Telset.id – Puluhan data center di Amerika Serikat terbukti mencemari lingkungan dengan membuang limbah air yang mengandung bahan kimia berbahaya, logam berat, hingga bakteri langka ke fasilitas pengolahan air dan saluran air publik. Pelanggaran tercatat terjadi di Wyoming, Virginia, New York, dan Georgia, namun masalah ini diperkirakan jauh lebih luas di seluruh AS.
Meta menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak. Raksasa teknologi itu baru-baru ini dipaksa menghentikan pembuangan air limbah dari lokasi pembangunan kampus Cheyenne seluas 960 hektare setelah bakteri resisten bernama Cupriavidus gilardii ditemukan di fasilitas pengolahan air setempat. Bakteri tersebut teridentifikasi setelah regulator menguji sampel dari 801.000 galon air yang telah dibuang Meta ke saluran pembuangan Cheyenne.

Kekhawatiran muncul karena warga setempat berisiko menghirup tetesan air yang terkontaminasi jika air tersebut digunakan untuk irigasi. Akibatnya, pejabat setempat memutuskan untuk berhenti menerima air limbah dari lokasi konstruksi tersebut. Dua fasilitas pengolahan air terpaksa dihentikan operasinya sebagai bagian dari operasi dekontaminasi dan pembersihan yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Kontraktor Meta yang bertanggung jawab atas situs tersebut, Goat Systems, saat ini sedang mengajukan banding atas keputusan pejabat untuk berhenti menerima air limbah dari lokasi tersebut.
Pelanggaran Lingkungan di Berbagai Negara Bagian
Masalah pencemaran air ini tidak hanya terjadi di Wyoming. Sejumlah data center di Virginia juga menghadapi tindakan penegakan hukum dari otoritas setempat karena melanggar peraturan air limbah dan lahan basah. Dalam salah satu kasus, sebuah data center yang sedang dibangun di West Virginia mengalirkan limpasan air hujan ke area pemukiman setempat hingga menyebabkan banjir sebanyak dua kali.
Di New York, sebuah data center di dekat Danau Seneca menghadapi kritik dari organisasi Seneca Lake Guardian. Situs tersebut sebelumnya merupakan data center penambangan cryptocurrency, namun kini beralih untuk menangani beban kerja AI. Seneca Lake Guardian menyatakan bahwa air limbah dari situs tersebut mengalir langsung ke Danau Seneca dengan suhu mencapai 108 derajat Fahrenheit (42 derajat Celsius), yang dapat membahayakan ikan di danau dan menyebabkan mekarnya alga beracun. Perusahaan di balik data center tersebut, Vulcan Infrastructure and Power, menyatakan bahwa mereka mematuhi semua hukum lingkungan yang relevan.

Sementara itu, sejumlah data center baru di Georgia telah disetujui untuk mengambil air dari Sungai Chattahoochee. Namun, para pengawas lingkungan setempat seperti direktur kebijakan air di Chattahoochee Riverkeeper, Chris Manganiello, mengaku tidak memiliki informasi sama sekali tentang berapa banyak air yang akan diambil dari sungai tersebut dan apa yang akan dibuang kembali.
“Kami perlu tahu apa yang ada di dalam air limbah ini, tetapi ada kekosongan informasi,” kata Manganiello kepada The Guardian. “Saya berharap tidak ada lebih banyak Pfas (bahan kimia abadi) yang masuk ke sungai, tetapi ada tingkat kecemasan ini karena kami tidak tahu apa yang ada di sana.”
Sistem Pendinginan dan Risiko Kontaminasi
Data center memompa air melalui pipa sepanjang bermil-mil yang melintasi perangkat keras mereka untuk membuang panas berlebih. Meskipun telah ada upaya menuju teknologi pendinginan “loop tertutup” di mana air yang digunakan didaur ulang dalam sistem, masih ada kekhawatiran lingkungan yang valid terkait sistem ini.
Sebelum menggunakan sistem loop tertutup, pipa-pipa perlu dibilas dengan air untuk membersihkan kotoran atau kontaminan yang menumpuk selama perakitan. Air ini kemudian dibuang kembali ke saluran pembuangan untuk dibersihkan oleh pabrik pengolahan setempat. Namun, banyak pabrik pengolahan air tidak dibangun untuk menangani penyaringan air yang mengandung kontaminan industri, termasuk logam berat atau Pfas yang dapat menyebabkan masalah kesehatan pada manusia dan hewan.

Data center juga dibangun di daerah yang dilanda kekeringan, sebagian besar karena harga lahan yang murah. Hal ini menambah tekanan pada permukaan air tanah yang sudah bermasalah. Data center dapat menggunakan ratusan ribu galon air per hari untuk tetap beroperasi. Meskipun sistem loop tertutup memastikan air ini hanya diambil dari siklus sekali saja, jumlah air yang signifikan tetap menjadi beban bagi daerah yang mengalami kekeringan.
Informasi tentang penggunaan dan pembuangan air untuk banyak data center sulit didapatkan atau bahkan sengaja diblokir. Hal ini membuat pengawasan publik terhadap dampak lingkungan industri ini menjadi sangat terbatas.
Baca Juga:
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa industri data center yang berkembang pesat, terutama untuk mendukung beban kerja AI, memiliki dampak lingkungan yang serius terhadap sumber daya air. Tanpa transparansi dan regulasi yang lebih ketat, masalah pencemaran air ini berpotensi terus meluas seiring dengan semakin banyaknya data center yang dibangun di seluruh AS.

Penghentian pembuangan air limbah di Cheyenne menjadi preseden penting bagaimana regulator dapat bertindak tegas terhadap pelanggaran lingkungan oleh perusahaan teknologi besar. Keputusan ini juga menyoroti perlunya standar yang lebih jelas mengenai pengelolaan air limbah industri data center, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran publik tentang dampak industri AI terhadap lingkungan.





Komentar
Belum ada komentar.