📑 Daftar Isi

Truk otonom Aurora tanpa pengemudi beroperasi di jalan raya Amerika Serikat

Aurora Targetkan 30.000 Truk Otonom dan Pendapatan Rp5 Miliar Dolar AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Aurora targetkan 30.000 truk otonom dan pendapatan $5 miliar pada 2030
  • 2026 diperkirakan hanya 200 truk driverless dengan pendapatan $80 juta
  • Saham turun 12,42% ke $5,29 sejak investor day 23 September
  • Model driver-as-a-service mulai 2027 dengan biaya $0,85 per mil
  • Breakeven gross margin ditargetkan paruh pertama 2027 dengan 500 truk
  • Perangkat keras generasi ketiga diproduksi Aumovio, ekspansi ke AS pada 2030

Telset.id – Aurora, perusahaan teknologi kendaraan otonom, menargetkan lebih dari 30.000 truk tanpa pengemudi beroperasi pada akhir 2030 dengan pendapatan tahunan mencapai $5 miliar. Target ini mencuat di tengah kondisi perusahaan yang diperkirakan menutup 2026 dengan hanya 200 truk driverless dan pendapatan tahunan sekitar $80 juta.

Chief Financial Officer Aurora, David Maday, menyatakan target tersebut bukanlah sesuatu yang terlalu ambisius. Ia menilai angka 30.000 unit terlihat besar untuk sektor otonom, namun relatif kecil dibanding total pasar truk secara keseluruhan. Menurutnya, empat produsen truk utama memproduksi sekitar 250.000 hingga 300.000 unit truk baru setiap tahun.

“Saya tidak berpikir ini aspirasional. Saya pikir kami bisa melakukannya,” kata Maday dalam wawancara dengan TechCrunch. Pernyataan ini menjadi dasar keyakinan Aurora bahwa target 2030 dapat direalisasikan meski pasar masih meragukan.

Namun, investor belum sepenuhnya menerima visi 2030 Aurora. Saham perusahaan terus menurun sejak hari analis dan investor tahunan pada 23 September. Pada Senin, saham ditutup turun 12,42% ke level $5,29. Meski demikian, menurut Maday, investor masih memiliki waktu untuk menyesuaikan pandangan mereka.

Maday menyebut “unlock” besar bagi Aurora baru dimulai pada 2027 dan akan semakin cepat setelahnya. Perusahaan memperkirakan akan meningkatkan jumlah truk driverless dari 200 unit pada akhir 2026 menjadi lebih dari 1.000 unit setahun berikutnya.

Model Bisnis Transportasi dan Peralihan ke Driver-as-a-Service

Saat ini, Aurora menjalankan bisnis yang disebutnya transportation-as-a-service. Model proof-of-concept ini direncanakan dibatasi sekitar 500 truk. Aurora memiliki dan mengoperasikan truk self-driving serta membebankan tarif sekitar $2 per mil kepada pelanggannya, termasuk Detmar Logistics, Hirschbach, McLane, dan Werner. Tarif tersebut sudah termasuk fuel surcharge dan disebut setara dengan harga yang ditawarkan operator lain pada umumnya.

Perubahan signifikan dan penghematan nyata, menurut Maday, akan terjadi tahun depan ketika Aurora mulai beralih ke model driver-as-a-service. Dalam skema ini, pelanggan akan membeli truk self-driving dan membayar biaya berlangganan per mil kepada Aurora untuk teknologi self-driving, yang diperkirakan sekitar $0,85. Pelanggan akan memiliki dan merawat truk, sementara Aurora memelihara sistem self-driving beserta perangkat kerasnya.

Memindahkan truk dari neraca keuangan Aurora menjadi kunci jika perusahaan ingin melakukan scaling. Langkah ini juga kemungkinan menjadi perhatian utama investor. Aurora menyatakan target mencapai breakeven gross margin pada basis run-rate di paruh pertama 2027 dengan sekitar 500 truk beroperasi.

Lompatan besar berikutnya terjadi pada akhir 2027 dengan hadirnya perangkat keras generasi ketiga Aurora. Perangkat ini mencakup sensor, komputer, dan peralatan lain yang memungkinkan truknya mengemudi sendiri. Perangkat keras kendaraan otonom tersebut akan diproduksi massal oleh mitranya, Aumovio, yang sebelumnya dikenal sebagai Continental.

Aumovio tidak hanya merancang dan memproduksi kit perangkat keras tersebut. Perusahaan itu juga membiayainya untuk Aurora, sehingga meringankan beban finansial perusahaan truk self-driving tersebut. Aumovio juga akan melakukan servis dan perbaikan kit untuk pelanggan. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi Aurora untuk menekan biaya dan mempercepat adopsi teknologi.

Sejalan dengan itu, Aurora berencana memperluas operasinya. Pada 2030, perusahaan memperkirakan akan tumbuh melampaui beberapa negara bagian di Selatan ke sebagian besar wilayah kontinental Amerika Serikat. Ekspansi ini menjadi bagian dari peta jalan perusahaan menuju skala operasi yang jauh lebih besar.

Maday menegaskan bahwa pada 2028 struktur biaya perusahaan akan sangat baik. Hal itu, menurutnya, menjadi alasan mengapa gross margin mulai melonjak. “Begitu Anda mencapai titik itu, saya pikir masuk ke ride hailing adalah hal yang wajar,” ujarnya. Ia juga mengonfirmasi bahwa Aurora masih berencana untuk masuk ke pasar robotaxi pada akhirnya.

Dengan kombinasi peralihan model bisnis, dukungan mitra manufaktur, dan ekspansi wilayah operasi, Aurora menempatkan 2027 sebagai titik balik utama. Perusahaan berharap transisi ke driver-as-a-service dan perangkat keras generasi ketiga dapat mempercepat pertumbuhan sekaligus memperbaiki struktur biaya secara signifikan.

Bagi pasar, pernyataan Aurora menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada model bisnis yang lebih scalable. Keputusan untuk memindahkan kepemilikan truk ke pelanggan dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi beban neraca sekaligus memperluas jangkauan operasional di masa depan.

Sejumlah pihak masih menantikan bukti nyata dari target tersebut. Namun, dengan peta jalan yang mencakup breakeven gross margin pada 2027, produksi massal perangkat keras generasi ketiga, dan rencana ekspansi ke sebagian besar Amerika Serikat pada 2030, Aurora telah menetapkan tolok ukur yang jelas untuk mengukur keberhasilannya.

Perkembangan ini juga menjadi perhatian bagi pelaku industri yang mengikuti tren kendaraan otonom. Langkah Aurora dalam menguji truk otonom tanpa pengemudi di AS dan menghadirkan teknologi yang lebih tangguh serta murah menunjukkan arah industri menuju komersialisasi yang lebih luas. Bagi pengamat teknologi, persaingan di sektor ini akan semakin menarik untuk diikuti seiring mendekatnya tenggat 2030.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.