📑 Daftar Isi

Deklarasi Asosiasi Media Teknologi Indonesia AMATI di Jakarta

AMATI Rilis Riset: Media Ternyata Jadi Sumber Utama Jawaban AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • AMATI resmi berdiri dan merilis riset tentang peran media di era AI
  • Riset membuktikan liputan media menjadi sumber utama jawaban AI
  • Samsung kuasai 64% narasi AI di media massa Indonesia
  • Tiga platform AI (Claude, Gemini, ChatGPT) serempak rekomendasikan Samsung
  • Media tetap menjadi aktor utama dalam krisis korporasi
  • AI bukan akhir media, melainkan peluang baru
  • AMATI berkomitmen pada empat pilar: kredibilitas, brand safety, adaptasi AI etis, ekosistem digital

Telset.id – Asosiasi Media Teknologi Indonesia (AMATI) resmi berdiri dan merilis temuan riset yang membuktikan bahwa liputan media massa menjadi sumber utama jawaban yang diberikan oleh kecerdasan buatan (AI). Riset ini dipaparkan dalam panel diskusi strategis bertajuk “Managing Communication in the AI Era: Strengthening Media’s Role as a Strategic Partners for Brand/Corporate” yang digelar di Jakarta pada 22 Mei 2026.

Acara yang didukung oleh Telkom Indonesia, Advo, dan Samsung ini mempertemukan praktisi Public Relations (PR), pimpinan redaksi, serta perwakilan merek teknologi. Diskusi menyoroti perubahan drastis lanskap komunikasi akibat AI dan disrupsi digital, serta peran krusial media arus utama dalam menangani krisis korporasi.

Riset AMATI menggarisbawahi perubahan perilaku audiens yang kini lebih sering bertanya langsung kepada AI dibandingkan membaca artikel. Namun, riset ini membuktikan bahwa AI tidak memiliki opini sendiri; setiap jawaban AI bersumber dari jurnalisme yang ditulis dan diterbitkan oleh media.

Riset Ungkap Dominasi Narasi Samsung di AI

Sebuah studi kasus konkret dalam riset ini membedah narasi ‘Kecerdasan Buatan’ (Artificial Intelligence) di ranah ponsel pintar. Riset menemukan bahwa merek Samsung secara dominan menguasai 64% narasi terkait ‘Kecerdasan Buatan’ di media massa Indonesia. Akibat dari dominasi pemberitaan media ini, narasi tersebut mengendap ke dalam model AI.

Hasilnya, saat ditanya mengenai “HP dengan fitur AI terbaik”, tiga platform AI terbesar yang berbeda—Claude, Gemini, dan ChatGPT—secara serempak memberikan jawaban yang sama: merekomendasikan produk Samsung, seperti Galaxy S24 Ultra.

“Liputan media hari ini akan menjadi jawaban AI di hari esok, dan pada akhirnya akan menjadi fondasi kepercayaan publik di lusa hari,” kata Hamzah, Pemimpin Redaksi Telset, dalam presentasinya di acara diskusi dan deklarasi AMATI di Jakarta.

Panel diskusi AMATI di Jakarta

Kritik Tajam soal Kerancuan KOL dan Buzzer

Mengawali diskusi, Bambang Moegono, Founding Board Member Strategic Asia Marketing Alliance Indonesia (SAMA), menyoroti paparan riset dari Hamzah mengenai ledakan data dan pergeseran pola komunikasi yang kini tidak lagi berjalan linear. Bambang menyebut masa ini sebagai “era konvergensi”, kondisi ketika ancaman terhadap reputasi brand bisa datang dari mana saja, bahkan dari perilaku staf internal perusahaan yang kemudian diamplifikasi oleh publik di media sosial.

Terkait strategi komunikasi brand saat ini, Bambang memberikan kritik tajam mengenai kerancuan industri dalam memahami konsep Key Opinion Leader (KOL) yang sering kali disamakan dengan buzzer berbayar. “Sekarang banyak sekali yang didefinisikan sebagai KOL tapi dia hanya punya kekuatan untuk buzzing, jadi rancu ya antara KOL dengan buzzer sebenarnya,” tegas Bambang.

Ia mengingatkan kembali esensi dasarnya: “Yang KOL adalah satu entah itu person entah itu lembaga tapi expert dan menguasai bidangnya yang mampu menghadirkan pesan yang kredibel, bereputasi dan didasari oleh expertise,” jelasnya.

AMATI (Asosiasi Media Teknologi Indonesia

Media Tetap Aktor Utama dalam Krisis Korporasi

Berbicara mengenai manajemen krisis, Uday Rayana, Pemimpin Redaksi Selular yang bertindak sebagai moderator dan panelis, mengingatkan kembali beberapa studi kasus krisis besar yang pernah menimpa korporasi, seperti kasus keluhan pasien RS Omni hingga isu halal di restoran Solaria. Uday menegaskan bahwa pada titik krisis yang mengancam keberlangsungan bisnis, perusahaan tidak bisa menyandarkan nasibnya pada influencer, melainkan harus kembali kepada media.

“Reputasi itu kan jujur saja kalau kami sebagai media masih melihat reputasi itu di-build oleh media bukan oleh influencer faktanya,” ungkap Uday. Ia menjelaskan bahwa peran influencer lebih condong pada dorongan konversi penjualan sesaat atau product oriented, sementara fondasi kepercayaan publik (trust) hanya bisa dibentuk melalui validasi jurnalistik di media.

Pandangan ini diamini sepenuhnya oleh Bambang. Ia menekankan bahwa dalam situasi krisis, media massa tidak menerima bayaran untuk memutarbalikkan fakta, sehingga posisinya sangat kuat untuk membangun trust di mata publik. “Media tetap menjadi satu aktor utama, satu aktor terpenting dalam situasi apapun termasuk dalam crisis sebagai partner dari teman-teman komunikasi sebagai partner validasi,” kata Bambang.

Lebih jauh, Bambang menambahkan, “Publik akan melihat bahwa apa yang disampaikan oleh media adalah informasi yang memang terpercaya. Berbeda dengan akun-akun yang memang paid itu ya ibaratnya memang diposisikan sebagai buzzer,” tandasnya.

AMATI (Asosiasi Media Teknologi Indonesia

AI Bukan Akhir Media, Melainkan Peluang Baru

Terkait ancaman AI, para panelis sepakat bahwa hal ini bukanlah akhir dari media massa, melainkan peluang baru. AI dinilai tidak akan gegabah mengambil referensi dari akun-akun media sosial yang tidak kredibel karena hal itu akan menghancurkan reputasi mesin AI itu sendiri. Oleh karena itu, AI akan selalu bergantung pada karya jurnalistik media terpercaya.

Diskusi juga berlangsung interaktif dengan para hadirin yang juga pelaku industri mengemukakan pendapatnya. Diskusi merujuk pada sebuah kesamaan persepsi: media konvensional saat ini memegang peran ganda yang krusial bagi sebuah brand. Di satu sisi, media menjadi penyuplai kebenaran bagi mesin AI masa kini dan masa depan. Di sisi lain, media tetap menjadi benteng pertahanan dan mitra validasi yang paling diandalkan saat perusahaan menghadapi potensi krisis dari kebisingan media sosial.

Bambang Moegono (Founding Board Member Strategic Asia Marketing Alliance Indonesia (SAMA)

Menutup diskusi, Bambang memberikan pandangan optimis kepada rekan-rekan media yang tergabung dalam AMATI untuk tidak gamang dan terus berinovasi memanfaatkan AI sebagai alat pembaca profil audiens demi memenangkan persaingan bisnis. “Era AI saya rasa tidak akan membunuh media kalau bisa mengoptimalkan secara optimal. Justru di era AI inilah teman-teman media bisa mencari solusi agar kembali lagi nih memegang hegemoni pendistribusian media kepada publik,” pungkas Bambang.

Deklarasi AMATI: Empat Komitmen untuk Jurnalisme Teknologi

Bersamaan dengan acara diskusi, AMATI juga menggelar acara deklarasi pendirian asosiasi. Didirikan untuk merespon perkembangan terkini di industri seperti era transformasi digital dengan perkembangan AI yang masif serta dinamika media sosial yang telah mengubah cara informasi diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi.

Oleh karena informasi teknologi yang akurat, kredibel, dan tervalidasi adalah hak dasar masyarakat serta menjadi pondasi utama bagi kemajuan ekosistem digital nasional, maka di tengah banjir informasi dan kebisingan digital, diperlukan peran media profesional yang berfungsi sebagai kompas strategis guna memberikan arah yang benar bagi publik dan pemilik merek.

Pendirian AMATI bertumpu pada empat komitmen utama untuk mengamankan masa depan jurnalisme teknologi di Indonesia:

  • Menjadi Pilar Kredibilitas: AMATI berkomitmen menjaga integritas jurnalistik di atas kepentingan algoritma, memastikan setiap informasi teknologi yang disajikan melalui platform masing-masing media anggota telah melalui proses verifikasi yang ketat.
  • Menjamin Keamanan Merek (Brand Safety): AMATI berjanji menyediakan ekosistem media yang sehat dan aman bagi mitra strategis, yakni para pemilik merek dan praktisi komunikasi, guna membangun reputasi yang berkelanjutan di tengah tantangan AI.
  • Adaptasi Teknologi yang Etis: AMATI akan memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, tanpa mengorbankan kualitas intelektual dan sentuhan manusia yang menjadi inti dari kepercayaan publik.
  • Membangun Ekosistem Digital Nasional: AMATI siap menjadi mitra strategis pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam mengawal kebijakan serta tren teknologi global demi kemajuan Indonesia.

Acara diskusi ini menjadi tonggak baru dalam industri. AMATI sendiri akan secara rutin menggelar diskusi strategis yang relevan dengan kondisi terkini.

Suasana diskusi AMATI

Fenomena ini juga sejalan dengan dinamika reputasi figur publik yang kerap menjadi sorotan. Popularitas Elon Musk yang anjlok drastis menjadi contoh bagaimana pemberitaan media membentuk persepsi publik dan pada akhirnya memengaruhi output AI.

Selain itu, kasus keamanan data seperti iCloud iPhone bermasalah juga menunjukkan betapa pentingnya liputan media yang kredibel dalam memberikan informasi yang akurat kepada publik dan menjadi referensi bagi AI.

Komentar

Belum ada komentar.