otak manusia juga bisa di-hack

Upps.. Di Masa Depan, Otak Manusia Juga Bisa Diretas

Penulis:Muhammad Faisal Hadi Putra
Terbit:
Diperbarui:29 Juni 2020
ā±ļø2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id, Jakarta – Saat ini peretasan yang dilakukan para hacker mamang baru sebatas pada perangkat elektronik, sepertiĀ smartphone, PC, laptop, tablet, dan juga Smart TV. Tapi apakah Anda bisa membayangkan, nantinya di masa depan otak manusia juga bisa diretas?

Hal itu bisa terjadi karena nantinya perkembangan teknologi berbasisĀ neuro akan semakin pesat dan itu diawali dengan hadirnyaĀ brain-computer yang perlu diakui, memang sudah dilakukan penelitian awalnya oleh beberapa raksasa teknologi saat ini, sebut saja Neuralink yang digarap CEO SpaceX dan Tesla yakni Elon Musk.

[Baca juga:Ā Wow! Ilmuwan Temukan Cara ā€œUpload Ilmuā€ ke Otak]

ā€œPikiran merupakan tempat perlindungan terakhir dari kebebasan serta penentuan dari nasib seseorang, tapi dengan adanya kemajuan dalam teknikĀ neural (syaraf),Ā brain-imaging, danĀ neuro-technology, akan membuat kebebasan berpikiran menjadi beresiko,ā€ kata Marcello Lenca, seorang mahasiswa PhD di University of Basel seperti dilansirĀ Tim Telset.id dari Daily Mail, Selasa (02/05/1994).

Dengan adanya kemungkinan peretasan, para peneliti pun memilih untuk mengusulkan undang-undang hak asasi manusia yang baru untuk mempersiapkan kemajuan teknologi ini. Undang-undang yang diusulkan tersebut dipersiapkan untuk melindungi hak manusia dalam ā€œkebebasan berpikiranā€ yang mungkin akan terenggut karena teknologiĀ brain-computer tersebut.

[Baca juga:Ā Lupakan CT Scan, Alat Canggih Ini Bisa Deteksi Pendarahan di Otak]

Keempat undang-undang baru itu adalah Hak atas kebebasan kognitif, Hak atas privasi mental, Hak atas integritas dan Hak atas kontinuitas psikologis.

ā€œMeskipun kemajuan ini bisa bermanfaat bagi individu atau masyarakat, ada resiko bahwa teknologi ini dapat disalahgunakan yang bisa menciptakan ancaman yang belum pernah terjadi bagi pribadi kita,ā€ katanya.

[Baca juga:Ā Wanita Lumpuh Ini Bisa Berkomunikasi Berkat Otak Implan]

Well, jikaĀ brain-computer benar-benar hadir nantinya, semoga saja tidak akan berdampak negatif bagi kita sebagai pengguna teknologi ya. (FHP/HBS)