📑 Daftar Isi

Ilustrasi Trofi Piala Dunia 2026 dengan latar stadion modern

FIFA Pakai AI dan Semi-Otomatis Offside di Piala Dunia 2026

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • FIFA perkenalkan teknologi offside semi-otomatis dengan deteksi lebih dari 10 sentimeter
  • Avatar 3D berbasis AI untuk animasi offside yang lebih detail
  • Deteksi bola keluar lapangan dengan animasi 3D presisi
  • Teknologi Real-time 3D Recreation untuk gangguan pandangan kiper
  • Keputusan akhir tetap di tangan asisten wasit
  • Teknologi belum sempurna untuk offside subjektif dan situasi tipis

Telset.id – FIFA resmi memperkenalkan sederet teknologi generasi terbaru untuk Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Inovasi ini mencakup sistem offside semi-otomatis dan avatar tiga dimensi berbasis AI untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit.

Turnamen sepak bola terbesar di dunia itu akan menjadi ajang uji coba bagi beberapa teknologi canggih yang belum pernah diterapkan sebelumnya. FIFA berharap inovasi ini dapat mempercepat pengambilan keputusan serta mengurangi kontroversi yang kerap mewarnai pertandingan.

Teknologi Offside Semi-Otomatis Lebih Presisi

Salah satu teknologi utama yang akan digunakan adalah sistem offside semi-otomatis yang diklaim mampu mendeteksi posisi pemain dengan akurasi tinggi. Melalui sistem baru ini, asisten wasit di pinggir lapangan akan menerima peringatan audio secara real-time apabila seorang pemain berada dalam posisi offside lebih dari 10 sentimeter.

Sebelumnya, FIFA telah menguji teknologi serupa di Piala Dunia Antarklub dan Piala Interkontinental. Namun, saat itu sistem hanya memberikan notifikasi jika pemain berada lebih dari 50 sentimeter dalam posisi offside. Dengan peningkatan sensitivitas ini, keputusan offside diharapkan dapat diambil lebih cepat tanpa harus menunggu serangan berakhir.

Meski demikian, FIFA menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan asisten wasit. Mereka masih memiliki kewenangan untuk menentukan kapan bendera offside diangkat dan permainan dihentikan. Sistem ini juga telah dilengkapi berbagai mekanisme pengaman untuk meminimalkan risiko kesalahan teknis.

Perlu dicatat, teknologi baru ini hanya dapat digunakan untuk mendeteksi offside posisi dan belum mampu menangani situasi offside yang bersifat subjektif, seperti ketika pemain dianggap mengganggu lawan tanpa menyentuh bola. Sistem juga masih memiliki keterbatasan dalam mendeteksi situasi offside yang sangat tipis, pemain yang terjatuh, atau posisi sejumlah pemain yang terlalu berdekatan.

FIFA berharap inovasi tersebut dapat mengurangi frustrasi pemain maupun suporter akibat keputusan offside yang terlambat. Selain itu, teknologi ini juga diharapkan menekan risiko cedera akibat permainan yang sebenarnya sudah dalam kondisi offside tetapi tetap dilanjutkan.

Avatar 3D Berbasis AI untuk Animasi Offside

Selain teknologi offside, FIFA juga akan memanfaatkan avatar tiga dimensi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu menghasilkan keputusan yang lebih akurat. Sebanyak 1.248 pemain dari 48 negara peserta akan menjalani pemindaian digital guna menciptakan model virtual masing-masing pemain.

Proses pemindaian dilakukan dalam sebuah ruangan khusus dan hanya memerlukan waktu sekitar satu detik saat sesi foto resmi sebelum turnamen. Hasilnya akan digunakan untuk menampilkan animasi offside yang lebih jelas dan detail dibandingkan sistem yang digunakan saat ini. Ini menjadi salah satu Fitur Terbaru dalam dunia penyiaran olahraga.

Deteksi Bola Keluar Lapangan dengan Animasi 3D

FIFA pun menyetujui penggunaan teknologi baru untuk menentukan apakah bola telah keluar lapangan sebelum terjadinya gol. Sistem tersebut akan menghasilkan animasi 3D yang menunjukkan posisi bola secara presisi, mirip dengan teknologi garis gawang yang telah digunakan sebelumnya.

Chip yang tertanam di dalam bola juga dapat mendeteksi pemain terakhir yang menyentuh bola. Teknologi ini memungkinkan VAR melakukan pengecekan lebih akurat terhadap keputusan tendangan sudut maupun situasi lain yang berkaitan dengan bola keluar lapangan. Inovasi ini sejalan dengan Teknologi Terbaru yang dihadirkan di berbagai sektor.

Teknologi Real-time 3D Recreation untuk Gangguan Pandangan Kiper

FIFA turut mengembangkan teknologi “Real-time 3D Recreation” untuk membantu pengambilan keputusan offside yang berkaitan dengan gangguan pandangan kiper atau line of sight. Sistem ini menghadirkan dua tayangan virtual yang mereplikasi sudut pandang penjaga gawang sehingga VAR dapat menilai dengan lebih jelas apakah pandangan kiper terganggu oleh pemain yang berada dalam posisi offside.

Dengan berbagai inovasi ini, Piala Dunia 2026 dijanjikan akan menjadi turnamen yang lebih seru dan canggih. FIFA berharap teknologi-teknologi tersebut dapat meminimalkan kesalahan wasit dan meningkatkan kualitas pertandingan secara keseluruhan. Para penggemar sepak bola di Indonesia tentu bisa menantikan pengalaman menonton yang lebih imersif berkat Game Baru dan inovasi teknologi lainnya.

Meskipun demikian, teknologi ini bukan tanpa keterbatasan. FIFA mengakui bahwa sistem masih belum sempurna dalam menangani situasi offside subjektif dan deteksi posisi pemain yang sangat berdekatan. Namun, dengan terus melakukan penyempurnaan, FIFA optimistis inovasi ini akan membawa dampak positif bagi dunia sepak bola.

Implikasi dari penerapan teknologi ini cukup jelas: akurasi keputusan wasit meningkat, kontroversi berkurang, dan pertandingan berjalan lebih lancar. Bagi suporter, hal ini berarti lebih sedikit momen frustrasi akibat keputusan offside yang terlambat atau keliru. Bagi pemain, risiko cedera akibat permainan yang seharusnya sudah dihentikan juga dapat ditekan.

Komentar

Belum ada komentar.