Ilustrasi tiga emoji marah melihat ke arah berbeda, mewakili kemarahan warga atas kebisingan pusat data Microsoft di Wisconsin

Warga Gugat Microsoft Atas Kebisingan Data Center AI di Wisconsin

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Tiga warga Sturtevant, Wisconsin, mengajukan gugatan class-action terhadap Microsoft atas kebisingan pusat data AI Fairwater senilai $7,3 miliar
  • Kebisingan berasal dari generator diesel dan sistem HVAC yang beroperasi 24 jam, digambarkan seperti suara mesin kereta barang
  • Microsoft mengklaim telah menyelesaikan masalah melalui mitigasi kebisingan pada April 2026, namun gugatan diajukan pada 1 Juli 2026
  • Perusahaan berencana membangun 15 pusat data di Mount Pleasant, meningkatkan potensi konflik serupa di masa depan
  • Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri pusat data dan hubungan dengan komunitas lokal

Telset.id – Tiga warga Desa Sturtevant, Wisconsin, menggugat Microsoft secara class-action atas kebisingan yang dihasilkan pusat data AI Fairwater senilai $7,3 miliar. Gugatan diajukan pada pekan lalu ke pengadilan setempat, menandai eskalasi konflik antara raksasa teknologi dan komunitas sekitar.

Gugatan tersebut, sebagaimana dilaporkan The Milwaukee Journal Sentinel, menyebut bahwa fasilitas milik Microsoft mengeluarkan “kebisingan yang tidak wajar dan berlebihan ke properti Penggugat, sehingga menyebabkan kerusakan properti melalui gangguan pribadi dan kelalaian.” Warga mengklaim Microsoft gagal memasang “penghalang akustik, perisai, atau dinding” yang memadai untuk meredam suara bising.

Menurut dokumen gugatan, sumber kebisingan berasal dari “generator diesel dan sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC), termasuk pendingin, menara pendingin, unit penanganan udara, dan kipas kondensor.” Suara yang dihasilkan digambarkan sebagai “konsisten dan meresap” selama 24 jam penuh.

Salah satu penggugat, Amy Cimbalnik, menyamakan kebisingan tersebut dengan “suara mesin kereta barang yang diparkir di dekatnya” yang terdengar sepanjang hari. “Kami mendengarnya 24 jam sehari, dan akhirnya menyadari bahwa suara itu berasal dari kampus Microsoft,” ujarnya kepada The Milwaukee Journal Sentinel.

Kasus ini menyoroti ketegangan yang semakin memanas antara perusahaan teknologi besar dan warga sekitar. Microsoft sebelumnya juga menghadapi berbagai tantangan operasional di tengah ekspansi besar-besaran infrastruktur AI mereka.

CEO Microsoft Satya Nadella sebelumnya dengan bangga memproklamirkan pusat data Fairwater di Mount Pleasant, Wisconsin, sebagai “pusat data AI paling kuat di dunia” yang menghubungkan “ratusan ribu” chip ke dalam “satu klaster yang mulus.” Namun, kebanggaan itu kini berhadapan dengan kenyataan pahit di lapangan.

Menariknya, Microsoft mengklaim telah menyelesaikan masalah kebisingan tersebut. Dalam pembaruan blog resmi pada 18 Juni, perusahaan mengatakan sedang menyelidiki “sumber suara” dan telah “melakukan pengujian serta menerapkan mitigasi kebisingan.” Entri blog dari pertengahan April merinci “suara dengungan tonal” yang disebabkan oleh “kipas pendingin yang saat ini beroperasi pada kecepatan tinggi.”

“Beberapa tetangga mengkonfirmasi apa yang ditunjukkan oleh pemantauan independen kami: bahwa mitigasi ini sepenuhnya menyelesaikan masalah,” demikian bunyi pembaruan Juni tersebut. Namun, gugatan yang diajukan pada 1 Juli menunjukkan bahwa klaim Microsoft belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran warga.

Direktur Komunikasi Desa Mount Pleasant, Sean Ryan, mengatakan kepada The Milwaukee Journal Sentinel bahwa ia belum menerima keluhan sejak Microsoft melakukan perubahan pada propertinya pada pertengahan April untuk “menyelesaikan suara dengungan.” “Pejabat desa siap merespons jika ada yang menghubungi kami, dan akan terus memastikan Microsoft menjadi warga korporasi yang baik dan tetangga yang baik,” tambahnya.

Pusat data menjadi isu bipartisan yang semakin panas di Amerika Serikat. Perusahaan teknologi membutuhkan fasilitas raksasa ini untuk mendorong revolusi AI, meskipun ada kekhawatiran lingkungan yang besar, konsumsi air yang masif, dan polusi suara. Isu ini bahkan diprediksi dapat memengaruhi pemilihan paruh waktu mendatang.

Kasus serupa juga muncul di berbagai daerah. Pekan lalu, seorang warga di kota kecil di Michigan Barat Daya mengukur tingkat kebisingan dari pusat data di dekat rumahnya dari teras, mencatat angka yang sangat mengganggu yaitu 60 desibel. Angka ini setara dengan percakapan normal namun konstan, yang dapat mengganggu kualitas hidup jangka panjang.

Gugatan class-action ini menuntut ganti rugi atas kerusakan properti yang disebabkan oleh kebisingan yang terus-menerus. Para penggugat berargumen bahwa nilai properti mereka menurun drastis karena ketidakmampuan menikmati rumah mereka secara wajar.

Microsoft sendiri mengakui gugatan tersebut dan menyatakan kepada publikasi bahwa mereka “berkomitmen untuk menjadi tetangga yang baik di komunitas tempat kami membangun, memiliki, dan mengoperasikan pusat data kami.” Namun, komitmen ini diuji dengan rencana ekspansi besar-besaran.

Pertimbangan yang lebih mengkhawatirkan: Microsoft berencana membangun 15 pusat data di Mount Pleasant saja. Dengan jumlah tersebut, perusahaan harus bertindak hati-hati untuk menghindari lebih banyak litigasi dari tetangga yang marah. Setiap pusat data baru berpotensi menjadi sumber konflik baru jika masalah kebisingan tidak ditangani secara tuntas.

Para ahli memperkirakan bahwa konflik antara operator pusat data dan komunitas lokal akan semakin sering terjadi seiring percepatan pembangunan infrastruktur AI. AdGuard VPN Kini Tersedia di Microsoft Store menjadi salah satu kabar baik di tengah hiruk-pikuk berita negatif seputar Microsoft.

Kasus di Wisconsin ini menjadi preseden penting bagi industri pusat data secara keseluruhan. Jika gugatan berhasil, perusahaan teknologi mungkin harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk mitigasi kebisingan dan hubungan masyarakat di lokasi-lokasi baru mereka.

Warga setempat berharap gugatan ini dapat memaksa Microsoft untuk mengambil tindakan nyata. “Kami hanya ingin bisa tidur nyenyak di malam hari tanpa suara dengung yang konstan,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya.

Perkara ini masih dalam proses hukum dan belum ada jadwal sidang yang ditetapkan. Namun, kasus ini telah menjadi sorotan nasional, menyoroti benturan antara ambisi teknologi dan hak-hak dasar warga negara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kasus dan isu teknologi lainnya, pantau terus Telset.id.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.