Ilustrasi pria Korea Selatan menyaksikan papan indeks saham di Seoul saat pasar saham mengalami tekanan besar akibat gelembung AI yang mulai pecah.

Gelembung AI Korea Selatan Mulai Pecah, Indeks Saham Anjlok 40 Persen

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Indeks Kopsi Korea Selatan anjlok lebih dari 40 persen dari level tertinggi Juni 2026 akibat gelembung AI yang mulai pecah.
  • SK Hynix gagal memuaskan investor meskipun melaporkan peningkatan laba kuartalan enam kali lipat.
  • Bursa Korea Exchange mengaktifkan circuit breaker dua kali berturut-turut pada 28-29 Juli 2026, pertama kali dalam sejarah.
  • Indeks Kosdaq juga mencapai level pemicu circuit breaker dua hari berturut-turut untuk ketiga kalinya.
  • Pemerintah Korea Selatan melarang listing ETF leveraged saham tunggal dan menggelar rapat darurat.
  • Menteri Keuangan Koo Yun Cheol siap mengambil langkah tambahan untuk menormalkan pasar.
  • Partai Kekuatan Rakyat menyerang pemerintah, menyebut negara berubah menjadi kasino.

Telset.id – Gelembung kecerdasan buatan atau AI yang selama ini mendongkrak pasar saham global mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan di Korea Selatan. Indeks harga saham gabungan Korea, Kopsi, anjlok lebih dari 40 persen dari level tertingginya pada Juni lalu, memicu kepanikan massal di bursa efek negara tersebut.

Penurunan drastis ini dipicu oleh kinerja SK Hynix, raksasa semikonduktor asal Korea Selatan. Meskipun melaporkan peningkatan laba kuartalan hingga enam kali lipat, para investor justru kecewa karena angka tersebut dinilai tidak cukup impresif di tengah euforia AI yang melambung tinggi. Ekspektasi pasar yang tidak realistis menjadi bumerang bagi stabilitas keuangan negara.

Ilustrasi pria Korea Selatan menyaksikan papan indeks saham di Seoul saat pasar saham mengalami tekanan besar.

Dilansir dari Seoul Economic Daily, kepanikan meluas pada 28 hingga 29 Juli 2026. Dalam rentang waktu tersebut, bursa Korea Exchange sampai harus mengaktifkan circuit breaker—semacam saklar pemutus otomatis yang menghentikan perdagangan selama 30 menit—sebanyak dua kali berturut-turut. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Kopsi dua circuit breaker dipicu secara beruntun.

Secara keseluruhan, ini baru kali ke-14 dan ke-15 circuit breaker Kopsi diaktifkan sepanjang sejarah bursa Korea Selatan. Angka tersebut menunjukkan betapa luar biasanya turbulensi yang melanda pasar keuangan Negeri Ginseng saat ini.

Tidak hanya Kopsi, indeks saham teknologi Korea Securities Dealers Automated Quotations (Kosdaq) juga mengalami nasib serupa. Kosdaq mencapai level yang memicu circuit breaker selama dua hari berturut-turut untuk ketiga kalinya dalam sejarah. Dua insiden sebelumnya terjadi pada tahun 2020 dan 2008, yang memberikan gambaran betapa jarang dan gentingnya situasi ini.

Pemerintah Korea Selatan pun bergerak cepat untuk meredam kepanikan. Langkah awal yang diambil adalah melarang pencatatan saham baru (listing) untuk ETF leveraged saham tunggal. Produk keuangan berisiko tinggi ini dinilai menjadi salah satu pemic utama kepanikan karena menawarkan imbal hasil berlipat namun juga kerugian yang berlipat.

Namun, kebijakan tersebut terbukti belum cukup untuk menghentikan arus keluar miliaran dolar dari pasar saham Korea. Menurut laporan Bloomberg, para pejabat pemerintah kini menggelar rapat darurat untuk membahas langkah-langkah tambahan guna menstabilkan pasar.

“Kami sudah menerapkan sejumlah langkah, namun jika diperlukan kami akan memperkenalkan langkah tambahan untuk membantu menormalkan pasar,” ujar Menteri Keuangan Koo Yun Cheol kepada para anggota parlemen, seperti dikutip Bloomberg. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa pemerintah masih memiliki ammunition kebijakan yang siap ditembakkan jika tekanan pasar terus berlanjut.

Situasi ini juga menjadi amunisi politik bagi partai oposisi. Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party) yang beraliran konservatif langsung memanfaatkan kepanikan finansial untuk menyerang penanganan pemerintah. Anggota parlemen Lee Jongwook dengan gamblang menyatakan bahwa “negara ini telah berubah menjadi kasino.”

Pernyataan tersebut mencerminkan kekecewaan publik terhadap volatilitas ekstrem yang terjadi. Pasar saham yang seharusnya menjadi tempat investasi jangka panjang berubah menjadi arena spekulasi berisiko tinggi, terutama karena maraknya produk derivatif yang terkait dengan saham AI.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa gelembung AI yang telah mendorong pasar saham global ke level tertinggi sepanjang masa tidak selamanya bisa bertahan. Ketika ekspektasi investor tidak sejalan dengan realitas fundamental perusahaan, koreksi tajam seperti yang terjadi di Korea Selatan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Langkah pemerintah Korea Selatan ke depan akan menjadi kunci. Apakah mereka mampu mengembalikan kepercayaan investor dan mencegah krisis keuangan yang lebih luas? Ataukah kepanikan ini hanya awal dari koreksi yang lebih dalam? Yang jelas, gelembung AI di Korea Selatan telah mulai pecah, dan dampaknya mungkin akan dirasakan oleh pasar keuangan global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.