Telset.id – Investigasi New York Times mengklaim telah mengidentifikasi kandidat kuat di balik nama samaran Satoshi Nakamoto, pencipta misterius Bitcoin. Kandidat tersebut adalah kriptografer asal Inggris, Adam Back, berdasarkan analisis mendalam terhadap gaya penulisan dan latar belakangnya yang selaras dengan sosok Nakamoto.
Klaim ini disampaikan oleh reporter investigasi John Carreyrou dalam laporannya. Carreyrou, yang dikenal karena mengungkap skandal Theranos pada 2015, melakukan penyelidikan setelah menemukan kesimpulan film dokumenter HBO tentang identitas Nakamoto tidak meyakinkan. Ia justru tertarik pada reaksi Adam Back dalam film itu yang terlihat tegang saat dicurigai sebagai Satoshi.
Meski Back telah berkali-kali membantah klaim tersebut—termasuk kepada NYT—Carreyrou menyajikan sejumlah bukti yang mengarah padanya. Investigasi ini memanfaatkan kumpulan email yang ditulis Satoshi kepada programmer Finlandia, Martti Malmi, yang dirilis sebagai bagian dari persidangan perdata.
Kesamaan Gerakan dan Gagasan
Analisis menunjukkan kesamaan mendasar antara Back dan sosok yang dipercaya sebagai Satoshi. Satoshi diyakini merupakan bagian dari gerakan Cypherpunk, sebuah gerakan anarkis awal 1990-an yang fokus pada penggunaan kriptografi untuk melawan pengawasan dan sensor pemerintah. Adam Back mengaku sebagai seorang Cypherpunk.
Back juga telah mendeskripsikan sistem uang elektronik bernama Hashcash pada 1997, yang sangat mirip dengan konsep Bitcoin. Ia adalah salah satu dari segelintir Cypherpunk yang membahas metode “b-money” untuk menganonimkan akun pengguna—gagasan yang kemudian dikombinasikan Nakamoto dengan Hashcash untuk menciptakan Bitcoin. Minat Back terhadap Jepang, tempat Satoshi berkorespondensi, juga menjadi titik kesamaan lainnya.
Selain itu, analisis tweet berbagai tersangka Satoshi menunjukkan hanya Back yang secara konsisten menggunakan frasa-frasa khas Nakamoto, seperti “a menace to the network.” Persamaan ini, meski menarik, dianggap bisa terjadi secara kebetulan antarindividu yang sepemikiran. “Bitcoiner suka menyelidik, tetapi kebetulan memang terjadi dan belum tentu berarti apa-apa,” kata Back kepada NYT.
Baca Juga:
Analisis Gaya Penulisan dan Bantahan
Carreyrou juga menganalisis gaya bahasa dalam email Nakamoto. Dengan bantuan ahli yang menggunakan perangkat lunak stilometri, perbandingan tulisan Nakamoto dengan sejumlah tersangka menempatkan Back sebagai kandidat terdekat, meski dengan margin tipis dan hasil yang tidak konklusif. Ahli tersebut mencatat bahwa Nakamoto mungkin sengaja mengubah gaya prosanya untuk mengelabui analisis stilometri—sesuatu yang pernah diminati Back.
Tak gentar, Carreyrou melakukan analisis visual sendiri dan menyimpulkan adanya kesamaan “sidik jari” tulisan, seperti penggunaan tanda hubung yang unik dan pergantian antara ejaan British dan American untuk kata yang sama, misalnya “cheque” dan “check.” Seorang ahli linguistik forensik setuju bahwa pola yang diamati Carreyrou adalah pola yang dicari saat mencoba mengidentifikasi seorang penulis.
Menanggapi artikel NYT, Back kembali membantah melalui platform X. “Saya bukan Satoshi, tetapi saya sudah sejak awal fokus pada implikasi sosial positif dari kriptografi, privasi online, dan uang elektronik,” tulisnya. Ia menekankan bahwa dirinya juga tidak tahu identitas Satoshi dan menganggap anonimitas itu baik bagi Bitcoin agar dilihat sebagai aset kelas baru.
Pencarian identitas Satoshi Nakamoto telah menjadi teka-teki terbesar di dunia kripto sejak mata uang virtual tersebut diluncurkan pada 2009. Anonimitas penciptanya sering dikaitkan dengan filosofi desentralisasi Bitcoin itu sendiri. Namun, klaim-klaim identitas sebelumnya, seperti yang melibatkan Elon Musk, kerap muncul dan terbantahkan.
Riset ini muncul di tengah meningkatnya kompleksitas dan ancaman di ekosistem digital, termasuk maraknya serangan ransomware yang memanfaatkan teknologi serupa. Ancaman keamanan siber, seperti yang pernah menggila di Indonesia, menunjukkan sisi lain dari perkembangan teknologi yang diinisiasi oleh ide-ide seperti Bitcoin.




