Telset.id – CEO OpenAI, Sam Altman, digambarkan sebagai sosok yang manipulatif, tidak dapat dipercaya, dan “tidak terkendali oleh kebenaran” dalam laporan investigasi mendalam oleh The New Yorker. Sejumlah mantan rekan kerja dan anggota dewan menuduhnya berulang kali mengingkari janji terkait keselamatan AI demi kepentingan bisnis.
Laporan tersebut, yang mengutip banyak sumber dalam industri teknologi, menyoroti pola perilaku Altman yang menurut mereka merusak kepercayaan. Salah satu anggota dewan OpenAI bahkan secara terang-terangan menyebut Altman sebagai “sosiopat”. Mereka menggambarkannya memiliki dua sifat yang jarang bersatu: keinginan kuat untuk disukai dalam setiap interaksi, dan ketidakpedulian yang hampir sosiopatik terhadap konsekuensi dari menipu orang.
Kritik terhadap karakter Altman bukan hal baru. Aaron Swartz, aktivis dan programmer terkenal yang merupakan teman satu angkatan Altman di Y Combinator pada 2005, telah memperingatkan teman-temannya tentang Altman sebelum kematiannya pada 2013. Swartz mengatakan bahwa Altman “tidak pernah bisa dipercaya” dan “akan melakukan apa saja”. Tuduhan serius juga datang dari adik perempuan Altman sendiri dalam gugatan perdata, yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual berulang sejak mereka kecil. Altman dan keluarganya membantah semua tuduhan tersebut.
Baca Juga:
Menurut The New Yorker, Altman lebih merupakan seorang pebisinis daripada insinyur, dengan kemampuan persuasi yang luar biasa untuk membuat skeptis percaya bahwa ia memiliki prioritas yang sama. Seorang eksekutif teknologi yang pernah bekerja dengannya menyebut kemampuannya itu sebagai “trik pikiran Jedi”. Namun, kemampuan persuasi ini sering diikuti dengan pengingkaran janji.
Salah satu contoh yang diungkapkan melibatkan Dario Amodei, CEO Anthropic yang sebelumnya bekerja di OpenAI. Amodei meninggalkan OpenAI untuk mendirikan perusahaan AI-nya sendiri karena perbedaan pendapat dengan Altman. Dalam catatan yang dilihat The New Yorker, Amodei menulis tentang negosiasi investasi miliaran dolar dari Microsoft pada 2019. Saat itu, Amodei menyodorkan daftar prioritas keselamatan AI yang disetujui Altman. Namun, ketika kesepakatan hampir ditutup, Amodei menemukan klausul tambahan yang membatalkan permintaan utama dalam daftar tersebut. Saat dikonfrontasi, Altman menyangkal keberadaan klausul itu, bahkan setelah Amodei membacakannya dengan lantang.
Korban lain dari perilaku Altman disebutkan adalah CEO Microsoft, Satya Nadella. Beberapa eksekutif Microsoft menggambarkan Altman berulang kali mengingkari kata-katanya, sehingga merenggangkan hubungan jangka panjangnya dengan Nadella. Seorang eksekutif menyatakan Altman telah “menyalahartikan, mendistorsi, menegosiasikan ulang, mengingkari perjanjian”. Contohnya terjadi awal tahun ini, di hari yang sama OpenAI menegaskan Microsoft sebagai penyedia eksklusif untuk model AI tanpa memori, mereka mengumumkan kesepakatan $50 miliar dengan Amazon sebagai pengecer eksklusif platform “Frontier” untuk agen AI. Microsoft dikabarkan siap menggugat atas dugaan pelanggaran kontrak ini.
Pandangan berbeda diungkapkan oleh Sue Yoon, mantan anggota dewan OpenAI. Menurutnya, Altman bukanlah “penjahat Machiavellian”, tetapi seseorang yang mampu menipu dirinya sendiri untuk percaya pada penjualan yang selalu berubah. “Dia terlalu terperangkap dalam keyakinan dirinya sendiri,” katanya. “Jadi dia melakukan hal-hal yang, jika Anda hidup di dunia nyata, tidak masuk akal. Tapi dia tidak hidup di dunia nyata.”
Laporan ini muncul di tengah sorotan publik yang semakin besar terhadap kepemimpinan Altman di OpenAI. Sebelumnya, Altman juga telah terlibat dalam kritik publik atas komentarnya dan terlibat debat terbuka dengan Elon Musk mengenai bahaya AI. Di sisi lain, Altman tetap aktif dalam berbagai proyek, termasuk kolaborasi dengan Jony Ive untuk mengembangkan perangkat AI baru.
Gambaran yang muncul dari laporan The New Yorker ini memperkuat narasi tentang ketegangan antara ambisi bisnis yang agresif dan komitmen terhadap keselamatan AI di perusahaan pelopor seperti OpenAI. Tuduhan bahwa keselamatan AI hanya dijadikan “kepingan tawar-menawar” oleh pimpinannya berpotensi memengaruhi kepercayaan publik dan regulator terhadap industri yang sedang berkembang pesat ini.




