Ilustrasi penutupan Network School di Malaysia oleh pemerintah setempat karena masalah lisensi

Malaysia Tutup Komunitas Network School Milik Balaji Srinivasan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah Malaysia memerintahkan penutupan Network School karena masalah lisensi
  • Network School adalah komunitas startup gagasan Balaji Srinivasan, entrepreneur dan investor
  • Komunitas ini berbasis di hotel terbengkalai di Malaysia, digambarkan sebagai "inkubator teknologi" dan "retret pengembangan diri"
  • Para peserta mengeluhkan kamar berjamur, minimnya perempuan, dan kurangnya kehidupan malam
  • Srinivasan melepaskan kewarganegaraan Amerika pada 2023 dan menyatakan diri sebagai "orang Singapura yang bangga"
  • Srinivasan menuduh The Wall Street Journal menyusun "hit piece" terhadap dirinya
  • Srinivasan mengumumkan kesepakatan baru untuk membuka kampus di Kazakhstan
  • Network School adalah langkah pertama dari rencana tujuh tahap membangun masyarakat baru sesuai buku "The Network State"

Telset.id – Pemerintah Malaysia memerintahkan penutupan Network School, sebuah komunitas yang berfokus pada startup dan menyebut dirinya sebagai “komunitas perbatasan untuk teknologis-optimis.” Langkah ini diambil berdasarkan laporan The Wall Street Journal, yang menyebut bahwa penutupan tersebut terkait dengan masalah lisensi.

Network School merupakan gagasan dari entrepreneur dan investor, Balaji Srinivasan. Komunitas ini tumbuh dari keyakinan Srinivasan bahwa Amerika Serikat berada dalam kemunduran yang tidak dapat dipulihkan. Srinivasan bahkan pernah menyatakan tujuannya adalah “untuk memulai negara baru.” Konsep ini menjadikan Network School sebagai langkah pertama dari rencana tujuh tahap untuk membangun masyarakat baru, sebagaimana diuraikan dalam bukunya yang berjudul “The Network State.”

Komunitas ini berbasis di sebuah hotel terbengkalai di Malaysia. The Wall Street Journal menggambarkan program tersebut sebagai “sebagian inkubator teknologi, sebagian retret pengembangan diri.” Namun, para peserta mengeluhkan berbagai masalah, termasuk kamar yang berjamur serta minimnya kehadiran perempuan dan kehidupan malam di sekitar lokasi.

Setelah menerima pertanyaan dari The Wall Street Journal, Srinivasan—yang dilaporkan telah melepaskan kewarganegaraan Amerika-nya pada tahun 2023—menerbitkan sebuah tulisan panjang di platform X. Dalam tulisannya, ia menyatakan dirinya sebagai “orang Singapura yang bangga” dan mengeluhkan bahwa The Wall Street Journal sedang menyusun “tulisan yang menyerang” yang akan membuatnya terlihat seperti “orang aneh” daripada “pengadopsi awal.”

Meskipun kampus Network School di Malaysia saat ini harus ditutup karena masalah lisensi, Srinivasan baru-baru ini mengumumkan kesepakatan baru untuk membuka kampus di Kazakhstan. Pengumuman ini menunjukkan bahwa visi Srinivasan untuk membangun “negara jaringan” tidak berhenti meskipun menghadapi hambatan regulasi di Malaysia.

Penutupan Network School di Malaysia menjadi sorotan karena menyangkut konsep baru dalam dunia teknologi dan komunitas. Konsep “negara jaringan” yang diusung Srinivasan memang kontroversial, mengingat ia ingin membangun masyarakat baru yang tidak terikat oleh batas-batas geografis tradisional.

Keputusan pemerintah Malaysia ini juga menambah daftar kebijakan ketat negara tersebut di berbagai sektor. Sebelumnya, Malaysia juga telah menerapkan berbagai regulasi baru yang berdampak pada industri dan masyarakat, termasuk di sektor teknologi.

Konsep Network School sendiri menarik untuk dicermati. Srinivasan membangun komunitas ini sebagai langkah awal dari rencana besarnya untuk menciptakan masyarakat baru. Ia meyakini bahwa Amerika Serikat sedang mengalami kemunduran, sehingga diperlukan alternatif baru bagi mereka yang sejalan dengan visinya.

Para peserta yang bergabung dengan Network School di Malaysia datang dengan berbagai harapan. Mereka mengikuti program yang dirancang sebagai perpaduan antara inkubator teknologi dan retret pengembangan diri. Namun, kondisi fasilitas yang kurang memadai, seperti kamar berjamur, menjadi keluhan utama para peserta.

Selain itu, keluhan tentang minimnya kehadiran perempuan dan kehidupan malam menunjukkan bahwa ekspektasi para peserta terhadap komunitas ini tidak sepenuhnya terpenuhi. Hal ini menjadi ironi, mengingat Network School diposisikan sebagai komunitas perbatasan bagi para teknologis-optimis yang ingin membangun masa depan baru.

Respons Srinivasan terhadap pemberitaan The Wall Street Journal juga menarik untuk disimak. Ia dengan tegas membela diri dan mengalihkan perhatian pada identitas barunya sebagai warga Singapura. Keputusan Srinivasan untuk melepaskan kewarganegaraan Amerika-nya pada 2023 sejalan dengan keyakinannya bahwa Amerika Serikat sedang mengalami kemunduran.

Dalam tulisannya di platform X, Srinivasan menuduh The Wall Street Journal menyusun “hit piece” atau tulisan yang bertujuan menyerang dirinya. Ia khawatir pemberitaan tersebut akan membuatnya terlihat seperti “orang aneh” di mata publik, padahal ia melihat dirinya sebagai “pengadopsi awal” dari sebuah konsep besar.

Meskipun harus menutup kampus di Malaysia, Srinivasan tidak kehilangan arah. Pengumuman tentang kampus baru di Kazakhstan menunjukkan bahwa ia tetap berkomitmen untuk mewujudkan visinya membangun “negara jaringan.” Kazakhstan menjadi pilihan baru setelah Malaysia menolak memberikan izin untuk kelanjutan operasional Network School.

Keputusan Malaysia untuk menutup Network School karena masalah lisensi menunjukkan bahwa negara tersebut tidak memberikan toleransi terhadap operasional yang tidak memiliki izin resmi. Hal ini sejalan dengan sikap tegas Malaysia dalam menegakkan regulasi di berbagai sektor.

Perlu dicatat bahwa Malaysia memang tengah gencar menerapkan berbagai kebijakan baru yang berdampak luas. Misalnya, dalam sektor telekomunikasi, Malaysia telah menerapkan aturan baru yang membatasi penggunaan media sosial bagi anak-anak di bawah usia tertentu. Kebijakan ini menunjukkan komitmen Malaysia untuk melindungi warganya, meskipun harus membatasi akses terhadap teknologi.

Kasus Network School ini menjadi contoh bagaimana sebuah komunitas berbasis teknologi harus tetap mematuhi regulasi yang berlaku di negara tempatnya beroperasi. Meskipun memiliki visi besar dan dukungan dari para pesertanya, kepatuhan terhadap hukum tetap menjadi syarat utama untuk dapat beroperasi.

Srinivasan sendiri adalah figur yang kontroversial di dunia teknologi. Keyakinannya tentang kemunduran Amerika Serikat dan keinginannya untuk membangun negara baru membuatnya berbeda dari kebanyakan entrepreneur teknologi lainnya. Buku “The Network State” yang ia tulis menjadi panduan bagi mereka yang ingin mengikuti visinya.

Rencana tujuh tahap yang diuraikan dalam buku tersebut menjadikan Network School sebagai langkah pertama. Namun, dengan penutupan kampus di Malaysia, Srinivasan harus menyesuaikan rencananya. Kesepakatan dengan Kazakhstan menjadi bukti bahwa ia tidak akan berhenti pada satu hambatan.

Bagi para pengamat teknologi, perkembangan ini menunjukkan bahwa konsep “negara jaringan” masih jauh dari kenyataan. Meskipun menarik secara konseptual, implementasinya menghadapi banyak hambatan, termasuk masalah regulasi dan infrastruktur.

Sementara itu, para peserta Network School yang sebelumnya tinggal di hotel terbengkalai di Malaysia harus mencari tempat lain. Mereka yang datang dengan harapan membangun masa depan baru kini harus menghadapi kenyataan bahwa komunitas tersebut harus ditutup.

Tidak jelas bagaimana nasib para peserta tersebut setelah penutupan ini. Apakah mereka akan mengikuti Srinivasan ke Kazakhstan atau memilih untuk kembali ke kehidupan mereka sebelumnya. Namun, yang pasti, pengalaman mereka di Network School akan menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan hidup mereka.

Dari sisi regulasi, kasus ini juga menjadi pelajaran bagi komunitas atau organisasi serupa yang ingin beroperasi di Malaysia. Pemerintah Malaysia menunjukkan bahwa tidak ada toleransi bagi operasional yang tidak memiliki izin resmi, apapun bentuk dan tujuannya.

Keputusan Malaysia ini juga bisa menjadi pertimbangan bagi negara-negara lain yang ingin menarik investasi atau komunitas berbasis teknologi. Di satu sisi, komunitas seperti Network School dapat membawa dampak positif bagi ekosistem teknologi lokal. Namun, di sisi lain, pemerintah harus tetap memastikan bahwa semua operasional berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Srinivasan, dengan segala kontroversinya, tetap menjadi sosok yang menarik untuk diikuti. Langkahnya untuk membuka kampus di Kazakhstan akan menjadi ujian apakah konsep “negara jaringan” dapat benar-benar diwujudkan di negara dengan regulasi yang berbeda dari Malaysia.

Sementara itu, penutupan Network School di Malaysia menjadi pengingat bahwa teknologi dan inovasi tidak dapat berjalan tanpa mematuhi aturan yang berlaku. Visi besar tanpa kepatuhan terhadap regulasi hanya akan berujung pada hambatan, seperti yang dialami oleh Srinivasan dan komunitasnya.

Ke depannya, akan menarik untuk melihat bagaimana Srinivasan menavigasi tantangan regulasi di Kazakhstan. Apakah ia akan berhasil membangun komunitas barunya atau menghadapi hambatan serupa seperti di Malaysia. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Kasus Network School ini juga relevan dengan perkembangan regulasi teknologi di Malaysia secara umum. Negara tersebut memang tengah memperketat berbagai aturan terkait teknologi, termasuk di sektor media sosial dan impor perangkat. Sikap tegas ini menunjukkan bahwa Malaysia tidak ingin tertinggal dalam hal regulasi, meskipun harus menghadapi kritik dari berbagai pihak.

Bagi para pengguna teknologi di Indonesia, kasus ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya memahami regulasi di negara tempat kita beroperasi. Apapun visi dan tujuan kita, kepatuhan terhadap hukum tetap menjadi hal yang utama.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.