Apple memori chip CXMT China

Apple Minta Restu Pemerintah AS untuk Beli Chip China

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Apple secara resmi meminta persetujuan pemerintah AS untuk membeli chip DRAM dari CXMT China
  • CXMT masuk daftar hitam Pentagon karena dugaan keterkaitan dengan militer China
  • Apple ingin restu Gedung Putih agar tidak menanggung risiko reputasi dan politik
  • Kenaikan harga produk Apple menghapus nilai pasar $263 miliar dalam satu hari
  • Apple sebelumnya pernah mempertimbangkan langkah serupa dengan YMTC pada 2022
  • Keputusan akhir masih belum pasti karena mendapat tentangan dari anggota Kongres AS

Telset.id – Apple secara resmi meminta persetujuan pemerintah Amerika Serikat untuk membeli chip memori dari pemasok China yang masuk daftar hitam militer. Langkah ini diambil setelah kenaikan harga produk Apple yang signifikan akibat krisis memori global.

Apple melobi pemerintahan Presiden Trump untuk mendapatkan izin membeli chip DRAM dari CXMT (ChangXin Memory Technologies). CXMT adalah perusahaan chip China yang masuk dalam daftar hitam Pentagon karena dugaan keterkaitan dengan militer China.

Yang diminta Apple sebenarnya bukan sekadar izin membeli. Secara hukum, Apple tidak dilarang untuk bersumber dari pemasok China. Namun, perusahaan asal Cupertino itu ingin mendapatkan restu dari Gedung Putih agar tidak menanggung risiko reputasi dan politik karena bekerja sama dengan perusahaan yang masuk daftar hitam Pentagon.

Menurut laporan Financial Times, Apple telah mendekati Departemen Perdagangan AS lebih dari sebulan yang lalu. Sejak itu, perusahaan terus berkoordinasi dengan berbagai kontak di pemerintahan untuk mendapatkan restu resmi.

CXMT sendiri sudah disetujui untuk tercatat di Bursa Efek Shanghai. Perusahaan ini merupakan andalan China dalam manufaktur chip DRAM, kategori memori yang sama yang saat ini Apple pasok dari Micron, Samsung, dan SK Hynix.

Apakah Apple Akan Mendapatkan Lampu Hijau?

Keputusan akhir masih jauh dari pasti. John Moolenaar, ketua Komite China DPR dari Partai Republik, mengatakan kepada FT bahwa langkah ini akan menjadi kesalahan besar.

Departemen Perdagangan AS sebelumnya sudah memasukkan CXMT ke dalam paket daftar entitas yang dimaksudkan tahun lalu. Namun, Gedung Putih menahannya selama negosiasi dagang dengan China.

Apple sendiri pernah menghadapi reaksi serupa pada tahun 2022. Saat itu, perusahaan mempertimbangkan untuk membeli memori dari YMTC, perusahaan chip China lain yang masuk daftar hitam Pentagon, untuk iPhone yang dijual khusus di China.

RAM sticks on concrete surface

Dampak Kenaikan Harga Produk Apple

Keputusan Apple menaikkan harga produk pada Kamis lalu menghapus nilai pasar senilai $263 miliar dalam satu hari. Ini merupakan penurunan nilai pasar harian terbesar kedua dalam sejarah perusahaan.

Penurunan dramatis ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap kebijakan harga Apple. Perusahaan tampaknya tidak ingin mengambil risiko reputasi lebih lanjut, terutama di mata pemerintah AS.

Latar Belakang Krisis Memori

Krisis memori yang memburuk dari hari ke hari menjadi alasan utama Apple mengambil langkah ini. Kenaikan harga produk Apple yang terjadi beberapa hari lalu merupakan respons langsung terhadap situasi rantai pasokan yang sulit.

Dengan mendiversifikasi pemasok ke CXMT, Apple berharap bisa menekan biaya produksi dan menghindari kenaikan harga lebih lanjut. Namun, risiko politik yang menyertainya membuat langkah ini tidak sederhana.

Apple shortcuts WWDC featured imge

Implikasi bagi Konsumen

Jika Apple berhasil mendapatkan restu, konsumen bisa melihat harga produk Apple yang lebih stabil ke depannya. Namun, jika gagal, bukan tidak mungkin kenaikan harga akan terus berlanjut.

Saat ini, Apple terus menjajaki berbagai opsi untuk mengatasi tekanan biaya produksi. Mulai dari negosiasi dengan pemasok eksisting hingga mencari sumber alternatif seperti CXMT.

Keputusan pemerintah AS dalam beberapa minggu ke depan akan menjadi penentu arah kebijakan rantai pasokan Apple selanjutnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.