📑 Daftar Isi

Ilustrasi gardu induk listrik dan data center AI yang menunggu sambungan daya di Amerika Serikat

Utilitas AS Paksa Data Center AI Buktikan Proyek Sebelum Dapat Sambungan Listrik

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Pengembang data center AS ajukan 1.066GW sambungan, setara 83% kapasitas pembangkit utilitas 2025
  • Wood Mackenzie perkirakan utilitas hanya komitmen layani sekitar 28% permintaan
  • Utilitas minta jaminan, kontrak panjang, dan biaya studi untuk saring proyek phantom
  • Beban data center Exelon turun 40%, dari 18GW ke 11GW setelah TSA diberlakukan
  • Kontrak minimum pelanggan besar naik ke 10,8 tahun dari 4,6 tahun sebelum 2024
  • Survei Pew: 52% orang AS lebih khawatir ketimbang antusias soal AI

Telset.id – Operator jaringan listrik dan utilitas di Amerika Serikat kini mewajibkan pengembang data center AI membuktikan proyek mereka benar-benar nyata sebelum mendapatkan sambungan daya. Langkah ini diambil setelah pengembang mengajukan permintaan sambungan jaringan sebesar 1.066GW untuk data center di AS, angka yang setara dengan sekitar 83% dari seluruh kapasitas pembangkit skala utilitas negara itu pada akhir 2025.

Angka permintaan tersebut berasal dari analisis Wood Mackenzie yang pertama kali dilaporkan Bloomberg pada Agustus 2026. Dari jumlah itu, Wood Mackenzie memperkirakan utilitas hanya akan berkomitmen melayani sekitar 28%—sekitar 12% yang sudah memiliki komitmen layanan pasti, ditambah 17% yang kemungkinan besar terealisasi. Sebuah ukuran terpisah dari Wood Mackenzie juga menempatkan hanya 23% permintaan yang diungkap masuk kategori high-confidence.

Utilitas dan operator grid kini menuntut tarif lebih tinggi, kontrak lebih panjang, jaminan (collateral), serta biaya studi rekayasa yang mahal dari pengembang data center. Tujuannya satu: menyaring apa yang industri sebut sebagai data center “phantom” alias proyek hantu. Logikanya sederhana—biaya grid dibagi bersama, sehingga jika utilitas membangun gardu induk dan saluran transmisi untuk proyek yang tak pernah muncul, seluruh pengguna lain di jaringan ikut menanggung biayanya.

Baca Juga:

Duplikasi dan Spekulasi di Balik Lonjakan Permintaan

Sebagian besar selisih antara permintaan dan komitmen disebabkan oleh duplikasi. Pengembang yang belum tahu utilitas mana yang bisa memasok listrik tercepat mengajukan proyek yang sama ke beberapa operator sekaligus dan membiarkan semua opsi terbuka hingga salah satunya terwujud. Ada pula spekulan: komentar di POWER Magazine menyebutkan bahwa dana private equity, broker tanah, dan perusahaan cangkang mengklaim posisi antrean tanpa kendali atas lahan maupun pelanggan yang sudah menandatangani kontrak, dengan taruhan bahwa tanah yang memiliki sambungan grid akan menemukan pembeli.

Fenomena ini bukan hal baru. Utility Dive sudah menulis soal data center phantom pada 2025, dan laporan Juli menyebutkan 67% eksekutif listrik yang disurvei Capgemini melihat adanya aplikasi kapasitas yang bersifat spekulatif. Yang berubah sekarang adalah utilitas mulai memberi harga pada masalah tersebut—dan dampaknya mulai terasa luas.

Contoh paling jelas datang dari Exelon, yang mengoperasikan utilitas di kawasan Mid-Atlantic dan Midwest. Setelah Exelon mulai mewajibkan transmission security agreements (TSA)—kontrak yang mengikat pelanggan pada kewajiban kredit, kontribusi pendapatan yang berkomitmen, dan pembayaran kekurangan—beban data center dengan probabilitas tinggi turun hampir 40%, dari 18GW pada akhir 2025 menjadi sekitar 11GW pada kuartal kedua. Pipeline proyek yang sedang dikaji juga menyusut dari sekitar 43GW menjadi 25GW.

Jeanne Jones, CFO Exelon, mengatakan kepada WSJ bahwa permintaan tipikal dulu berkisar 50MW dan kini sering mencapai 1.000MW atau lebih. Pertanyaan yang terus ia hadapi, baik secara internal maupun eksternal, adalah “How do you know what’s real?” Meski demikian, Exelon menyatakan rencana belanja modal senilai US$41 miliar hingga 2029 tidak berubah, sehingga pemangkasan 40% beban data center yang diharapkan sejauh ini belum menyusutkan rencana belanja tersebut.

Beban Nyata di Tagihan Rumah Tangga

Persoalan ini menjadi krusial karena kapasitas grid tidaklah murah. PJM, operator grid terbesar di AS, mencatat lelang kapasitasnya mencapai batas harga untuk ketiga kalinya berturut-turut pada musim panas ini, sekaligus gagal memenuhi target keandalan sebesar 6,8GW. Pada September, pemantau pasar independennya memberi tahu regulator federal bahwa 4.017MW beban data center yang diproyeksikan—42% dari pertumbuhan yang diasumsikan PJM—sudah dibatalkan atau tertunda.

Rumah tangga mulai merasakan kenaikan biaya. Laporan pada Juli menyebutkan Henrico County, Virginia, meminta staf dan sekolah mengurangi penggunaan listrik setelah kenaikan tarif sebesar 24,9%. Virginia juga telah bergerak untuk menghentikan utilitas memindahkan biaya data center ke pengguna sehari-hari, sementara tagihan listrik di Texas naik lebih cepat daripada inflasi. Lindsey Short dari Ohio Manufacturers’ Association memperingatkan agar tidak membangun grid berdasarkan “angka paling optimistis di spreadsheet seseorang.”

Meski begitu, kurang membangun juga membawa risiko tersendiri, terutama karena transformator bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk tiba. Itulah sebabnya utilitas mengunci pelanggan yang mereka terima. Rata-rata panjang kontrak minimum untuk pelanggan besar naik menjadi sekitar 10,8 tahun dari 4,6 tahun sebelum 2024, menurut berkas yang dihimpun Halcyon dan dikutip Journal, dengan riset terpisah berbasis pelacak Halcyon menemukan lonjakan serupa.

Tekanan terhadap infrastruktur AI juga tercermin dari sikap publik. Survei Pew Research Center pada Agustus 2026 menemukan 52% orang Amerika lebih khawatir ketimbang antusias terhadap kehadiran AI dalam kehidupan sehari-hari, dan hanya 9% yang lebih antusias daripada khawatir. Ketika sebuah CEO teknologi mempertanyakan apakah orang mau melepas ChatGPT demi menghentikan pembangunan data center AI, respons di komunitas Reddit r/technology justru tegas. Salah satu pengguna menulis “In a minute,” pengguna lain menyebut “Easiest decision ever,” dan seorang komentator yang mengaku rutin memakai tiga layanan AI menulis “I use 3 regularly and would welcome their destruction.”

Komentar tersebut muncul setelah Cyrus Beschloss, CEO Verb—perusahaan yang memungkinkan orang menjual akses ke data pribadi mereka kepada bisnis, termasuk pengembang AI—berbicara di acara CNBC “Trading the Midterms.” Menurut TechSpot, Beschloss menyebut bahwa orang-orang yang mengaku anti-data center dan anti-AI justru memakai teknologi itu, dan memperkirakan akan ada “heck of a crossroads” jika akses ke ChatGPT harus dilepas.

Data center memang tidak sepenuhnya soal AI. Fasilitas itu juga menopang layanan cloud, platform streaming, situs web, dan aplikasi yang dipakai sehari-hari, sehingga menghentikan semuanya berarti melepas jauh lebih banyak dari sekadar ChatGPT. Ada pula perbedaan praktis antara menghentikan konstruksi baru dan menghapus infrastruktur komputasi yang sudah ada.

Yang belum bisa dijawab siapa pun hingga kini adalah seberapa besar dari euforia daya AI ini yang nyata. Selama itu belum jelas, utilitas melakukan apa yang dilakukan pemberi pinjaman mana pun: meminta bukti uang lebih dulu. Di sinilah relevansi bagi pembaca di Indonesia—polemik ini menunjukkan bahwa di balik setiap layanan AI yang kita pakai, ada perhitungan listrik, biaya, dan risiko yang ditanggung bersama. Seperti halnya risiko e-waste dari perangkat yang dinonaktifkan, jejak infrastruktur teknologi tetap punya konsekuensi nyata di lapangan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.