📑 Daftar Isi

Ilustrasi strategi Meta menggunakan influencer untuk mempromosikan fitur keamanan Teen Accounts

Meta Gunakan Influencer untuk Lawan Larangan Media Sosial Remaja

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Meta menggunakan strategi influencer untuk melawan larangan media sosial remaja di belasan negara
  • Acara eksklusif seperti Instagram Safety Camp dan Screen Smart digelar untuk mempromosikan Teen Accounts
  • Aktor Darius Sinathrya di Indonesia, Juhi Parmar di India, dan Douglas Silva di Brasil terlibat dalam kampanye ini
  • Banyak unggahan influencer menggunakan tagar #instagrampartner tanpa pengungkapan iklan yang jelas
  • Pengujian independen menemukan Teen Accounts gagal melindungi anak dari konten berbahaya
  • Meta membantah menyesatkan, sementara TTP menilai strategi ini membuktikan masalah reputasi perusahaan

Telset.id – Meta dilaporkan menggunakan strategi pemasaran influencer secara sistematis untuk melawan kebijakan larangan penggunaan media sosial bagi remaja di berbagai negara. Investigasi terbaru dari Tech Transparency Project (TTP) mengungkapkan bahwa perusahaan teknologi ini menggelar acara eksklusif yang melibatkan selebritas dan tokoh publik untuk mempromosikan fitur keamanan Teen Accounts sebagai alternatif dari larangan total.

Strategi ini terungkap setelah TTP melakukan investigasi mendalam terhadap praktik Meta di lebih dari belasan negara. Temuan tersebut menunjukkan pola yang konsisten, di mana Meta mengundang para influencer ke acara bertajuk Instagram Safety Camp atau Screen Smart, kemudian meminta mereka untuk menyampaikan pesan positif tentang fitur keamanan yang dimiliki platform tersebut.

Pola Kampanye Influencer Meta

Investigasi TTP mengungkap bahwa Meta menggelar acara di Sydney Harbour pada Juli 2025, lima bulan sebelum Australia memberlakukan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Dalam acara tersebut, Meta menerbangkan para influencer parenting ke venue tepi pantai, memberikan lencana pramuka yang dipersonalisasi, serta menyajikan s’mores gourmet sebagai bagian dari pengalaman eksklusif.

Pola serupa kemudian menyebar ke lebih dari belasan negara yang mulai mempertimbangkan pembatasan serupa. Meta merekrut aktor, pembawa acara radio, psikolog, dan influencer parenting untuk mempromosikan Teen Accounts sebagai bukti bahwa larangan total tidak diperlukan.

Di Indonesia, aktor Darius Sinathrya yang memiliki 1,8 juta pengikut diminta untuk mengajak para pengikutnya mencoba fitur keamanan tersebut. Sementara itu di India, aktris Juhi Parmar meyakinkan para orang tua bahwa remaja mereka lebih aman bermedia sosial, hanya beberapa bulan setelah Instagram ditemukan menyetujui iklan pelecehan anak di negara tersebut. Di Brasil, aktor Douglas Silva dengan tiga juta pengikut melakukan hal yang sama.

Banyak dari unggahan para influencer ini menggunakan tagar samar seperti #instagrampartner tanpa mencantumkan pengungkapan iklan yang jelas. TTP juga menemukan bahwa Meta mendanai organisasi nirlaba dan lembaga think tank yang menyuarakan penolakan terhadap larangan tersebut tanpa selalu mengungkapkan sumber pendanaan mereka.

meta-AI-Age-Assurance-teen-safety

Temuan Independen Berbeda dengan Klaim Influencer

Hasil pengujian independen menunjukkan gambaran yang berbeda dari apa yang disampaikan para influencer dalam unggahan mereka. The Washington Post sebelumnya menemukan bahwa Teen Accounts gagal melindungi anak-anak dari konten berbahaya. TTP mengonfirmasi adanya celah serupa, sejalan dengan investigasi terpisah yang menemukan Instagram menyajikan konten seksual langsung ke akun Teen Accounts meskipun Meta telah menjanjikan fitur keamanan tersebut.

Menanggapi temuan ini, juru bicara Meta Edward Patterson membantah bahwa upaya pengaruh yang dilakukan perusahaannya menyesatkan. Ia menyatakan bahwa larangan menyeluruh justru mendorong remaja menuju sudut-sudut internet yang kurang aman dan tidak diatur.

Namun, Direktur TTP Katie Paul memiliki pandangan berbeda. Dalam pernyataannya kepada The Guardian, Paul menilai ketergantungan Meta pada pihak-pihak yang dibayar justru membuktikan apa yang sebenarnya diketahui perusahaan tersebut, bahwa “merek ini telah menjadi masalah.”

Meta-teen-safety

Dampak Strategi Influencer terhadap Kebijakan Publik

Strategi pemasaran influencer yang dilakukan Meta menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi dalam diskusi kebijakan keamanan anak di ruang digital. Ketika pesan yang disampaikan oleh tokoh publik tidak disertai pengungkapan hubungan komersial yang jelas, publik dapat kesulitan membedakan antara opini independen dan konten promosi berbayar.

Temuan TTP menunjukkan bahwa pendekatan ini telah diterapkan secara konsisten di berbagai pasar, termasuk negara-negara berkembang yang sedang merumuskan regulasi perlindungan anak di platform digital. Kehadiran figur publik dengan jutaan pengikut menjadi elemen kunci dalam membentuk opini publik tentang efektivitas pengaturan mandiri industri dibandingkan intervensi regulasi.

Perbedaan antara klaim yang disampaikan influencer dengan hasil pengujian independen menjadi sorotan utama investigasi ini. Kegagalan fitur keamanan yang dijanjikan Meta dalam melindungi pengguna remaja dari konten berbahaya menunjukkan adanya kesenjangan antara komunikasi pemasaran dan realitas teknis yang dihadapi pengguna.

Kasus ini juga menyoroti pentingnya pengungkapan hubungan komersial dalam konten yang membahas kebijakan publik. Ketika audiens tidak mengetahui bahwa pesan yang mereka terima merupakan bagian dari kampanye terkoordinasi, integritas diskusi publik tentang keselamatan anak di dunia digital dapat terganggu.

Perdebatan antara pendekatan regulasi dan pengaturan mandiri industri kemungkinan akan terus berlanjut seiring semakin banyak negara yang mempertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi remaja. Temuan investigasi ini memberikan bahan evaluasi penting bagi pembuat kebijakan dan masyarakat umum dalam menilai klaim yang disampaikan oleh platform teknologi besar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.