Ilustrasi roket Starship SpaceX bersiap lepas landas dalam misi uji terbang kedua

FAA Restui SpaceX Terbang Lagi, Starship Siap Uji Terbang Kamis Ini

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • FAA beri izin SpaceX untuk uji terbang Starship V3 kedua pada Kamis, 16 Juli 2026.
  • SpaceX identifikasi penyebab kegagalan booster akibat perbedaan startup mesin dan efek panas.
  • Perbaikan meliputi modifikasi urutan startup mesin, sistem alarm, dan abort mesin.
  • Misi utama: meluncurkan 20 satelit Starlink V3 pertama yang meningkatkan kapasitas dan kecepatan.
  • Ini uji terbang pertama Starship sebagai perusahaan publik setelah IPO bersejarah Juni 2026.
  • SpaceX butuh Starship untuk wujudkan rencana pusat data luar angkasa dan perjalanan antarplanet.

Telset.id – SpaceX mendapat lampu hijau dari Federal Aviation Administration (FAA) untuk kembali menerbangkan prototipe Starship. Izin ini dikeluarkan setelah perusahaan milik Elon Musk berhasil mengidentifikasi kemungkinan penyebab kegagalan tahap booster sistem roket tersebut saat uji terbang pada Mei lalu. SpaceX mengumumkan akhir pekan kemarin bahwa penerbangan Starship berikutnya bisa dilakukan paling cepat Kamis, 16 Juli 2026.

Ini akan menjadi peluncuran kedua dari versi ketiga atau V3 Starship. SpaceX juga mengonfirmasi bahwa Starship kali ini akan membawa satelit Starlink generasi ketiga pertama ke luar angkasa. Sebelumnya, Starship hanya membawa versi dummy dari satelit internet yang lebih besar dan lebih bertenaga tersebut.

Uji terbang ini merupakan uji coba kedua sistem Starship SpaceX sekaligus uji coba pertama sebagai perusahaan publik. SpaceX resmi melantai di bursa saham Nasdaq Stock Exchange pada 12 Juni 2026, mencatatkan rekor dana segar hampir USD 86 miliar dalam proses IPO terbesar dalam sejarah. Status sebagai perusahaan publik membuat pasar kini menguji toleransi terhadap pendekatan “fly, fail, fix” yang sering berakhir dengan bola api atau yang oleh CEO Elon Musk disebut sebagai “rapid unscheduled disassembly.”

Kegagalan Booster dan Perbaikan yang Dilakukan

Uji terbang pertama Starship V3 pada 22 Mei 2026 berjalan cukup sukses. Booster Super Heavy berhasil mengangkat roket setinggi 407 kaki ke luar angkasa sebelum bagian upper stage memisahkan diri dan mengerahkan 20 simulator satelit beserta dua Starlink yang dimodifikasi untuk merekam bagian eksterior Starship.

Booster generasi ketiga tersebut seharusnya kembali ke Bumi dan melakukan pendaratan simulasi di Teluk Meksiko. Namun, mesinnya tidak menyala kembali dengan benar dan malah jatuh ke perairan. Masalah terjadi pada momen pemisahan booster, menurut SpaceX dan FAA.

SpaceX menjelaskan dalam pernyataan akhir pekan kemarin bahwa “sedikit perbedaan dalam startup mesin pada kapal” menyebabkan Booster berputar 90 derajat ke arah yang salah. SpaceX telah memodifikasi urutan startup mesin ini agar booster “lebih andal berputar ke arah yang diinginkan” dan booster juga telah dimodifikasi untuk “meningkatkan keandalan penyalaan ulang.”

FAA menyatakan dalam pernyataan Senin bahwa kemungkinan penyebab utama kegagalan booster Super Heavy adalah “efek panas pada komponen sistem propulsi selama pendakian roket dan pengaturan sistem alarm mesin yang salah.” SpaceX mengatakan telah melakukan perubahan pada sistem alarm dan abort mesin Starship yang seharusnya mengurangi kemungkinan kegagalan serupa di masa depan.

Upper Stage dan Raptor Engine

Meskipun upper stage pertama Starship V3 berhasil mengerahkan muatan uji coba pada Mei dan mensimulasikan pendaratan di Teluk — sebuah pencapaian yang sulit diraih SpaceX sebelumnya — roket tersebut juga kehilangan satu dari tiga mesin Raptor yang dirancang untuk digunakan di ruang hampa udara. SpaceX mengatakan telah melakukan “[b]eberapa modifikasi perangkat keras dan operasional” untuk mencegah hal ini terulang kembali.

V3 Starlink: Misi Utama Penerbangan Kedua

Penerbangan uji coba Starship kali ini akan menjadi momen bersejarah karena SpaceX akan meluncurkan satelit Starlink V3 pertama ke luar angkasa. Satelit generasi baru ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas jaringan dan kecepatan pengguna. SpaceX berencana mengerahkan 20 satelit baru selama peluncuran.

Satelit-satelit ini dirancang untuk terhubung dengan konstelasi Starlink yang lebih besar “melalui laser berkapasitas tinggi” dan kemudian terbakar di atmosfer sekitar 20 menit setelah dikerahkan, menurut SpaceX. Enam di antaranya akan dilengkapi kamera untuk memotret bagian eksterior Starship.

Versi V3 dari Starship dan Starlink sangat penting bagi masa depan SpaceX. Starlink adalah satu-satunya bagian bisnis SpaceX yang menguntungkan menjelang IPO-nya. SpaceX membutuhkan Starship untuk menjadi sistem roket yang dapat digunakan kembali sepenuhnya guna mewujudkan rencana ambisiusnya seperti pusat data berbasis luar angkasa dan perjalanan antarplanet.

Persaingan di industri antariksa kian memanas. China sukses daratkan roket Long March, menantang dominasi SpaceX. Sementara itu, Elon Musk puji Anthropic yang kini menjadi pelanggan terbesar SpaceX.

Implikasi bagi Masa Depan SpaceX

Keberhasilan uji terbang ini akan menjadi katalis penting bagi SpaceX. Dengan Starship yang berfungsi penuh, perusahaan dapat mempercepat peluncuran satelit Starlink V3 yang menjanjikan kapasitas lebih besar. Ini juga akan membuka jalan bagi misi-misi ambisius lainnya yang selama ini hanya ada di papan gambar.

Kepercayaan investor terhadap pendekatan “fly, fail, fix” SpaceX akan diuji. Sebagai perusahaan publik, setiap kegagalan atau keberhasilan akan berdampak langsung pada harga saham. Pasar akan mencermati apakah model pengembangan roket yang agresif ini dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang.

SpaceX sebelumnya telah mengungguli rekor peluncuran satelit Starlink pada 2026, menunjukkan dominasi mereka di industri ini. Dengan Starship yang berfungsi penuh, rekor tersebut kemungkinan akan terus bertambah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.