Telset.id – Bayangkan dua raksasa teknologi yang pernah berjanji bertarung di dalam sangkar, tiba-tiba saling berkirim pesan hangat tentang politik dan bisnis. Itulah gambaran dinamis hubungan Elon Musk dan Mark Zuckerberg yang terungkap dari dokumen pengadilan terbaru. Bocoran percakapan pribadi mereka mengindikasikan sebuah aliansi singkat yang terjalin di awal pemerintahan Donald Trump, jauh dari narasi permusuhan yang selama ini digembar-gemborkan media.
Pada Februari 2025, saat dunia teknologi masih mencerna pivot kontroversial Meta dari moderasi konten, Zuckerberg mengirimkan pesan teks yang mendukung kepada Musk. Sang CEO Meta itu memuji kemajuan Department of Government Efficiency (DOGE) yang dikelola Musk dan bahkan menawarkan bantuan timnya untuk “menghapus konten” yang mengancam staf DOGE. Tawaran ini ironis, mengingat hanya beberapa minggu sebelumnya Zuckerberg mengumumkan komitmen barunya pada “ekspresi bebas”. Pesan ini, bersama percakapan lain, menjadi bagian dari gugatan hukum Musk terhadap Sam Altman dan OpenAI, membuka jendela baru tentang bagaimana persaingan dan persahabatan di puncak Silicon Valley bisa berbalik arah dengan cepat.
Hubungan mereka memang bagai rollercoaster. Dari tantangan cage match yang viral di 2023, mereka tampaknya menemukan common ground di tengah iklim politik Washington yang baru. Dokumen yang dirilis Jumat (28/3/2026) menunjukkan tanggal yang signifikan: 3 Februari 2025. Hari itu, seorang Jaksa AS berjanji melindungi pegawai DOGE, dan Zuckerberg, yang mungkin sedang membina hubungan dengan kekuatan baru, mengulurkan tangan. “Biar tahu jika ada hal lain yang bisa saya bantu,” tulisnya kepada Musk. Tanggapan Musk? Sebuah emoji hati, diikuti dengan ajakan untuk bermitra membeli kekayaan intelektual OpenAI.
Dari Dukungan Politik ke Rencana Bisnis Rahasia
Percakapan mereka dengan cepat beralih dari urusan pemerintah ke strategi bisnis. Setelah memberi dukungan untuk DOGE, Musk langsung mengajak Zuckerberg untuk berkolaborasi dalam sebuah bid rahasia. “Apa kamu terbuka dengan ide menawar IP OpenAI bersamaku dan beberapa orang lain?” tanya Musk. Zuckerberg, yang dikenal dengan perhitungan strategisnya, tidak langsung menyetujui. Ia meminta untuk “mendiskusikannya langsung”, dan Musk berjanji akan menelepon keesokan harinya. Meski akhirnya Zuckerberg tidak secara resmi bergabung dalam penawaran tersebut, pertukaran ini mengungkap betapa cairnya batas antara persaingan dan kemitraan potensial di level tertinggi.
Ini bukan pertama kalinya strategi AI Zuckerberg menjadi bahan perbincangan. Pergeseran pendekatannya terhadap teknologi open source telah menjadi perhatian banyak pengamat. Anda dapat membaca analisis mendalam tentang hal ini dalam artikel strategi AI Meta. Sementara itu, tim hukum Musk berusaha mati-matian agar percakapan dengan Zuckerberg ini tidak masuk sebagai bukti dalam sidang. Mereka berargumen bahwa komunikasi pribadi Musk, termasuk dengan figur terkenal seperti Zuckerberg, adalah hal yang “tangensial dan bersifat prasangka”. Mereka menuduh pihak Altman sengaja memasukkannya untuk membangkitkan sentimen negatif terhadap Musk karena asosiasinya dengan CEO Meta tersebut.
Baca Juga:
Pertahanan Musk dan Pertanyaan yang Melenceng
Dokumen terpisah yang juga dirilis pada hari yang sama menyoroti upaya tim hukum Musk untuk membatasi ruang lingkup pemeriksaan. Mereka dengan keras menentang pertanyaan dari pengacara Sam Altman yang menyelidiki penggunaan ketamin yang diduga dan kehadiran Musk di festival Burning Man. Dalam transkrip deposisi, Musk ditanya apakah ia mengonsumsi “rhino ket” di Burning Man 2017, yang ia bantah. Pengacaranya berargumen bahwa hal-hal seperti festival musik atau obat-obatan sama sekali tidak relevan dengan gugatan tentang OpenAI, dan bahwa cara Musk menghabiskan waktu luangnya adalah urusan pribadi.
“Setiap implikasi bahwa festival musik atau narkoba memiliki relevansi dengan kasus ini adalah keterlaluan,” tulis pengacara Musk. Hakim akhirnya memutuskan bahwa pengacara OpenAI diizinkan mengajukan pertanyaan “terbatas” tentang Burning Man, tetapi bukan tentang ketamin. Pertahanan ini menunjukkan betapa sensitifnya pertarungan hukum ini, di mana setiap aspek kehidupan pribadi dapat dijadikan senjata. Sensitivitas serupa juga pernah muncul dalam sorotan Kongres AS terhadap Meta, seperti yang diulas dalam laporan iklan narkoba di Facebook.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari pesan teks singkat ini? Ia berfungsi sebagai potret zaman: momen di mana kepentingan bisnis, politik, dan personal bertemu dalam pesan singkat di antara dua orang paling berpengaruh di dunia. Aliansi Musk-Zuckerberg di awal 2025 mungkin hanya berumur pendek, dibangun di atas fondasi kepentingan pragmatis terhadap administrasi Trump yang baru. Namun, ia mengungkap sebuah kebenaran yang sering terlupakan di Silicon Valley: musuh hari ini bisa menjadi sekutu besok, dan percakapan paling rahasia pun pada akhirnya bisa menjadi milik publik. Meta, melalui juru bicaranya, menolak berkomentar tentang hal ini, membiarkan dokumen-dokumen tersebut bercerita sendiri tentang hubungan rumit yang membantu membentuk lanskap teknologi dan politik di era yang penuh gejolak.

