Foto data center dengan crosshair yang diolah dengan warna.

Iran Serang Dua Data Center Amazon di Bahrain dengan Rudal Jelajah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Militer Iran mengumumkan serangan rudal jelajah ke dua data center Amazon di Bahrain.
  • IRGC menyatakan serangan sebagai respons atas agresi militer AS terhadap fasilitas sipil DarKhoveyn.
  • Analisis citra satelit Sentinel-2 oleh Bloomberg mengonfirmasi kerusakan pada kedua fasilitas.
  • Ini adalah serangan keempat terhadap data center sejak AS memulai perang pada Februari.
  • IRGC sebelumnya telah menargetkan Google, Microsoft, Palantir, IBM, Nvidia, dan Oracle.
  • Pentagon menggunakan model AI untuk operasi militer, menjadikan perusahaan teknologi sebagai target strategis.
  • Serangan ini merupakan pernyataan tegas kepada Presiden AS Donald Trump mengenai konsekuensi perang yang berkepanjangan.

Telset.id – Militer Iran mengumumkan telah menghantam dan merusak dua data center Amazon di Bahrain menggunakan rudal jelajah. Serangan ini merupakan respons atas agresi militer Amerika Serikat, dan menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang kini merambah infrastruktur digital.

Serangan tersebut dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, Tasnim, yang menerbitkan pernyataan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan bahwa “pejuang Aerospace IRGC… sebagai respons atas agresi dan serangan… oleh tentara Amerika yang membunuh anak-anak terhadap fasilitas sipil DarKhoveyn yang sedang dibangun, menyerang dan menghancurkan infrastruktur data pusat perusahaan Amerika Amazon di Bahrain dengan beberapa rudal jelajah.”

Analisis citra satelit dari Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa (ESA) mengonfirmasi terjadinya serangan di kampus data center tersebut. Bloomberg, yang melakukan analisis tersebut, mencatat bahwa meskipun bukti kerusakan terlihat, tingkat kerusakan secara pasti sulit untuk ditentukan. “Analisis citra Sentinel-2 menunjukkan bukti kerusakan pada kedua fasilitas, tetapi tidak memberikan wawasan tentang tingkat kerusakan,” ujar Adam Farrar, analis geoeconomics senior Bloomberg. Amazon sendiri menolak berkomentar mengenai laporan tersebut.

Foto data center dengan crosshair yang diolah dengan warna.

Serangan ini merupakan yang keempat kalinya sejak AS memulai perang pada bulan Februari. Pada bulan Maret lalu, IRGC telah mengumumkan sejumlah perusahaan teknologi AS sebagai “target baru Iran,” termasuk Google, Microsoft, Palantir, IBM, Nvidia, dan Oracle. Kini, dengan memanasnya kembali perang, perusahaan-perusahaan tersebut kembali menjadi sasaran.

Dari sudut pandang militer, langkah ini dianggap logis karena perusahaan teknologi AS memegang peranan penting dalam upaya perang Amerika. Pentagon dilaporkan menggunakan sejumlah model AI untuk mengumpulkan intelijen dan memilih target militer, yang paling terkenal adalah sekolah dasar Shajareh Tayyebeh yang dihancurkan dalam serangan tiga kali berturut-turut yang menewaskan lebih dari 120 anak sekolah, serta orang tua dan guru.

Lebih dari sekadar serangan fisik, aksi ini merupakan pernyataan tegas kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Semakin lama permusuhan berlangsung, semakin besar kekacauan ekonomi dan teknologi yang ingin Iran picu di kawasan tersebut.

Serangan terhadap data center Amazon ini menyoroti kerentanan infrastruktur digital global di tengah konflik bersenjata. Sebelumnya, Iran juga dikaitkan dengan berbagai serangan siber, menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kapabilitas untuk menyerang baik secara fisik maupun digital. Perusahaan teknologi AS kini berada di garis depan konflik ini, baik sebagai alat perang maupun sebagai target.

Intelijen AS menggunakan berbagai model AI untuk operasi militer, sebuah fakta yang menjadikan perusahaan teknologi sebagai peserta langsung dalam perang. Hal ini pula yang menjadikan mereka sasaran strategis bagi Iran. Serangan terhadap pusat data ini adalah sinyal bahwa infrastruktur teknologi tidak lagi kebal terhadap dampak perang konvensional.

Ke depan, serangan ini dapat memicu kekhawatiran lebih luas mengenai keamanan data dan kelangsungan layanan cloud di kawasan Timur Tengah. Ini juga menjadi pengingat bahwa perang modern tidak lagi hanya terjadi di medan pertempuran fisik, tetapi juga di ranah digital dan infrastruktur teknologi yang menopangnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.