📑 Daftar Isi

Drone layar Saildrone Surveyor dengan peluncur rudal JAGM di perairan Hawaii saat RIMPAC 2026

Drone Layar Saildrone Sukses Luncurkan Rudal JAGM di RIMPAC 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Saildrone mengumumkan pada 20 Agustus bahwa USV Surveyor berhasil meluncurkan dua rudal Lockheed JAGM di Hawaii selama RIMPAC 2026
  • Ini merupakan peluncuran rudal pertama dari USV tanpa awak
  • Sistem kendali tembakan menggunakan ARES, keputusan penggunaan senjata tetap di tangan manusia
  • Demonstrasi dikoordinasikan dengan USS Theodore Roosevelt carrier strike group
  • JAGM adalah penerus rudal Hellfire, senjata 50kg dengan radius efektif 18km
  • Bukan peluncuran rudal USV pertama, USV Ranger telah menembakkan SM-6 pada 2021
  • Ukraina telah menggunakan konsep serupa dengan Magura-series drone boats
  • Keterbatasan utama: peluncur ganda tidak dapat mengisi ulang sendiri di laut

Telset.id – Saildrone mengumumkan pada 20 Agustus bahwa Unmanned Surface Vehicle (USV) Surveyor miliknya berhasil meluncurkan dua rudal Lockheed JAGM di perairan Hawaii selama latihan RIMPAC 2026. Ini merupakan peluncuran rudal pertama dari USV tanpa awak, menandai tonggak baru dalam pengembangan sistem persenjataan maritim otonom.

Uji coba ini melibatkan Lockheed Martin yang memasang peluncur ganda Joint Air-to-Ground Missile (JAGM) pada kapal tanpa awak kelas Surveyor milik Saildrone. Dua rudal JAGM ditembakkan menggunakan data penargetan untuk mensimulasikan kapal permukaan berkecepatan tinggi. Demonstrasi ini berlangsung dalam koordinasi dengan kelompok serang kapal induk USS Theodore Roosevelt, di bawah sponsor Program Eksperimen Armada Angkatan Laut AS.

Yang menarik dari uji coba ini adalah sistem kendali tembakan yang berjalan melalui Adjunct Remote Engagement System (ARES), yang oleh Lockheed digambarkan sebagai “sistem tempur yang dioperasikan dari jarak jauh”. Dengan kata lain, kapal tersebut berlayar secara mandiri, namun keputusan untuk menggunakan senjata tetap sepenuhnya berada di tangan manusia untuk saat ini.

Arleigh Burke-class guided-missile destroyers fire standard missile 2 (SM-2)

Latihan yang dapat dilihat sebagai permainan otonom penuh ini melibatkan penyampaian informasi penargetan jarak jauh ke Saildrone Surveyor, yang kemudian bertindak berdasarkan informasi tersebut dengan sukses. Keberhasilan ini membuktikan bahwa integrasi antara sensor jarak jauh, sistem kendali, dan platform tanpa awak dapat berjalan efektif dalam skenario operasional nyata.

Bukan Peluncuran Rudal USV Pertama, Tapi Berpotensi Lebih Signifikan

Ini bukan pertama kalinya sebuah USV meluncurkan rudal. USV Ranger telah menembakkan SM-6 dari peluncur empat sel kontainer pada September 2021 di bawah program Ghost Fleet Overlord. Ukraina juga telah membawa konsep ini dari area uji coba ke medan perang, dengan kapal drone seri Magura yang menggunakan rudal udara-ke-udara R-73 yang diadaptasi untuk menembak jatuh helikopter Rusia dan, berdasarkan klaim, berpotensi menembak jatuh pesawat tempur Su-30.

Namun, pilihan senjata pada uji coba kali ini justru lebih banyak menjelaskan tentang target yang dimaksudkan untuk platform tersebut. JAGM adalah penerus rudal Hellfire, senjata seberat 50kg dengan radius penargetan efektif 18km. Ini menjadikannya bukan sebagai penghancur kapal, melainkan platform yang secara dominan menargetkan target udara dan angkatan laut yang lebih kecil dan lebih cepat seperti drone satu arah dan perahu kecil.

Pilihan rudal yang relatif ringan ini menunjukkan bahwa Saildrone Surveyor dirancang bukan untuk menghadapi kapal perang besar, melainkan untuk melawan ancaman asimetris yang menjadi tantangan nyata dalam peperangan maritim modern. Ini sejalan dengan kebutuhan untuk menghadapi swarm drone dan fast attack craft yang semakin marak digunakan berbagai kekuatan militer.

Naval News melaporkan pada bulan Juli bahwa Lockheed sebelumnya telah menawarkan peluncur JAGM versi permukaan untuk kapal perusak dan kapal tempur pesisir selama periode intensitas konflik tertinggi dengan Houthi. Mempersenjatai platform yang relatif mudah dikorbankan dengan rudal yang sama dapat membuatnya jauh lebih mematikan dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan kapal perang alternatif.

Konsep ini menarik karena menggabungkan dua keunggulan sekaligus: biaya produksi yang lebih rendah untuk platform tanpa awak, dan kemampuan serangan presisi yang sebelumnya hanya dimiliki kapal perang konvensional. Kombinasi ini berpotensi mengubah perhitungan ekonomi dalam peperangan angkatan laut, di mana kapal perang konvensional membutuhkan investasi sangat besar.

Pada saat yang sama, sensor perang elektronik pasif Surveyor, seperti yang didemonstrasikan selama penampilan RIMPAC yang sama, memungkinkannya untuk mendeteksi, mengklasifikasikan, dan mengidentifikasi ancaman bersama dengan helikopter MH-60. Ini secara efektif menjadikannya platform pendukung ganda untuk menghadapi ancaman yang lebih besar.

Kemampuan sensor ini menambah nilai signifikan karena Saildrone Surveyor tidak hanya berfungsi sebagai platform penyerang, tetapi juga sebagai mata dan telinga tambahan dalam formasi tempur. Integrasi dengan helikopter MH-60 menunjukkan bahwa platform ini dirancang untuk bekerja dalam ekosistem operasi gabungan, bukan sebagai sistem yang berdiri sendiri.

Namun, platform ini memiliki keterbatasan. Yang paling menonjol adalah peluncur ganda di laut tidak dapat mengisi ulang sendiri. Kecuali masalah ini diatasi, platform ini secara efektif menjadi senjata terbatas yang dapat dengan cepat kewalahan oleh drone yang lebih murah di sebagian besar teater perang.

Keterbatasan ini menjadi pertimbangan penting dalam evaluasi efektivitas platform. Dalam skenario pertempuran nyata, kemampuan untuk melanjutkan serangan setelah amunisi habis menjadi faktor kritis. Tanpa mekanisme pengisian ulang otomatis atau dukungan logistik yang memadai, efektivitas tempur platform ini akan sangat terbatas setelah dua rudal pertama habis digunakan.

Apakah demonstrasi kapal drone ini akan menghasilkan penempatan USV bersenjata oleh Angkatan Laut AS dalam waktu dekat masih harus dilihat. Teknologi ini telah diuji, tetapi belum terbukti dalam pertempuran. Biaya, kapasitas produksi massal, dan kegunaan dalam pertempuran aktual adalah pertanyaan yang mungkin perlu dijawab sebelum platform ini digunakan Angkatan Laut dalam skala yang berarti.

Keberhasilan uji coba ini tetap menjadi langkah penting dalam evolusi peperangan maritim. Ketika biaya platform tanpa awak terus turun dan kemampuan sensor serta persenjataan meningkat, peran USV dalam operasi angkatan laut modern diperkirakan akan semakin signifikan. Industri pertahanan global akan mengamati dengan cermat bagaimana Angkatan Laut AS menindaklanjuti demonstrasi ini.

Bagi Indonesia yang memiliki wilayah maritim luas, perkembangan teknologi seperti ini menjadi perhatian tersendiri. Kemampuan untuk melakukan pengawasan dan serangan presisi dengan platform tanpa awak yang relatif murah dapat menjadi pertimbangan dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Angkatan Laut di masa depan.

Uji coba ini juga menunjukkan tren global di mana teknologi otonom semakin banyak diadopsi dalam sistem persenjataan. Negara-negara dengan anggaran pertahanan terbatas dapat memanfaatkan teknologi serupa untuk meningkatkan kemampuan maritim mereka tanpa harus membangun kapal perang konvensional yang jauh lebih mahal.

Perkembangan ini juga relevan dengan dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik. Dengan meningkatnya ketegangan di berbagai titik wilayah, kemampuan untuk mengerahkan aset pengawasan dan serangan tanpa membahayakan nyawa awak menjadi nilai tambah yang signifikan bagi kekuatan angkatan laut mana pun.

Tantangan berikutnya bagi pengembang teknologi ini adalah mengatasi keterbatasan logistik dan memastikan keandalan sistem dalam berbagai kondisi operasional. Uji coba lebih lanjut di perairan yang lebih menantang dan skenario yang lebih kompleks akan menentukan sejauh mana teknologi ini dapat diandalkan dalam operasi nyata.

Yang jelas, keberhasilan peluncuran rudal dari USV Saildrone ini membuka babak baru dalam pengembangan sistem persenjataan maritim otonom. Kombinasi antara biaya yang lebih rendah, kemampuan produksi massal, dan efektivitas tempur yang meningkat membuat teknologi ini layak untuk terus dipantau perkembangannya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.