Telset.id – Sebuah laporan terbaru dari SAS mengungkapkan bahwa usaha kecil dan menengah (UKM) di Eropa menunjukkan tingkat kesiapan dan penerapan kecerdasan buatan (AI) yang lebih baik dibandingkan kawasan global lainnya. Temuan ini menandai pergeseran signifikan, di mana bisnis Eropa tidak hanya merencanakan tetapi telah beralih ke implementasi nyata.
Laporan bertajuk “AI Readiness” tersebut menemukan bahwa meskipun bisnis di Amerika Utara unggul dalam tahap perencanaan, pembangunan, dan pengaktifan, mereka justru tertinggal dalam hal penerapan aktual. Hal ini mengindikasikan bahwa UKM di Eropa telah melampaui tahap uji coba dan mulai menuai hasil dari penerapan AI di operasional mereka.
Namun, secara global, mayoritas bisnis masih berada pada tahap awal kesiapan AI. Data menunjukkan bahwa 37% perusahaan masuk dalam kategori ‘eksperimental’ dan 33% lainnya dalam kategori ‘oportunistik’. Yang lebih mengejutkan, sembilan dari sepuluh perusahaan pada tahap eksperimental bahkan belum memiliki strategi AI formal.

Kesenjangan Penerapan AI Global
Dibandingkan dengan jumlah bisnis yang masih berada di tahap awal, hanya 9% perusahaan yang telah sepenuhnya mengintegrasikan AI ke dalam strategi, operasional, dan pengambilan keputusan mereka. Bagi banyak perusahaan, hambatan mendasar masih menjadi penghalang utama untuk maju.
Hampir setengah dari responden survei melaporkan bahwa data masih tersebar di berbagai sistem (45%) dan alat AI beroperasi secara independen satu sama lain (46). Selain itu, kepatuhan, keamanan, dan manajemen risiko masih menjadi hambatan terbesar bagi 24% responden.
John Carey, SVP Global Channels SAS, menuliskan dalam laporannya bahwa organisasi yang memperlakukan tata kelola sebagai fondasi, bukan sebagai hambatan, adalah yang paling siap untuk mengeksekusi strategi AI mereka. Hal ini menyoroti pentingnya membangun dasar yang kuat sebelum melakukan penerapan AI secara masif.
Baca Juga:
Dampak Regulasi terhadap Penerapan AI
Laporan SAS juga menyiratkan bahwa persiapan menghadapi regulasi seperti EU AI Act telah memposisikan perusahaan di Eropa dengan lebih baik untuk memaksimalkan ROI AI mereka. Sementara itu, kawasan lain tampaknya masih kekurangan dalam aspek ini, yang menjelaskan mengapa penerapan AI di Eropa lebih unggul.
Daniel-Zoe Jimenez, IDC Research VP, mendesak bisnis untuk fokus pada penyelarasan data, sumber daya manusia, dan sumber daya lainnya guna menghindari proyek percontohan yang terputus-putus. Ia menekankan bahwa bereksperimen dengan teknologi hanyalah satu hal, namun menerapkannya secara strategis dan berkelanjutan adalah hal yang berbeda.

Temuan ini memberikan gambaran jelas bahwa kesuksesan penerapan AI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan organisasi, tata kelola data, dan kepatuhan terhadap regulasi. Bagi UKM di Indonesia, pelajaran dari Eropa ini bisa menjadi acuan untuk mempercepat adopsi AI dengan fondasi yang lebih kokoh.






Komentar
Belum ada komentar.