Telset.id – Riset terbaru mengungkapkan bahwa 73% UKM di Inggris khawatir terhadap masalah privasi data dalam proses manajemen dokumen mereka. Ironisnya, 55% dari UKM yang sama menganggap printer sebagai prioritas rendah dalam strategi keamanan siber mereka. Kesenjangan ini menciptakan celah yang dapat dieksploitasi peretas untuk mengakses alur kerja sensitif atau bergerak secara lateral di dalam jaringan.
Printer, meskipun menangani informasi sensitif seperti data penggajian, kontrak, dan catatan pelanggan, seringkali luput dari pengawasan keamanan. Kurangnya visibilitas terhadap siapa yang mencetak apa dan di mana membuat organisasi tidak memiliki cara untuk melindungi data tersebut. Satu hasil pindaian yang salah sasaran atau dokumen cetak yang tertinggal di baki sudah cukup untuk membocorkan informasi rahasia.
Menurut Quocirca, 74% UKM pernah mengalami insiden kehilangan data terkait pencetakan dalam setahun terakhir. Lebih lanjut, 33% menyatakan bahwa dokumen yang dicetak di printer rumahan milik karyawan kini menjadi faktor utama kehilangan data. Faktor perilaku juga memperparah masalah, dengan 47% UKM percaya bahwa karyawan mencoba mem-bypass pedoman keamanan cetak perusahaan.

Sementara itu, 63% UKM berasumsi printer mereka aman karena berada di belakang firewall, dan setengahnya tidak menganggap printer sebagai ancaman keamanan sama sekali. Temuan ini menunjukkan celah keamanan yang jelas: alur kerja cetak yang menangani data sensitif di lingkungan terdistribusi tidak diamankan, dipantau, atau diatur dengan standar yang sama seperti perangkat lainnya.
Baca Juga:
Hampir tiga perempat (73%) UKM sering khawatir tentang risiko yang ditimbulkan oleh sistem usang mereka. Printer lama dengan firmware yang tidak ditambal dan kredensial bawaan (default credentials) secara diam-diam memproses dan menyimpan data sensitif tanpa pengelolaan yang memadai. Printer yang disusupi dapat menjadi titik masuk ke sistem bisnis yang lebih luas.
Kekhawatiran tidak terbatas pada perangkat keras saja, tetapi juga mencakup eksposur keamanan siber yang terkait dengan printer yang terhubung, kerentanan saat dokumen pindaian bergerak melalui cloud, dan risiko akses tidak sah ke antrian cetak. Masalah sehari-hari seperti dokumen rahasia yang ditinggalkan begitu saja dan kesulitan melacak informasi dalam bentuk fisik juga menjadi perhatian.
Risiko-risiko ini dapat dikelola, tetapi hanya jika UKM memperlakukan cetak dan pindai sebagai bagian dari perimeter keamanan. Tanpa ini, ketahanan di seluruh alur kerja hybrid menjadi tebakan belaka.
Masa depan kerja tidak hanya tentang cloud dan AI, tetapi juga tentang mengamankan proses dokumen sehari-hari yang memindahkan data sensitif lintas lingkungan fisik dan digital.
Meskipun prioritasnya rendah, hampir enam dari sepuluh (63%) UKM di Inggris mengakui bahwa keamanan cetak perlu ditingkatkan. Untuk mengamankan masa depan kerja, organisasi membutuhkan fondasi perangkat keras cetak yang aman dan perlindungan yang sejalan dengan ancaman yang terus berkembang.
Pencetakan cerdas (smart printing) membangun fondasi perangkat keras yang aman ini dengan menanamkan visibilitas, penegakan kebijakan, dan jejak audit langsung ke dalam alur kerja cetak dan pindai. Dari UKM yang telah mengadopsi pencetakan cerdas, 89% mengatakan hal itu memberikan visibilitas yang lebih jelas ke dalam aktivitas pencetakan dan pemindaian, 86% mengatakan hal itu membantu memenuhi standar kepatuhan dan keamanan, dan 85% mengatakan hal itu meningkatkan penegakan aturan dan pembatasan.

Saat kita menyelami lebih dalam masa depan kerja, printer perlu dibawa ke dalam strategi keamanan yang lebih luas. Pelanggaran data yang berasal dari printer bisa sama merusaknya dengan yang melibatkan perangkat atau jaringan yang disusupi, dengan potensi kerugian finansial yang signifikan, hukuman regulasi, dan kerusakan reputasi.
Printer bukan sekadar perlengkapan kantor. Mereka adalah bagian dari infrastruktur digital yang mendukung pekerjaan modern. Seiring alur kerja cetak dan pindai menjadi lebih digital dan terhubung ke cloud, printer layak mendapatkan perhatian keamanan yang sama seperti perangkat lainnya.
Dalam praktiknya, itu berarti UKM membutuhkan tiga hal: perangkat keras yang aman sebagai fondasi, keamanan yang sejalan dengan ancaman baru, serta visibilitas dan kontrol untuk menjaga ketahanan dalam skala besar. Membawa printer ke dalam strategi keamanan adalah langkah praktis menuju perlindungan data sensitif di dunia di mana pekerjaan dan risiko sama-sama terdistribusi.





Komentar
Belum ada komentar.