Foto tangan pasien di tempat tidur rumah sakit dengan efek warna

Wanita Meninggal karena AI Rumah Sakit Brasil

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Rebeca Cardoso Tenente Molina, 32 tahun, meninggal setelah sistem AI Core-MG menunda pemindahan ke ICU selama 5 hari
  • Sistem memberikan skor 6,8 sementara kondisi medis sebenarnya layak mendapat skor 10
  • Dokter kehilangan otonomi untuk memutuskan tingkat keparahan pasien
  • Keluarga menempuh jalur hukum namun proses tetap tertunda
  • Departemen kesehatan negara bagian mengklaim Core-MG tidak mengubah protokol pemindahan secara fundamental
  • Kasus ini menjadi peringatan tentang risiko AI di sektor kesehatan tanpa pengawasan manusia

Telset.id – Seorang perempuan Brasil berusia 32 tahun, Rebeca Cardoso Tenente Molina, meninggal dunia setelah sistem AI milik negara untuk mengatur tempat tidur rumah sakit memaksanya menunggu lima hari untuk dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU). Kejadian ini mengungkap celah serius dalam sistem kesehatan yang mulai bergantung pada kecerdasan buatan.

Menurut laporan media Brasil MG1, Molina awalnya dirawat di kota kecil São João Nepomuceno untuk mendapatkan perawatan medis akibat batu empedu. Saat kondisinya memburuk dengan cepat, Molina menunggu ketersediaan tempat tidur ICU di negara bagian Oliveira, di rumah sakit yang berjarak sekitar 186 mil dari lokasinya. Keluarganya bahkan telah menempuh jalur hukum darurat terhadap sistem rumah sakit agar Molina bisa dipindahkan, namun prosesnya tertunda signifikan.

Sâmela Cardoso Tenente Furtado, saudara perempuan Molina yang juga pengacara keluarga, mengungkapkan bahwa sistem manajemen rumah sakit berbasis AI memberikan skor yang jauh lebih rendah kepada pasien dibandingkan kondisi medisnya yang sebenarnya. Sistem penilaian otomatis ini dijalankan oleh Pusat Operasi Regulasi Negara Bagian (Core-MG) Brasil menggunakan alat AI. Skor rendah inilah yang diduga menjadi faktor penentu penundaan pemindahan Molina ke tempat tidur ICU.

“Yang kami lihat adalah para dokter kehilangan otonomi untuk memutuskan apakah seorang pasien sakit parah,” kata Furtado kepada MG1. “Yang harus menerima apakah seorang pasien sakit parah bukan lagi dokter yang ada di sana mengalami kenyataan itu dengan pasien, melainkan Core.”

Foto tangan pasien di tempat tidur rumah sakit dengan efek warna

Furtado menggambarkan sistem yang kaku dan tidak fleksibel. “Dia seharusnya mendapat skor 10, tapi sistem hanya menerimanya sebagai 6,8,” lanjut Furtado. “Jadi dia tidak bisa naik dengan benar dalam sistem karena pasien dengan skor 8, pasien dengan skor 6,9 akan melompat di depannya. Dan sistem tidak mau menerima peningkatan tingkat keparahan dalam sistem karena tes yang terus-menerus memberinya data.”

“Adik saya, orang lain, bukan sekadar angka, mereka bukan sekadar protokol, mereka bukan sekadar CPF [nomor pajak Brasil] yang dimasukkan ke dalam sistem,” kata Furtado. “Mereka punya keluarga, mereka punya mimpi, mereka punya seluruh hidup di depan mereka.”

Dalam pernyataan resmi setelah peluncuran sistem AI pada 19 Mei, Wakil Sekretaris Kesehatan Minas Gerais, Poliana Cardoso Lopes, mengatakan bahwa “Core menyediakan peta tempat tidur yang diperbarui tiga kali sehari. Dengan ini, akan mungkin memiliki kontrol yang jauh lebih besar atas proses dan menghasilkan data yang lebih baik tentang kondisi klinis dan kebutuhan setiap orang yang menunggu tempat tidur.”

Menanggapi kematian Molina, departemen kesehatan negara bagian mengatakan kepada MG1 bahwa pemindahan ditentukan berdasarkan ketersediaan tempat tidur yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien. Mereka menambahkan bahwa Core-MG tidak mengubah secara fundamental protokol pemindahan pasien ke fasilitas lain.

Kasus ini menjadi peringatan keras tentang risiko penerapan AI di sektor kesehatan tanpa pengawasan manusia yang memadai. Ketika algoritma mengambil alih keputusan medis, seperti yang terlihat di Brasil, nyawa pasien bisa menjadi taruhannya. Sistem AI di rumah sakit memang dirancang untuk meningkatkan efisiensi, tetapi Google Wonder Woman dan inisiatif teknologi lainnya menunjukkan bahwa inovasi harus tetap memprioritaskan faktor kemanusiaan.

Kehilangan otonomi dokter dalam menentukan tingkat keparahan pasien menjadi isu kritis. Sistem Core-MG yang kaku tidak mampu menyesuaikan skor berdasarkan perubahan kondisi pasien secara real-time, meskipun data tes medis menunjukkan penurunan drastis. Akibatnya, pasien dengan skor lebih rendah namun kondisi lebih stabil mendapat prioritas lebih tinggi.

Kasus Molina juga menyoroti kesenjangan antara klaim pejabat dan realitas di lapangan. Wakil Sekretaris Lopes menyebut Core akan memberikan “kontrol yang jauh lebih besar,” tetapi keluarga korban justru merasakan sistem yang tidak responsif. Google Kasih Simbol “Woman Led” mungkin relevan dalam konteks kepemimpinan, tetapi dalam kasus ini, kepemimpinan algoritma justru berakibat fatal.

Pertanyaan mendasar muncul: apakah efisiensi yang dijanjikan AI sebanding dengan risiko kehilangan sentuhan manusia dalam perawatan kesehatan? Di Brasil, jawabannya tampaknya tidak. Molina meninggal bukan karena kurangnya fasilitas medis, tetapi karena sistem AI tidak menganggapnya cukup sakit untuk dipindahkan ke ICU.

Keluarga Molina kini menuntut pertanggungjawaban. Mereka percaya bahwa penundaan lima hari itu fatal. Sistem yang seharusnya membantu justru menjadi penghalang akses terhadap perawatan yang menyelamatkan jiwa. CEO XL Dianugerahi Career Woman menunjukkan pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan, namun Molina justru menjadi korban dari sistem yang gagal mengakui urgensi kesehatannya.

Ke depannya, kasus ini harus menjadi pelajaran bagi pengembang AI dan pembuat kebijakan kesehatan. Teknologi tanpa fleksibilitas dan pengawasan manusia hanyalah alat yang berbahaya. Di tangan yang salah, atau dalam sistem yang kaku, AI bisa menjadi penentu hidup dan mati—bukan penyelamat.

Komentar

Belum ada komentar.