, dan akan mengambil pekerjaan. Sementara super intelligence diposisikan sebagai hal yang tidak demikian. Kirsten menegaskan bahwa ini bukan keyakinan pribadinya, melainkan pesan yang ingin disampaikan melalui langkah rebranding tersebut.
Perubahan istilah dari artificial intelligence menjadi super intelligence ini menjadi bagian dari rangkaian kebijakan yang lebih luas. Anthony Ha mencatat bahwa Trump sebelumnya sempat menyatakan tidak membutuhkan regulasi dan menolak pembatasan terhadap pengembangan AI. Namun, dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu sebelum pertemuan, sikap tersebut berubah dengan digelarnya pertemuan bersama para CEO perusahaan AI dan penandatanganan pakta tersebut.
Meski pakta yang ditandatangani dinilai tidak mengikat secara hukum dan tidak akan menghasilkan perubahan besar, kebutuhan akan gestur semacam itu dinilai tetap penting dalam konteks politik dan industri AI di Amerika Serikat. Perubahan istilah ini juga menjadi bagian dari narasi yang lebih besar terkait bagaimana pemerintah AS memposisikan diri terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan.





Komentar
Belum ada komentar.