Telset.id – Saham SpaceX mengalami penurunan signifikan setelah mencapai puncak tertingginya pasca IPO, memicu kekhawatiran investor akan valuasi raksasa antariksa milik Elon Musk tersebut. Data menunjukkan saham perusahaan merosot hingga lebih dari 20 persen dari level tertinggi sepanjang masa pada Selasa lalu.
Setelah debut spektakuler di Wall Street pada Jumat pekan lalu, saham SpaceX sempat melonjak dramatis didorong oleh permintaan yang terpendam, mendorong harga saham ke kisaran USD 220 per saham. Namun, euforia tersebut tidak berlangsung lama.

Penurunan Drastis Saham SpaceX
Para investor mulai mengajukan pertanyaan sulit tentang prospek bisnis perusahaan roket tersebut, yang berujung pada penurunan harga saham secara bertahap sepanjang pekan ini. Kondisi ini menghapus sebagian besar keuntungan awal yang sempat diraih.
Saham SpaceX tercatat merosot hampir lima persen pada Rabu. Situasi semakin memburuk pada Kamis siang, di mana saham kembali terperosok hampir sepuluh persen setelah melalui malam yang berat. Pada saat berita ini ditulis, harga saham bertahan di sekitar angka USD 173, turun lebih dari 20 persen dari rekor tertingginya pada Selasa.
Valuasi Multitriliun Jadi Sorotan
Isu utama yang menjadi perhatian adalah valuasi SpaceX yang bernilai multitriliun dolar. Tidak seperti kebanyakan perusahaan bernilai tinggi lainnya, SpaceX tercatat masih merugi miliaran dolar setiap tahunnya. Beban kerugian semakin bertambah setelah merger dengan startup AI milik Musk, xAI.
Secara sederhana, investasi di SpaceX dinilai sebagai bentuk kepercayaan terhadap visi jangka panjang Elon Musk — atau sekadar skema cepat kaya yang berisiko tinggi. Komentator CNBC, Jim Cramer, menyebutkan bahwa saham SpaceX pada dasarnya adalah saham Elon Musk. Ia menilai tidak mungkin perusahaan yang masih merugi selama bertahun-tahun ini memiliki valuasi setinggi itu tanpa faktor kepemimpinan Musk.
Bahkan analis yang masih mempertahankan peringkat beli optimis untuk SpaceX pun mengaku bingung dengan situasi ini, seperti dilaporkan oleh Bloomberg.
Baca Juga:
Optimisme Analis di Tengah Tekanan
Meskipun menghadapi tekanan jual yang besar, sejumlah analis tetap optimis. Investment bank Oppenheimer baru-baru ini menaikkan target harga saham SpaceX dari USD 190 menjadi USD 250, dengan alasan akuisisi perusahaan coding AI, Anysphere, oleh SpaceX.
Analis Oppenheimer, Timothy Horan, menyatakan bahwa SpaceX kini memiliki setiap lapisan tumpukan AI, memberikan keunggulan biaya dan kualitas. Pernyataan ini menunjukkan bahwa akuisisi Cursor senilai Rp 960 triliun menjadi katalis positif bagi prospek jangka panjang perusahaan.
Dampak pada Saham Tesla
Salah satu aspek menarik dari IPO SpaceX adalah dampaknya terhadap perusahaan EV milik Musk, Tesla. Seperti SpaceX, valuasi Tesla juga sangat bergantung pada kepercayaan terhadap visi Musk, bukan pada fundamental bisnis semata. Saham Tesla juga mengalami penurunan sejak SpaceX go public, merosot 1,4 persen dalam lima hari terakhir.
Kedua perusahaan ini terkait erat dengan keyakinan investor terhadap visi ambisius Musk, mulai dari robot humanoid yang mengambil peran sentral di pasar tenaga kerja hingga konstelasi pusat data raksasa. Semua konsep ini masih belum terbukti dan menghadapi tantangan teknis yang sangat besar.
Meskipun prospek jangka panjang masih diselimuti ketidakpastian, konektivitas 5G tanpa operator yang digagas SpaceX menjadi salah satu proyek ambisius yang dinanti. Namun, volatilitas saham diprediksi akan terus berlanjut dalam waktu dekat.
Tidak ada yang tahu pasti ke mana arah saham SpaceX selanjutnya, tetapi satu hal yang pasti: volatilitas baru saja dimulai.





Komentar
Belum ada komentar.