Telset.id – Microsoft dan xAI menghadapi gugatan hukum dari warga terkait kebisingan dan dampak lingkungan yang diduga ditimbulkan oleh operasional data center di Wisconsin dan Mississippi. Setidaknya enam perkara serupa telah diajukan sepanjang tahun ini, seiring meningkatnya resistensi masyarakat terhadap keberadaan fasilitas komputasi yang aktif beroperasi.
Selain mengangkat isu gangguan (nuisance), sengketa ini juga berfokus pada klaim kelalaian (negligence), di mana para penggugat menuntut ganti rugi atau perubahan dalam operasional data center. Kasus-kasus ini menjadi indikator kuat bahwa dampak sosial dari infrastruktur AI mulai menjadi sorotan utama.
Masalah Pengukuran Kebisingan Frekuensi Rendah
Microsoft menghadapi gugatan class action yang diajukan warga terkait fasilitas Fairwater di Mount Pleasant, Wisconsin, yang mulai beroperasi pada Juni 2026. Gugatan diajukan pada akhir Juli dengan tuduhan bahwa kebisingan frekuensi rendah yang persisten memengaruhi kenyamanan hunian dan nilai properti.
Poin krusial dalam gugatan ini adalah argumen bahwa peralatan pengukur desibel standar (dBA) gagal mendeteksi suara tersebut karena frekuensinya berada di luar rentang pengukuran efektif.
“dBA measures do not effectively detect lower frequency sounds like those emitted by Defendant’s Data Center operations,” demikian bunyi gugatan tersebut. “Data center cooling — massive chillers, slow turning fans, compressor arrays — generates exactly the long wavelength noise yang tidak terukur secara memadai menggunakan dBA.”
Para penggugat berargumen bahwa Microsoft sebenarnya dapat mengurangi gangguan melalui pemasangan penghalang akustik, peralatan pendingin yang lebih senyap, peredaman suara, dan peningkatan pemantauan. Argumen ini berpotensi menyulitkan operator fasilitas di mana pengukuran regulasi gagal menangkap suara yang masih dapat didengar warga.
Persoalan ini juga memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana kebisingan data center seharusnya diukur. Kasus serupa sebelumnya juga pernah terjadi, termasuk izin data center yang menjadi sorotan.
Klaim Turbin Gas dan Polusi di Mississippi
Di Mississippi, warga menggugat xAI atas dugaan kebisingan, getaran, dan polusi udara yang berasal dari puluhan turbin gas. Turbin tersebut memasok listrik untuk data center Southaven milik perusahaan, menurut tuduhan dalam gugatan.
Para pengacara yang mewakili warga menuduh xAI gagal mengambil tindakan berarti untuk mengatasi dampak yang dialami. “xAI has made no meaningful effort to halt the harm,” demikian pernyataan pengacara dari Weitz & Luxenberg.
Gugatan serupa juga telah diajukan di Vineland, New Jersey, Dowagiac, Michigan, North Tonawanda, New York, dan Hood County, Texas. Kasus-kasus tersebut umumnya mengandalkan klaim nuisance atau kelalaian terkait kondisi yang menurut penggugat seharusnya dapat dicegah atau dikendalikan oleh operator.
Beberapa sengketa data center lain masih belum terselesaikan, dan belum ada kasus kebisingan yang mencapai tahap summary judgment atau persidangan. Namun, kasus lingkungan lain telah menghasilkan penyelesaian dengan jumlah uang yang substansial.
Amazon setuju membayar lebih dari $20 juta terkait kontaminasi nitrat yang dihubungkan dengan salah satu data center di Oregon. Perusahaan menyatakan menyelesaikan kasus lebih awal untuk menghindari litigasi berkepanjangan dan memfokuskan sumber daya pada dukungan komunitas.
Dampak Air dan Penolakan Proyek Data Center
Di sisi lain, isu sumber daya air juga menjadi perhatian serius bagi industri data center. Non-profit think tank Ceres menerbitkan laporan baru yang menganalisis air yang digunakan untuk menghasilkan listrik bagi data center di Virginia, Texas, California, Illinois, Georgia, Ohio, dan Arizona.
Ceres memperkirakan data center menggunakan 3,4 triliun galon air tawar per tahun, atau setara 10,4 juta acre-feet. Angka ini dibandingkan dengan 8 juta acre-feet yang digunakan California setiap tahun untuk keperluan perkotaan, berdasarkan laporan Legislative Analyst’s Office tahun 2021.
Pendekatan Ceres mengukur penarikan air (water withdrawals), atau total volume air yang ditarik perusahaan listrik dari sumber seperti sungai, danau, atau akuifer, termasuk air yang kemudian dikembalikan. Sementara itu, angka California adalah air yang benar-benar dikirim dan digunakan untuk kebutuhan residensial, komersial, industri, dan lanskap.
Ceres mencatat bahwa “withdrawal reflects the full volume an asset depends on to operate,” yang disajikan sebagai indikator kuat risiko paparan terhadap banyak komunitas yang sudah hidup di daerah terdampak kekeringan. Sebagian besar listrik yang dihasilkan dan diukur adalah tenaga hidroelektrik.
Peneliti Arizona State University, menggunakan data Lawrence Berkeley National Laboratory tahun 2024, memperkirakan konsumsi tidak langsung data center AS, termasuk pembangkit listrik, sekitar 650.000 acre-feet per tahun secara nasional. Ceres memproyeksikan bahwa air untuk pembangkit listrik dapat mencapai 72 persen dari total konsumsi air data center AS pada 2030, bahkan saat pendinginan di dalam gedung semakin efisien.
Di saat dua reservoir terbesar Sungai Colorado mencapai rekor terendah, Ceres mencatat bahwa penolakan lokal yang didasari kekhawatiran air dan jaringan listrik telah mengganggu proyek data center senilai $130 miliar pada kuartal pertama 2026 saja. Shama Perveen, rekan penulis laporan dan direktur riset air Ceres, menekankan bahwa “no single stakeholder can address these challenges alone.”
Kasus kebisingan yang menimpa Microsoft dan xAI menunjukkan bahwa resistensi publik terhadap pembangunan data center semakin terorganisir. Sebelumnya, fenomena serupa juga pernah terjadi pada kebocoran air yang melanda fasilitas serupa.
Gelombang gugatan ini mencerminkan perubahan lanskap di mana masyarakat semakin kritis terhadap dampak operasional infrastruktur digital. Meskipun belum ada keputusan final, arah perkembangan ini menunjukkan bahwa operator data center perlu lebih serius memperhatikan aspek lingkungan dan sosial dalam perencanaan serta operasional mereka.





Komentar
Belum ada komentar.