📑 Daftar Isi

Ilustrasi warga Amerika Serikat memberikan suara menolak pembangunan data center AI di tempat pemungutan suara

Warga AS Tolak Data Center AI di Pilkada, 33 Proposal Menang

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • 33 dari 45 proposal pembatasan data center menang, enam memimpin suara
  • Hanya City of Harwood, North Dakota yang menolak amendemen pengawasan
  • Ohio jadi pusat penolakan terkuat dengan 257 data center dan 20 surat suara
  • 56% pemilih sebut isu AI dan data center faktor krusial atau utama
  • Kandidat pro-moratorium menang di Georgia, Texas, dan Kansas
  • Hanya tiga proyek 2,3 gigawatt tertunda dari 300+ larangan lokal

Telset.id – Warga Amerika Serikat memberikan pukulan telak bagi industri data center AI. Dalam pemilihan lokal yang digelar serentak, sebanyak 33 dari 45 proposal pembatasan data center dipastikan menang, sementara enam lainnya memimpin suara. Hanya satu wilayah, City of Harwood di North Dakota, yang menolak amendemen terkait pengawasan proyek industri besar.

Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa isu data center telah berubah dari persoalan teknis menjadi agenda politik yang memengaruhi elektabilitas kandidat. Data dari situs pemantau Data Centers on the Ballot menunjukkan gelombang penolakan terjadi hampir merata, mulai dari larangan permanen, moratorium sementara, pembatasan konsumsi energi, hingga kewajiban persetujuan publik sebelum proyek berjalan.

Hasil ini bertolak belakang dengan dorongan pemerintahan Trump yang gencar mempromosikan pengembangan AI di AS. Jajak pendapat yang dihimpun sejumlah lembaga bahkan menyebut sekitar 70% warga AS menolak pembangunan data center AI berskala besar.

Ohio Jadi Pusat Penolakan Terkuat

Tidak ada wilayah yang menolak data center sekeras Ohio. Negara bagian ini saat ini menampung 257 data center, dan pada hari pemungutan suara, isu data center muncul di 20 surat suara di seluruh negara bagian. Hasilnya, seluruh langkah pembatasan dipastikan menang atau diproyeksikan menang.

Di Kota Urbana dan Hubbard, larangan penuh terhadap data center disetujui dengan margin sangat lebar, masing-masing 76% dan 77% suara. Sementara itu, dalam pemilihan Senat AS di Ohio, kandidat Demokrat Sherrod Brown menjadikan penolakan data center sebagai inti kampanyenya. Ia menyebut lawannya, Senator Jon Husted, sebagai “wajah data center” dan penyebab menjamurnya lebih dari 200 fasilitas tersebut di Ohio. Associated Press menyatakan Brown sebagai pemenang kontestasi itu.

Penolakan serupa juga terekam dalam jajak pendapat NBC, di mana 56% pemilih menyatakan isu AI dan data center menjadi faktor “krusial atau utama” dalam menentukan pilihan mereka untuk Kongres. Hampir seperempat pemilih bahkan menyebut data center sebagai isu “krusial” bagi suara mereka.

Kursi Gubernur hingga Kongres Ikut Berubah

Dampak politik dari isu ini merembet ke berbagai level. Di Georgia, Keisha Lance Bottoms terpilih sebagai gubernur dalam kejutan besar, sementara di Texas Gina Hinojosa menang atas petahana Greg Abbott. Keduanya berkampanye bukan hanya untuk regulasi lebih ketat, tetapi juga moratorium data center. Cindy Holscher di Kansas juga berada di ambang kemenangan dengan platform serupa.

Di tingkat Kongres, dua politikus Partai Republik yang dijuluki “Data Center Derek” dan “DC Derrick” oleh lawan politiknya mengalami kekalahan di Ohio dan Wisconsin. Politisi Republik Tom Tiffany di Wisconsin dan petahana Mike Lawler di distrik kongres ke-17 New York juga kalah setelah lawannya menyoroti isu data center.

Perubahan haluan politik ini juga berdampak pada sejumlah kandidat yang menerima sokongan dana besar dari industri. Di South Carolina, komite aksi politik industri Building the Future menghabiskan US$1,5 juta untuk mendukung Darline Graham, namun ia kalah dari kandidat Demokrat Annie Andrews yang mendukung moratorium. Building the Future juga menyuntikkan lebih dari US$1,5 juta ke pemilihan gubernur Kansas untuk mendukung Ty Masterson, yang juga kalah dari Holscher.

Di Michigan, kandidat Demokrat Will Lawrence yang menjadikan regulasi AI dan data center sebagai pilar kampanye menyatakan kemenangan atas Tom Barrett, dalam salah satu kontestasi paling mahal di negara itu. Barrett menerima US$340.000 dari America PAC milik Elon Musk.

Hingga kini, belum jelas apakah hasil pemungutan suara akan memengaruhi proyek yang sudah berjalan. Dari lebih dari 300 larangan data center lokal yang berlaku di AS, hanya tiga proyek berkapasitas total 2,3 gigawatt yang tertunda, sementara 38 gigawatt diproyeksikan beroperasi pada 2027. Investasi infrastruktur pun masih diperkirakan mencapai US$32 triliun pada 2050.

Meski begitu, gelombang penolakan ini turut diwarnai sorotan terhadap transparansi industri. Sejumlah anggota parlemen menyoroti praktik perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement antara perusahaan AI dan pemerintah lokal yang membuat publik tidak mengetahui kesepakatan infrastruktur besar. Isu kenaikan tarif listrik, polusi suara, dan hilangnya lahan alami menjadi keluhan utama warga di daerah yang terdampak.

Tekanan politik ini juga membuat sejumlah perusahaan AI menyesuaikan strategi. OpenAI dan Anthropic dikabarkan mulai memburu proyek data center berskala kecil berkapasitas 20 hingga 30 megawatt, seiring tertundanya pembangunan situs hyperscale berkapasitas gigawatt. Sementara itu, di hari pemungutan suara, kelompok lingkungan dan perusahaan teknologi besar dilaporkan tengah menyusun kerangka kerja bersama lewat “Responsible Data Center Development Collaborative”.

Perubahan lanskap kebijakan ini juga menarik perhatian pada cara industri menyimpan dan mengelola data. Sebelumnya, isu serupa sempat mencuat ketika Apple dan Microsoft diwajibkan menyimpan data pengguna Rusia selama tiga tahun. Sementara itu, kebutuhan daya listrik yang besar membuat sebagian operator mencari jalan pintas, seperti memakai mesin jet bekas demi pasokan listrik yang lebih cepat.

Pemerintahan Trump sebelumnya telah berupaya meredam dampak data center terhadap warga, antara lain dengan mewajibkan data center AI membayar “dividen energi” kepada komunitas lokal dan meminta perusahaan teknologi, gubernur negara bagian, serta perusahaan utilitas menandatangani “ratepayer protection pledge”. Namun upaya itu dinilai terlambat mengubah pandangan pemilih yang khawatir terhadap kenaikan tarif listrik, polusi suara, dan dampak negatif lain di wilayah tempat data center dibangun.

Di tengah hasil ini, Elon Musk melalui unggahan di X menyatakan, “Data center di luar angkasa tampak cukup menarik saat ini.” Anggota Kongres dari Texas, Greg Casar, menyebut penolakan terhadap data center sebagai salah satu isu teratas pada pemilu 2026 dan memprediksi akan dikenang sebagai getaran awal dari “gempa AI” yang lebih besar dalam politik Amerika.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.