Telset.id – Keyakinan publik terhadap klaim Elon Musk soal kemampuan Full Self-Driving (FSD) Tesla kembali mendapat pukulan telak. Sebuah laporan investigasi Reuters mengungkap bahwa para mantan pekerja internal yang membangun sistem otonom tersebut justru tidak percaya pada keamanan teknologi yang mereka kembangkan sendiri.
Wawancara dengan sembilan mantan data labeler dan seorang mantan insinyur self-driving Tesla mengungkap fakta mengejutkan: tujuh dari mereka secara terang-terangan mengaku tidak akan menaiki Tesla yang beroperasi dalam mode FSD. Bahkan, salah satu mantan pekerja menyatakan tidak akan menaiki robotaxi Tesla “meskipun dibayar,” seperti dikutip dalam laporan tersebut.
“Kami semua pernah melihatnya gagal,” ujar seorang insider Tesla kepada Reuters. Seorang mantan insinyur self-driving menambahkan pernyataan yang lebih keras, “Jelas jangan percaya Elon soal ini,” merujuk pada klaim Musk yang menyatakan kendaraan tersebut siap untuk perjalanan ‘tanpa pengawasan yang aman’.

Pelanggaran Kecepatan Dianggap Sepele
Setidaknya lima data labeler, yang tugasnya menyaring berjam-jam rekaman FSD untuk melatih perangkat lunak agar menghindari kesalahan masa lalu, mengungkapkan temuan kritis. Mereka secara rutin melihat cuplikan Tesla yang melaju di atas batas kecepatan. Ironisnya, masalah ini dianggap oleh para insinyur dan manajer sebagai prioritas rendah dibandingkan dengan isu-isu ‘edge-case’ lainnya.
Sikap ini memunculkan pertanyaan serius tentang budaya keselamatan di Tesla. Alih-alih memperbaiki pelanggaran mendasar seperti kecepatan berlebih, tim pengembang justru lebih fokus pada skenario langka yang mungkin tidak akan pernah dihadapi pengemudi. Temuan ini juga memperkuat kekhawatiran bahwa proses pelatihan FSD memiliki celah fundamental.
Baca Juga:
Kekhawatiran para insider ini muncul di tengah meningkatnya insiden yang melibatkan Tesla dalam mode FSD. Dalam beberapa bulan terakhir, kendaraan Tesla yang beroperasi dengan FSD tercatat telah menerjang danau, jatuh dari jembatan, bahkan melaju ke jalur kereta yang akan melintas. Ini hanyalah insiden yang mendapat sorotan media; kemungkinan masih banyak lagi kejadian serupa yang tidak terlaporkan.
Dengan akses langsung ke data rekaman FSD milik Tesla yang berkapasitas terabyte, pernyataan para mantan pekerja ini memiliki bobot yang sangat kuat. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari ‘melihat’ sendiri bagaimana sistem otonom Tesla benar-benar berperilaku di jalan raya, bukan hanya mendengar klaim pemasaran dari pucuk pimpinan perusahaan.
Laporan ini menambah daftar panjang keraguan terhadap janji FSD di China dan berbagai pasar global. Sebelumnya, Tesla juga telah mengakui bahwa perangkat keras HW3 tidak mampu menjalankan FSD secara penuh dan berjanji akan melakukan retrofit ke HW4, sebuah pengakuan tersirat bahwa fondasi teknis awal mereka tidak memadai.
Sementara itu, persaingan di industri kendaraan otonom dan robot humanoid semakin memanas. Meta baru-baru ini mengakuisisi startup robot humanoid, yang secara tidak langsung menjadi pesaing potensial bagi ambisi rencana rahasia Elon Musk untuk menggabungkan Tesla dan SpaceX.
Implikasinya jelas: selama data internal dari pembuat sistemnya sendiri masih meragukan keamanan produk, kepercayaan publik terhadap FSD Tesla akan terus terkikis. Tanpa kepercayaan, ambisi untuk meluncurkan layanan robotaxi komersial dalam skala besar hanyalah sebuah mimpi di siang bolong.





Komentar
Belum ada komentar.