📑 Daftar Isi

Laptop Asus ProArt P16 dengan desain minimalis untuk kreator profesional

PC Creator: Tren Baru Laptop Kreator di 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Produsen PC seperti Acer, Asus, dan Maingear fokus pada segmen kreator di 2026.
  • Acer memvalidasi pasar lewat ConceptD, kini lebih fokus pada konfigurasi spesifik.
  • Asus mempertahankan sub-brand ProArt dengan desain minimalis dan layar akurat warna.
  • Kreator mengutamakan akurasi warna dan desain kalem, berbeda dengan gamer yang fokus pada refresh rate dan RGB.
  • AI generatif mengubah alur kerja kreatif, membutuhkan GPU dengan VRAM besar (minimal 12GB).
  • Model AI seperti LTX dan Wan bisa dijalankan lokal, menghemat biaya dibanding cloud.
  • Maingear melihat persilangan besar antara kebutuhan gamer dan kreator.

Telset.id – Kebutuhan akan PC dan laptop khusus untuk konten kreator semakin nyata di 2026. Produsen seperti Acer, Asus, dan Maingear kini berlomba menghadirkan perangkat yang tidak hanya bertenaga, tetapi juga memiliki desain yang lebih profesional dan tenang, menjawab permintaan pasar yang terus tumbuh.

Selama ini, segmen PC gaming dan workstation enterprise mendominasi pasar perangkat berperforma tinggi. Namun, ada kelompok pengguna lain yang selama ini kerap menjadi “pelarian” dari kedua kategori tersebut, yaitu para kreator profesional. Mereka membutuhkan kekuatan komputasi yang setara dengan PC gaming, tetapi dengan estetika yang lebih elegan dan fungsionalitas yang spesifik untuk alur kerja kreatif.

Fenomena ini mendorong para vendor untuk lebih serius menyasar segmen kreator. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan varian konfigurasi, tetapi juga menghadirkan sub-brand khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan unik para profesional multimedia, desainer grafis, dan editor video. Perubahan ini menandai era baru di mana performa tinggi tidak lagi harus identik dengan lampu RGB yang mencolok.

Pergeseran fokus ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi AI generatif. Kemampuan untuk menghasilkan gambar, video, dan musik secara lokal membutuhkan spesifikasi hardware yang sangat tinggi, terutama dari segi GPU dan RAM. Hal ini membuat PC kreator menjadi pilihan yang semakin relevan, tidak hanya untuk pekerjaan tradisional, tetapi juga untuk eksplorasi AI yang membutuhkan daya komputasi besar.

Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana regulasi teknologi beradaptasi dengan perubahan cepat ini, Anda dapat membaca laporan PBB tentang regulasi AI.

Strategi Vendor: Dari Sub-Brand ke Konfigurasi Spesifik

Acer merupakan salah satu pionir yang menyadari potensi pasar kreator. Pada tahun 2019, mereka meluncurkan lini produk bernama ConceptD. Lini ini menawarkan konfigurasi bertenaga dengan prosesor Intel Xeon dan GPU Nvidia Quadro, serta desain industrial yang berani dan organik. Salah satu produk unggulannya adalah laptop convertible “pull-forward” yang menjadi cikal bakal desain Surface Laptop Studio, yang disebut Ezel.

Meskipun Acer kini mulai mengurangi fokus pada sub-brand ConceptD, Eric Ackerson, associate director of product marketing Acer America, mengakui bahwa lini tersebut berhasil memvalidasi segmen pasar kreator. “ConceptD membantu kami menguji coba dan memahami kebutuhan para profesional kreatif yang sangat beragam,” ujarnya. Menurut Ackerson, kunci untuk menjangkau pelanggan saat ini lebih terletak pada konfigurasi yang tepat daripada sekadar branding.

Ia menambahkan bahwa ada persilangan yang signifikan antara kebutuhan gamer dan kreator. “Kebutuhannya serupa, tetapi alur kerjanya berbeda,” jelasnya. Kreator cenderung menyukai desain PC yang lebih kalem dan tidak mencolok, sebuah estetika yang oleh Ackerson disebut sebagai “executive gaming.”

Di sisi lain, Asus memilih untuk mempertahankan sub-brand ProArt yang secara khusus menargetkan para kreator profesional. Sascha Krohn, direktur pemasaran teknis global Asus, menegaskan bahwa para kreator menginginkan perangkat yang minimalis dan low-profile. “Kami ingin desainnya sederhana dan tenang agar tidak mengganggu konsentrasi,” katanya. Contoh nyata dari filosofi ini adalah Asus ProArt P16, yang dilengkapi dengan slot kartu SD Express dan tombol dial sentuh.

Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan talenta digital, simak kabar tentang jebolan The NextDev Academy yang dikirim ke ajang Future Makers.

Perbedaan Prioritas: Gamer vs Kreator

Salah satu pembeda utama antara PC gaming dan PC kreator terletak pada prioritas layar. Para gamer sangat mementingkan kecerahan dan, yang terpenting, refresh rate yang tinggi. Sementara itu, bagi para kreator, akurasi warna dan hasil akhir yang matte (tidak mengkilap) jauh lebih penting. Hal ini menjadi fokus utama pada lini ProArt yang mencakup PC dan monitor.

Namun, Asus melihat adanya peluang untuk memuaskan kedua segmen pengguna sekaligus seiring dengan semakin terangnya panel OLED. Contohnya, ProArt P16 hadir dengan layar tandem OLED 120Hz yang mencapai puncak kecerahan HDR 1600 nits, memenuhi kebutuhan gamer dan kreator dalam satu perangkat.

Wallace Santos, CEO Maingear yang mendirikan perusahaan tersebut lebih dari dua dekade lalu, juga mengamati persilangan serupa. “Ada banyak korelasi dan kesamaan antara PC gaming dan PC yang dirancang untuk kreator,” ujarnya. Keduanya membutuhkan GPU berperforma tinggi, memori besar, dan penyimpanan cepat. Namun, para kreator “cenderung menginginkan PC yang lebih ramping dengan sedikit kilau.”

Tim Santos bahkan pernah merilis edisi terbatas PC gaming berperforma tinggi dengan casing ala tahun 90-an berwarna krem. Desain tersebut langsung laris manis. Meskipun demikian, perusahaan tetap menunjukkan sikap hati-hati dalam penggunaan RGB pada produk gaming mereka. “Saat kami menggunakan RGB, itu dilakukan dengan bersih. Bukan muntahan pelangi,” tegas Santos.

Menariknya, Santos agak skeptis terhadap potensi PC small form factor (SFF) untuk memperluas pasarnya di kalangan gamer. Menurutnya, ukuran GPU yang besar, harga catu daya SFF yang mahal, dan kebutuhan pendinginan yang intens membuat mid-tower menjadi pilihan yang lebih praktis.

Sementara itu, persaingan di pasar penyimpanan juga semakin ketat. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa membaca tentang pasar SSD retail yang hampir hilang.

Dampak AI pada Alur Kerja Kreatif

Kehadiran generative AI telah mengubah lanskap komputasi kreatif secara fundamental. Awalnya, untuk aplikasi seperti Adobe After Effects, daya 3D memang berguna, tetapi kapasitas memori sistem menjadi variabel yang lebih penting dalam menentukan performa. Namun, AI telah mengubah hal tersebut.

Sekarang, menghasilkan gambar menjadi semakin mudah dan dapat diandalkan. Pembuatan musik dan lagu juga mulai mengalir dari alat seperti Suno hingga terintegrasi ke dalam Gemini. Meskipun pembuatan video, terutama video berdurasi panjang, masih memiliki beberapa kekurangan, model seperti Sora telah berhasil mendemokratisasi pembuatan klip pendek dengan sinematografi dan efek khusus ala Hollywood.

Eric Ackerson dari Acer menggambarkan perubahan ini sebagai sebuah transformasi antarmuka. “Antarmuka tidak lagi menjadi sekadar kotak peralatan, melainkan lapisan yang menerjemahkan niat menjadi tindakan. Anda tidak perlu tahu langkah-langkahnya. Anda hanya perlu mengatakan ke mana Anda ingin pergi,” jelasnya.

Model generasi video lokal seperti LTX dan Wan dapat menghasilkan video berkualitas tinggi, tetapi membutuhkan GPU dengan setidaknya 12 GB VRAM. Model Wan yang lebih besar, dengan 14 miliar parameter, secara optimal membutuhkan RAM 32 GB atau lebih dan lebih dari 50 GB ruang SSD. Meskipun ada kompromi, seperti menggunakan workflow UI seperti ComfyUI untuk menjaga konsistensi dan menghasilkan resolusi rendah sebelum di-upscale, penghematan biaya dibandingkan opsi berbasis cloud sangat signifikan.

“AI telah menghilangkan hambatan,” kata Wallace Santos dari Maingear. “Perangkat tidak lagi menjadi batasan dalam alur kerja kreatif saat ini. Memang masih mahal, tetapi sekarang sudah bisa dicapai.”

Dengan hadirnya berbagai pilihan perangkat yang semakin matang, para kreator di Indonesia kini memiliki lebih banyak opsi untuk memilih PC atau laptop yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan profesional mereka, tanpa harus mengorbankan performa demi estetika atau sebaliknya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.