📑 Daftar Isi

Ilustrasi kreator AI slop yang menerima pembayaran dari program Creative Revenue Sharing X

X Bayar Kreator AI Slop untuk Konten Fiktif di Platform

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Program Creative Revenue Sharing X membayar kreator konten AI slop untuk cerita fiktif narasi orang pertama
  • Seorang trader berusia 21 tahun asal Nigeria mengaku menerima $500-700 setiap dua minggu dari X
  • Syarat bergabung: pengguna Premium X, 500 pengikut terverifikasi, 5 juta impressions dalam 3 bulan
  • X menggugat 8 kreator Vietnam atas penarikan dana curang melalui konten AI palsu pada Mei 2025
  • Struktur cerita AI slop mengikuti pola formal: rage-baiting setup dan turnaround penebusan
  • Cerita-cerita ini rutin meraih ratusan ribu hingga jutaan views di platform
  • X belum memberikan tanggapan jelas mengenai kebijakan terhadap konten AI slop

Telset.id – Program Creative Revenue Sharing X ternyata membayar kreator yang memproduksi cerita fiktif bergaya narasi orang pertama yang dibuat menggunakan AI. Seorang trader berusia 21 tahun asal Nigeria mengaku menerima bayaran antara $500 hingga $700 setiap dua minggu dari X hanya dengan membuat konten melodrama yang diposting melalui akunnya.

Fenomena ini terungkap setelah sebuah unggahan di X menarik perhatian karena menampilkan kisah pengadilan dengan narasi orang pertama yang dramatis. Penulis cerita tersebut, yang menggunakan handle BIGBEN, diketahui bukanlah seorang ibu yang diadili atas tuduhan pencurian, melainkan kreator konten yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menghasilkan cerita dan mendapatkan bayaran dari X.

Mekanisme Program Creative Revenue Sharing X

Program Creative Revenue Sharing X dirancang untuk membayar unggahan yang meningkatkan engagement di platform. Untuk bergabung, seorang kreator harus menjadi pengguna Premium X, memiliki minimal 500 pengikut terverifikasi, dan memperoleh minimal 5 juta impressions dalam periode tiga bulan terakhir. Tujuan yang dinyatakan adalah mendorong “konten autentik dan berkualitas tinggi,” namun sistem pembayaran untuk postingan yang viral membuat program ini rawan eksploitasi.

Beberapa kreator dalam program ini terlibat dalam praktik “rage baiting,” menggunakan konten provokatif untuk menarik komentar dan views. Pada Mei 2025, X menggugat 8 kreator asal Vietnam dan 25 “John Does” atas dugaan penarikan dana secara curang dari program tersebut dengan memposting konten palsu buatan AI dan meningkatkan engagement melalui komentar bot.

Pada April, X mengambil langkah untuk memotong pembayaran “aggregators” yang terutama memposting berita dari sumber lain. X juga mengancam sanksi bagi mereka yang menggunakan tag BREAKING secara berlebihan untuk menarik perhatian. Pada 16 Juli tahun ini, X mengungkapkan telah menghapus jutaan postingan yang mencuri konten yang sudah dipublikasikan orang lain.

Rob Cover, profesor di RMIT Digital Ethnography Research Centre Australia yang mempelajari konten buatan AI, menjelaskan bahwa struktur cerita-cerita ini formal seperti soneta. Diawali dengan setup rage-baiting di mana “seseorang yang tidak bersalah dipecat, diusir, ditipu, kehilangan tempat duduk di transportasi umum, atau menjadi korban penyalahgunaan hukum.” Kemudian diikuti oleh turnaround: “Sang underdog ditebus sementara lawannya dikalahkan, dipermalukan, dan dihina.”

Banyak cerita menampilkan narator yang memiliki dokumen bersegel yang membalikkan keadaan atas penyiksa mereka, sering kali dalam perselisihan perceraian atau eksekusi warisan kerabat. Contoh lain adalah penumpang pesawat yang mempertahankan kursi mereka saat orang lain mencoba merebutnya, dan lawannya harus berjalan malu ke belakang pesawat.

Cerita-cerita ini sangat populer, secara rutin meraih ratusan ribu hingga jutaan views, ratusan likes, dan puluhan reposts. Sebagian trafik tersebut mungkin berasal dari bot. Angka-angka ini mengungkapkan sesuatu tentang manusia: rasa lapar akan keadilan dan keinginan akan pembalasan. Membacanya memberikan sensasi dopamin saat keadilan menang.

Jenna Russell, kandidat PhD di University of Maryland yang mempelajari penulisan AI, mengatakan sangat mudah menghasilkan mini-melodrama tersebut. “Para spammer ini mengoptimalkan usaha paling sedikit dan engagement paling banyak, menggunakan tropes yang mudah dan terkenal serta meminta AI untuk menulis sesuatu yang sesuai,” ujarnya.

BIGBEN, yang mengaku sebagai trader berusia 21 tahun yang tinggal di Nigeria, mengakui menggunakan AI untuk menulis ceritanya. Ia memberikan prompt ke Grok atau ChatGPT untuk membuat cerita baru. Postingan pertama dalam thread cerita yang ia unggah, yang dinarasikan oleh istri kedua yang dilecehkan oleh keluarga suaminya, meraih 1,5 juta views dalam dua hari.

X membayarnya setiap dua minggu sebagai bagian dari program Creative Revenue Sharing. BIGBEN mengatakan pembayarannya biasanya antara $500 dan $700. Beberapa kreator lain melaporkan menghasilkan ribuan dolar dalam setiap siklus pembayaran.

Dibandingkan dengan postingan X yang melibatkan kemarahan, misinformasi, pornografi, dan konten curian, cerita-cerita tentang penebusan protagonis dan penghinaan penjahat ini relatif tidak berbahaya. Namun, ada kekosongan moral karena ini adalah kisah palsu yang diposting hanya untuk klik.

Fenomena AI slop semakin meluas di berbagai platform. Tren serupa juga terlihat di platform lain seperti LinkedIn yang merespons dengan menambahkan fitur pelaporan untuk konten AI slop. Industri musik juga menghadapi tantangan serupa dengan munculnya konten buatan AI yang membanjiri tangga lagu global.

Studi terbaru menunjukkan dampak signifikan konten AI terhadap pengalaman pengguna platform digital. Sebuah studi dari Kapwing menemukan bahwa 59% video di halaman FYP TikTok pengguna baru adalah konten AI slop. Sementara itu, para CEO mulai melarang karyawan menggunakan ChatGPT karena kekhawatiran terhadap kualitas konten yang dihasilkan.

Kisah tentang wanita yang diadili dalam cerita BIGBEN berakhir dengan rencana suaminya untuk menjebaknya digagalkan oleh putranya yang berusia 9 tahun. Anak tersebut menanam perekam digital di kantor ayahnya yang membuktikan ketidakbersalahan narator dan membuat suaminya dipenjara. Sebuah akhir yang rapi, namun hampa karena ini adalah kisah palsu yang dibuat hanya untuk klik.

X sendiri tidak memberikan jawaban jelas mengenai bagaimana perusahaan memandang cerita buatan AI yang membanjiri feed pengguna. Perusahaan yang kini menjadi bagian dari xAI yang kemudian bergabung dengan SpaceX ini tidak menjawab pertanyaan terkait kebijakan mereka terhadap konten semacam ini.

Sebagian besar cerita ini disajikan secara palsu sebagai narasi orang pertama yang benar, meskipun cukup jelas bahwa cerita tersebut dibuat-buat. Dalam banyak kasus, para kreator menggambarkan diri mereka di profil sebagai pendongeng. Sulit untuk membuktikan bahwa penulis sebenarnya adalah model AI, tetapi mayoritas menunjukkan tanda-tanda tersebut.

Postingan-postingan ini manipulatif dan jauh dari kata autentik. Profesor Rob Cover menjelaskan bahwa struktur formal cerita-cerita ini menjadi ciri khas yang mudah dikenali. Penggunaan tropes yang sama berulang kali dengan pola narasi yang identik menunjukkan bahwa konten tersebut dihasilkan oleh algoritma, bukan pengalaman manusia yang sebenarnya.

Para kreator AI slop ini tampaknya telah menemukan celah dalam sistem monetisasi X. Dengan memanfaatkan keinginan dasar manusia akan keadilan dan pembalasan, mereka mampu menghasilkan pendapatan yang signifikan tanpa harus membuat konten orisinal yang bermakna.

Dampak dari fenomena ini masih terus berkembang. Platform-platform lain mulai mengambil langkah untuk membatasi penyebaran konten AI slop. Industri musik, misalnya, sedang menghadapi tekanan dari label-label besar untuk melarang konten AI dari tangga lagu. Sementara itu, pengguna platform digital semakin sering menemukan konten buatan AI yang tidak mereka sadari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem insentif berbasis engagement memiliki kelemahan mendasar. Ketika pembayaran didasarkan pada jumlah views dan interaksi, bukan kualitas konten, maka akan selalu ada pihak yang mencari cara termudah untuk memanipulasi sistem tersebut. AI menjadi alat yang sempurna untuk tujuan ini karena mampu menghasilkan konten dalam jumlah besar dengan cepat dan murah.

Bagi pengguna X, fenomena ini berarti mereka harus lebih kritis terhadap konten yang mereka baca di platform. Cerita-cerita dramatis dengan narasi orang pertama yang terlalu sempurna mungkin saja merupakan hasil rekayasa AI yang dirancang untuk memanipulasi emosi dan mendapatkan engagement.

Ke depannya, platform seperti X perlu mengevaluasi kembali kebijakan mereka terkait konten buatan AI. Keseimbangan antara mendorong kreativitas dan mencegah penyalahgunaan sistem menjadi tantangan yang harus dihadapi. Tanpa pengawasan yang memadai, program monetisasi berbasis engagement akan terus menjadi lahan subur bagi kreator konten AI slop.

Kisah BIGBEN dan para kreator sejenisnya menjadi contoh nyata bagaimana insentif finansial dapat mendorong produksi konten yang jauh dari kata autentik. Meskipun cerita-cerita tersebut relatif tidak berbahaya dibandingkan konten berbahaya lainnya, keberadaannya tetap menjadi masalah karena melanggar semangat program yang bertujuan mendorong konten berkualitas.

Perkembangan ini juga menjadi peringatan bagi platform lain yang memiliki program monetisasi serupa. Tanpa mekanisme deteksi dan penegakan aturan yang efektif, AI slop akan terus membanjiri platform dan merusak pengalaman pengguna yang mencari konten autentik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.