Telset.id – Pengguna LG dihadapkan pada dua masalah serius: monitor gaming secara otomatis menginstal perangkat lunak yang tidak diinginkan ke PC Windows, sementara ketentuan layanan TV pintar terbaru membebankan tanggung jawab hukum kepada pemilik jika suara tamu tertangkap oleh fitur AI.
Laporan dari Gamers Nexus mengungkapkan bahwa beberapa monitor LG tidak hanya menginstal LG Monitor App Installer tanpa izin, tetapi juga menyertakan McAfee Scam Detector. Aplikasi milik LG ini memerlukan akses penuh ke seluruh sumber daya sistem, yang berpotensi mencakup semua aktivitas online, login, perangkat keras, lokasi, dan lainnya. McAfee sendiri memiliki sejarah panjang sebagai ‘bloatware’ yang dipasang di perangkat, dan reaksi pengguna terhadap temuan ini sangat negatif.
Di sisi lain, ketentuan layanan baru LG Electronics yang dirilis baru-baru ini memicu kekhawatiran serius. Bagian 6(d) yang berjudul “Voice Recognition and Privacy Compliance” menyatakan bahwa pengguna bertanggung jawab penuh untuk mendapatkan persetujuan dari pihak ketiga yang suaranya mungkin tertangkap oleh produk, serta memberitahu anggota rumah tangga dan tamu bahwa suara mereka dapat direkam dan diproses. Ketentuan ini mengacu pada kepatuhan terhadap undang-undang penyadapan dan privasi yang berlaku.
Notebookcheck mencatat bahwa klausul ini secara eksplisit memindahkan tanggung jawab kepatuhan hukum dari LG kepada pengguna. Artinya, jika seorang tamu merasa direkam tanpa izin melalui fitur AI voice di TV LG, pengguna yang harus bertanggung jawab secara hukum, bukan LG.
Ada tiga cara untuk menghindari masalah ini. Pertama, mematikan semua fitur berbasis mikrofon. Kedua, tidak menginstal pembaruan perangkat lunak terbaru, namun konsekuensinya perangkat tidak akan mendapatkan pembaruan keamanan penting. Ketiga, memutuskan koneksi internet TV agar data tidak dapat dikirim kembali, tetapi ini akan mengurangi fungsionalitas perangkat secara signifikan.
Beberapa analis menilai bahwa ketentuan ini mungkin merupakan upaya perlindungan hukum korporat daripada niat jahat. Paragraf sebelumnya dalam ketentuan layanan tersebut memang membahas kemungkinan “anggota keluarga, tamu, anak-anak, dan orang di sekitar” tidak sengaja terdengar saat fitur voice recognition aktif. Namun, cakupan ketentuan ini dinilai terlalu luas dan berpotensi memungkinkan LG menggunakan suara pengguna sebagai input AI.
Konteks ini menjadi semakin mengkhawatirkan mengingat praktik LG pada monitor PC yang menginstal adware tanpa izin. Reaksi pengguna di Reddit dan video YouTube Gamers Nexus menunjukkan toleransi yang semakin menipis terhadap praktik semacam ini. LG belum memberikan pernyataan resmi terkait klaim-klaim ini.
Baca Juga:
Fenomena ini menunjukkan pola yang mengkhawatirkan di industri teknologi. Ketika perusahaan besar terus-menerus tertangkap melakukan praktik buruk karena mereka mengira bisa lolos begitu saja, wajar jika publik berasumsi yang terburuk. Insiden LG ini menambah daftar panjang kasus di mana privasi pengguna menjadi taruhan dalam pengembangan fitur-fitur baru.
Pengguna yang ingin tetap menggunakan fitur voice recognition harus memahami risiko hukum yang mereka tanggung. Meskipun fitur ini berguna, terutama untuk mencari pengaturan yang sulit ditemukan, konsekuensi potensial dari pelanggaran privasi tidak bisa diabaikan.
LG sendiri belum memberikan klarifikasi resmi mengenai interpretasi ketentuan layanan ini. Namun, kegagalan sistem AI dalam menjaga privasi bukanlah hal baru. Industri teknologi perlu belajar dari kasus-kasus sebelumnya untuk membangun kepercayaan pengguna kembali.
Bagi pengguna LG, langkah paling aman saat ini adalah menonaktifkan semua fitur yang memerlukan akses mikrofon jika tidak ingin mengambil risiko. Alternatifnya, pengguna dapat mempertimbangkan untuk tidak memperbarui perangkat lunak, meskipun ini berarti kehilangan pembaruan keamanan yang penting.





Komentar
Belum ada komentar.