Telset.id – Seorang insinyur Google bernama Michele Spagnuolo ditangkap FBI setelah meraup keuntungan ilegal senilai USD 1,2 juta atau sekitar Rp19 miliar melalui platform prediksi pasar Polymarket. Ia menggunakan akses internal data rahasia Google untuk memenangkan taruhan terkait orang yang paling banyak dicari di Google sepanjang 2025.
Spagnuolo, yang bekerja sebagai insinyur di Google, memanfaatkan posisinya untuk mengakses data internal perusahaan yang bersifat konfidensial. Informasi ini kemudian ia gunakan untuk memasang taruhan di Polymarket dengan akun bernama “AlphaRaccoon.” Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan pelanggaran serius terhadap kebijakan perusahaan dan hukum pasar modal.
Menurut dokumen pengadilan, Spagnuolo memasang taruhan total sebesar USD 2.754.092 sejak 15 Oktober hingga 4 Desember 2025. Ia membayar USD 381,12 untuk taruhan “ya” bahwa penyanyi-penulis lagu d4vd (David Anthony Burke) akan masuk dalam daftar orang paling banyak dicari tahun itu. Ia juga bertaruh USD 5 bahwa d4vd akan menjadi nomor satu dengan probabilitas “sedikit di atas 0%.”
Taruhan lain termasuk USD 613.000 untuk taruhan “tidak” bahwa Paus Leo akan menjadi orang paling banyak dicari, serta USD 500.000 bahwa Donald Trump tidak akan menduduki posisi tersebut. Ketika Google mengumumkan hasil pencarian paling populer, Spagnuolo mengantongi keuntungan ilegal lebih dari USD 1,2 juta.
Modus dan Dampak Hukum
Michele Spagnuolo didakwa dengan tiga pasal: penipuan komoditas, penipuan kawat, dan pencucian uang. Ia menghadapi hukuman maksimal 10 tahun penjara untuk pelanggaran Commodity Exchange Act, 20 tahun untuk penipuan kawat, dan 20 tahun untuk pencucian uang. Jika terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman maksimal untuk semua pasal, ia bisa mendekam di penjara hingga 50 tahun.
Dalam sidang yang digelar pada 28 Mei 2026, Spagnuolo dibebaskan dengan jaminan USD 2,2 juta disertai pembatasan perjalanan. Google telah menempatkannya dalam status cuti sementara. Juru bicara Google menyatakan, “Karyawan tersebut mengakses materi pemasaran kami menggunakan alat yang tersedia bagi semua karyawan, namun menggunakan informasi rahasia tersebut untuk memasang taruhan adalah pelanggaran serius terhadap kebijakan kami.”
James C. Barnacle Jr., Asisten Direktur FBI yang menangani kasus ini, menegaskan bahwa “FBI tetap berdedikasi untuk memburu para penipu yang mengkhianati majikan mereka demi keuntungan finansial pribadi.” Kasus ini menjadi preseden penting bagi regulasi pasar prediksi yang semakin populer di tahun 2026.
Fenomena insider trading di pasar prediksi bukanlah kasus terisolasi. Sebulan sebelumnya, seorang tentara pasukan khusus AS juga didakwa oleh kantor jaksa AS untuk Distrik Selatan New York karena menggunakan informasi orang dalam tentang penangkapan presiden Venezuela Nicolás Maduro untuk meraup USD 400.000 di Polymarket. Ia mengaku “tidak bersalah.”
Platform seperti Polymarket dan Kalshi memungkinkan pengguna bertaruh pada hasil dari pertanyaan biner (ya/tidak) dengan harga kontrak berkisar antara satu sen hingga satu dolar. Jika saham “Ya” dihargai 40 sen, itu berarti pasar meyakini ada probabilitas 40% bahwa peristiwa tersebut akan terjadi. Setelah peristiwa terjadi, saham pemenang bernilai USD 1,00 per lembar, sementara saham yang kalah tidak bernilai.
Spagnuolo diduga melanggar aturan dengan mengakses data internal Google yang tidak tersedia untuk publik. Hal ini menunjukkan betapa rentannya pasar prediksi terhadap penyalahgunaan informasi orang dalam, mirip dengan yang terjadi di pasar saham tradisional.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para profesional teknologi yang tergiur menggunakan akses istimewa mereka untuk keuntungan pribadi. Integritas pasar, baik itu pasar saham, komoditas, maupun pasar prediksi, harus dijaga agar kepercayaan publik tidak terkikis.
Polymarket sendiri tersedia sebagai aplikasi untuk perangkat iOS melalui App Store dan Android melalui Google Play Store. Platform ini juga memiliki versi website bagi pengguna yang lebih suka bertaruh melalui desktop. Dengan semakin populernya aplikasi ini di tahun 2026, risiko penyalahgunaan informasi orang dalam juga meningkat.
FBI dan otoritas terkait terus memantau aktivitas mencurigakan di platform prediksi. Kasus Spagnuolo menunjukkan bahwa penegakan hukum serius dalam memberantas insider trading, tidak peduli seberapa canggih metode yang digunakan pelaku. Para ahli memperkirakan akan ada lebih banyak kasus serupa di masa depan seiring pertumbuhan pasar prediksi.
Google sendiri telah bekerja sama dengan penegak hukum dalam penyelidikan ini. Perusahaan menegaskan bahwa pelanggaran kebijakan seperti ini tidak akan ditoleransi. Langkah tegas Google ini diharapkan dapat menjadi efek jera bagi karyawan lain yang mungkin tergoda untuk melakukan hal serupa.
Kasus ini menyoroti celah regulasi yang ada di pasar prediksi. Berbeda dengan pasar saham yang memiliki aturan ketat tentang insider trading, pasar prediksi masih relatif baru dan belum memiliki kerangka regulasi yang seketat itu. Namun, penegak hukum mulai menggunakan undang-undang yang ada untuk menjerat pelaku.
Dengan ancaman hukuman hingga 50 tahun penjara, Spagnuolo menghadapi konsekuensi berat atas tindakannya. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang bekerja di perusahaan teknologi besar dengan akses ke data sensitif: menggunakan informasi orang dalam untuk keuntungan pribadi adalah tindakan kriminal yang bisa berakibat fatal bagi karir dan kehidupan.





Komentar
Belum ada komentar.