Telset.id – Netflix memangkas sekitar 1.000 karyawan atau setara 6 persen dari total tenaga kerjanya, menjadikannya sebagai gelombang PHK terbesar perusahaan sejak 2022. Keputusan ini diumumkan langsung oleh co-CEO Netflix, Ted Sarandos dan Greg Peters, melalui email internal kepada seluruh karyawan, dan dikonfirmasi perusahaan kepada TechCrunch.
PHK Netflix kali ini menyasar sebagian besar staf di divisi product, technology, human resources, dan legal. Langkah efisiensi ini muncul tak lama setelah Netflix kalah dalam perebutan Warner Bros. Discovery dari Paramount Skydance pada awal tahun ini, sekaligus menandai babak baru persaingan memperebutkan perhatian pengguna di industri streaming.
Dalam email internal yang dikutip The Wall Street Journal, Sarandos dan Peters menyatakan bahwa misi perusahaan untuk menghibur dunia menuntut kedisiplinan dalam memprioritaskan sumber daya. “Our mission — to entertain the world — is ambitious, and delivering on it requires us to be disciplined about where we prioritize our people and resources,” tulis keduanya. Mereka menegaskan bisnis Netflix tetap kuat dan tumbuh, serta tetap berada di jalur untuk memenuhi proyeksi sepanjang tahun.
Dampak PHK di Tengah Kinerja Keuangan yang Kuat
Jumlah karyawan tetap Netflix tercatat sekitar 16.000 orang hingga akhir tahun lalu. Dengan pemangkasan 1.000 orang, ini menjadi pemutusan hubungan kerja terbesar perusahaan, melampaui PHK 2022 yang memangkas sekitar 450 karyawan dalam dua tahap, yakni 150 orang pada Mei dan 300 orang pada Juni. Saat itu, langkah tersebut diambil untuk menekan biaya setelah pertumbuhan pendapatan melambat.
Meski melakukan efisiensi besar-besaran, kondisi keuangan Netflix justru menunjukkan performa yang solid. Pendapatan perusahaan pada 2025 mencapai US$45,2 miliar, sementara laba bersih naik menjadi US$11 miliar dari 325 juta pelanggan. Bisnis iklan Netflix juga lebih dari dua kali lipat menjadi US$1,5 miliar pada periode 2024 hingga 2025, didorong pertumbuhan paket hemat dengan iklan seharga US$7,99 per bulan yang telah menembus lebih dari 9,4 juta pelanggan per Mei 2025.
Sarandos dan Peters menambahkan bahwa perusahaan akan terus berinvestasi secara agresif di area berdampak tinggi untuk meningkatkan layanan dan mendorong pertumbuhan serta inovasi. “Doing that means making focused choices across the business so we can keep delivering for our members, partners, employees, and investors,” ujar keduanya.
Persaingan Perhatian Pengguna Makin Ketat
PHK ini juga terjadi di tengah tekanan kompetisi yang kian intensif. Netflix yang lama mendominasi sebagai aplikasi TV terbesar kini menghadapi persaingan dari YouTube, TikTok, Instagram, dan aplikasi sosial lainnya dalam memperebutkan dan mempertahankan perhatian pengguna. Berdasarkan laporan sejumlah lembaga riset pasar, aplikasi sosial seperti TikTok dikabarkan semakin mendekati Netflix dalam hal engagement pengguna, sementara YouTube disebut telah melampaui Netflix dalam rata-rata waktu tonton harian pada 2025.
Untuk menghadapi tekanan tersebut, Netflix telah berupaya keras mengekstraksi nilai lebih dari pelanggannya, antara lain dengan menaikkan harga, memperluas paket dengan iklan, serta berinvestasi di acara langsung dan olahraga, gaming, dan program anak-anak untuk meningkatkan engagement. Perusahaan juga bertaruh pada fitur berbasis AI, gaming, dan video podcast, serta mulai merambah konten video pendek sembari mendesain ulang aplikasi mobile-nya agar mampu bersaing dengan platform media sosial.
Strategi ekspansi konten Netflix ini tercermin dari berbagai langkah perusahaan yang memperluas penawaran hiburan di luar film dan serial. Perusahaan disebut terus membangun opsi hiburan yang lebih beragam, termasuk eksperimen di ranah gaming dan konten interaktif yang menyasar basis pengguna yang lebih luas.
Namun, keputusan PHK tetap menimbulkan pertanyaan di kalangan pengamat industri. Dengan pendapatan US$45,2 miliar pada 2025 dan laba bersih yang naik signifikan, langkah pemangkasan 1.000 karyawan menunjukkan bahwa Netflix memilih untuk memperkuat efisiensi operasional demi mencapai target pertumbuhan, bukan semata karena tekanan krisis keuangan.
Perusahaan menegaskan bahwa pihaknya tetap berada di jalur untuk memenuhi proyeksi sepanjang tahun, meski harus mengambil pilihan-pilihan yang lebih terfokus di seluruh lini bisnis. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa persaingan di industri streaming tidak lagi hanya soal jumlah konten, tetapi juga soal efisiensi dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan perilaku penonton.
[^1]: https://www.engadget.com/2286699/netflix-to-lay-off-roughly-1000-employees-in-biggest-round-of-job-cuts-since-2022/
[^2]: https://www.theverge.com/tech/1011058/netflix-layoff-six-percent-thousand-employees
[^3]: https://techcrunch.com/2026/10/14/netflix-to-lay-off-1000-staff-amid-intensifying-competition-for-user-attention/





Komentar
Belum ada komentar.