📑 Daftar Isi

Ilustrasi superkomputer LineShine China yang menggeser El Capitan

China Geser El Capitan dengan Superkomputer CPU 2,2 ExaFLOPS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • China menggeser El Capitan dari puncak Top 500 dengan superkomputer LineShine
  • LineShine mencatat 2,198 FP64 ExaFLOPS, pertama di dunia yang tembus 2 ExaFLOPS hanya dengan CPU
  • Menggunakan 13,79 juta core dari prosesor LX2 semi-custom berbasis Armv9
  • Konsumsi daya 42,2 MW dengan efisiensi 52,07 GFLOPS/W
  • Unggul di HPCG (22,00 PFLOPS) tetapi tertinggal di presisi campuran (7,92 EFLOPS)
  • Menandakan kemandirian teknologi China di tengah sanksi AS

Telset.id – China resmi menggusur El Capitan dari puncak daftar superkomputer dunia setelah LineShine, sistem milik National Supercomputer Center di Shenzhen (NSCS), mencatatkan skor 2,198 FP64 ExaFLOPS di benchmark Linpack. Ini adalah mesin pertama dalam sejarah Top 500 yang mampu mempertahankan performa di atas 2 ExaFLOPS dalam presisi ganda hanya dengan menggunakan CPU.

LineShine dibangun oleh Shenzhen Cloud Computing Center dan dioperasikan di National Supercomputing Centre di Shenzhen. Sistem ini mengandalkan prosesor semi-custom LX2 buatan dalam negeri yang memiliki 304 core per chip, berbasis arsitektur Armv9, dan berjalan pada kecepatan 1,55 GHz. Total core yang digunakan mencapai 13,79 juta, dengan interkoneksi proprietary LingQi dan konsumsi daya 42,2 MW.

Dari segi efisiensi, LineShine menghasilkan 52,07 GFLOPS/W — lebih rendah dari El Capitan yang mencapai 60,94 GFLOPS/W. Namun, performa ini masih jauh melampaui Fugaku, superkomputer CPU-only legendaris yang sebelumnya menjadi nomor satu dan hanya mampu menghasilkan 14,78 hingga 16,84 GFLOPS/W tergantung optimasi.

Dominasi di Tolok Ukur HPCG

Selain unggul di Linpack, LineShine juga memuncaki peringkat HPCG dengan skor 22,00 HPCG-PFLOPS. Namun, di tolok ukur HPL-MxP yang mengukur performa presisi campuran, LineShine hanya mencatatkan 7,92 EFLOPS — tertinggal dari El Capitan, Frontier, dan Aurora. Hal ini membatasi kegunaan LineShine untuk pelatihan dan inferensi AI, tetapi dapat dimaklumi mengingat keunggulannya di tugas komputasi ilmiah tradisional.

Setiap CPU LX2 terdiri dari dua chiplet komputasi dengan total 304 core yang diatur dalam delapan klaster berisi 38 core masing-masing. Setiap core dilengkapi unit Arm SVE (Scalable Vector Extension) dan SME (Scalable Matrix Extension) yang mempercepat operasi vektor dan matriks untuk AI serta komputasi ilmiah, dengan dukungan format data FP64, FP32, BF16, FP16, dan INT8.

Arsitektur memorinya cukup unik: memadukan 32 GB HBM on-package dengan bandwidth hingga 4 TB/s dan 256 GB DDR5 eksternal untuk memaksimalkan bandwidth sekaligus kapasitas. Meski demikian, prosesor ini hanya mendapatkan peningkatan performa 3,6X saat beralih dari FP64 ke presisi campuran — lebih rendah dari sistem yang mengintegrasikan akselerator presisi rendah seperti AMD Instinct MI300A atau Intel Ponte Vecchio.

Menurut laporan, masih terlalu dini untuk menyimpulkan kemampuan LX2 di beban kerja presisi campuran. Namun, fakta bahwa China berhasil membangun superkomputer dengan performa FP64 yang luar biasa adalah pencapaian yang patut diacungi jempol.

Dampak Geopolitik dan Kemandirian Teknologi

Yang paling menarik adalah keputusan NSCS untuk benar-benar mengirimkan hasil benchmark ke Top 500. Ini menandakan bahwa China yakin LineShine sepenuhnya bergantung pada teknologi domestik dan tidak terpengaruh oleh pembatasan ekspor Amerika Serikat. Dalam konteks sanksi chip yang terus diperketat, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa China mampu mengembangkan sendiri teknologi komputasi kelas atas tanpa GPU buatan AS.

Dengan 13,79 juta core dan konsumsi daya 42,2 MW, LineShine menjadi bukti bahwa pendekatan CPU-only masih relevan untuk superkomputer eksaskala, meskipun efisiensi energinya masih kalah dari sistem yang menggunakan akselerator GPU. Ke depan, tantangan terbesar adalah meningkatkan performa presisi campuran agar sistem ini juga kompetitif untuk beban kerja AI modern.

[IMAGE]
Google

Untuk pengguna di Indonesia, berita ini mengonfirmasi bahwa persaingan teknologi superkomputer semakin memanas. China tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi juga menciptakan terobosan yang bisa mengubah peta persaingan global di bidang komputasi berperforma tinggi.

Komentar

Belum ada komentar.