📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center Google dengan pipa berwarna dan satelit Project Suncatcher di orbit

Google: Data Center di Luar Angkasa Bisa 100 Kali Lebih Mahal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Google sebut data center di luar angkasa bisa 100 kali lebih mahal daripada di Bumi
  • Pernyataan datang dari Amanda Peterson Corio, Global Head of Data Center Energy Google
  • Google tetap menguji Project Suncatcher dengan empat TPU dan daya hanya sekitar 1kW
  • Corio nilai hambatan utama di AS adalah perizinan dan interkoneksi grid, bukan daya
  • Perdebatan menyeret valuasi SpaceX yang disebut capai US$1,8 triliun

Telset.id – Data center di luar angkasa bisa menelan biaya hingga 100 kali lebih mahal dibandingkan data center yang dibangun di Bumi. Angka itu disampaikan langsung oleh Amanda Peterson Corio, Global Head of Data Center Energy Google, di tengah upaya perusahaan menguji coba chip AI di orbit melalui Project Suncatcher.

Pernyataan Corio menjadi semacam pengingat di saat Google gencar memperlihatkan kemampuan AI di luar angkasa. Ia menyampaikannya dalam ajang WTF Summit yang digelar The Information di Napa Valley. Nasihatnya ke industri cukup lugas: “Let’s explore all the terrestrial options before we go extraterrestrial.”

Pernyataan itu muncul di momen yang cukup janggal. Pasalnya, Google sedang menguji perangkat keras jenis ini. Prototipe pertama Project Suncatcher, yang dibangun bersama operator satelit Planet, diluncurkan lewat misi rideshare Transporter-18 milik SpaceX pada 1 Oktober.

Uji Coba Suncatcher dan Klaim “Hello World”

Google juga mengumumkan tonggak “Hello World”: sebuah model Gemma 4 yang berjalan di TPU onboard menulis haiku pendek tentang berada di luar angkasa. Hasilnya diturunkan ke Bumi saat satelit melintas di atas Svalbard, Norwegia.

Perusahaan menyebutnya sebagai respons AI pertama dari TPU kelas data center yang berada di orbit. Klaim itu terukur, mengingat Starcloud telah menempatkan Nvidia H100 di orbit setahun sebelumnya dan menjalankan model AI di dalamnya dalam hitungan minggu.

Project Suncatcher

Persoalan skala menjadi catatan yang mudah terlewat di tengah hype. Satelit itu membawa empat TPU, tetapi hanya menghasilkan sekitar 1kW daya solar. Artinya, satelit hanya bisa menjalankan satu chip dalam satu waktu selama kurang lebih 20 menit per sesi, menurut The Next Web. Sebagai perbandingan, satu kampus AI berdaya 1 GW yang kini dibangun di darat menarik daya sekitar sejuta kali lipatnya.

Google sendiri menyebut Suncatcher sebagai “moonshot” sejak diperkenalkan setahun lalu. Project lead Travis Beals mengatakan kepada NPR pada hari peluncuran bahwa ia tidak memperkirakan orbital compute menjadi lebih murah daripada versi terestrial dalam lima tahun ke depan.

Hambatan Sesungguhnya: Perizinan, Bukan Daya

Argumen yang lebih luas dari Corio justru soal darat, bukan langit. Menurut The Information, ia menyebut Amerika Serikat punya daya yang cukup dan hambatan sebenarnya adalah perizinan serta studi interkoneksi grid.

Ia menuding sebagian besar penolakan lokal terhadap data center berasal dari pengembang baru yang kurang berpengalaman, tanpa menyebut nama. Google, katanya, membayar di muka untuk peningkatan grid selama 15 hingga 20 tahun di lebih dari 9 negara bagian, memasang restoration bond, dan berhenti memakai nondisclosure agreement dengan pemerintah lokal.

A man walking inside a data center next to a protest against AI data centers

Namun ada celah dalam argumen tersebut. Perusahaan mapan seperti Oracle juga menghadapi resistensi lokal, yang menyulitkan gagasan bahwa pendatang baru yang tidak berpengalaman adalah akar masalahnya. Penolakan ini bukan hal marginal: Data Center Watch mencatat 75 proyek senilai sekitar US$130 miliar tertunda atau terblokir hanya pada kuartal pertama 2026.

Di titik inilah orbital data center tetap relevan secara politik. Setelah pemilu sela pekan ini, yang menjadikan pembangunan data center sebagai isu kampanye di sejumlah kontestasi termasuk pemilihan gubernur Texas, Musk menulis, “Data centers in space looking pretty appealing right now.”

Namun meninggalkan Bumi bukan berarti lepas dari antrean izin. Permintaan sejuta satelit SpaceX dan Project Sunrise milik Blue Origin dengan 51.600 satelit sama-sama membutuhkan persetujuan FCC, dan kekhawatiran soal debris serta spektrum memberi regulator dan pesaing banyak alasan untuk menolak, hanya saja di ketinggian yang berbeda.

Jika daya benar-benar melimpah dan izin adalah hambatannya, seperti argumen Corio, maka keunggulan utama orbit adalah menyalip antrean tersebut. Dengan angka yang ia sebut, cara itu menjadi jalan yang sangat mahal. Sejumlah pengamat industri juga menyoroti bagaimana efisiensi teknologi kerap tidak berbanding lurus dengan kualitas hasil, seperti dibahas dalam laporan soal kualitas kerja stagnan.

Perdebatan ini turut menyeret bursa. Short seller Jim Chanos membaca pernyataan Corio sebagai US$5 triliun per gigawatt compute. Ia memposting di X bahwa selisih antara pandangannya dan estimasi manajemen SpaceX serta para bull “should give pause to anyone trying to model this business out.”

TIKR mendorong aritmatika itu lebih jauh. CFO SpaceX mengatakan kepada investor bulan lalu bahwa compute baru balik modal dalam waktu kurang dari setahun pada tingkat sewa saat ini. Jika dibangun di orbit dengan biaya hingga 100 kali lipat namun disewakan dengan harga sama, TIKR menghitung periode balik modal bisa memanjang hingga seabad, atau sekitar satu dekade bahkan pada sepersepuluh dari batas atas yang disebut Corio.

Isu ini penting karena orbital compute menopang sebagian dari nilai pasar SpaceX yang sekitar US$1,8 triliun pada saat penulisan. Perusahaan telah meminta izin FCC untuk meluncurkan hingga sejuta satelit data center, dan Musk memposting bahwa orbital compute yang diterapkan SpaceX setiap bulan kemungkinan akan melampaui compute terestrial sekitar akhir 2028.

Namun dokumen IPO SpaceX sendiri memperingatkan investor soal “significant technical complexity and unproven technologies,” dan menyebut data center orbitalnya mungkin tidak akan pernah menjadi layak secara komersial.

Corio bukan skeptis pertama. Sam Altman dari OpenAI menyebut ide ini “ridiculous” dalam kondisi saat ini pada awal tahun, meski Nvidia menyiapkan modul Space-1 Vera Rubin yang diarahkan ke data center orbital. Dinamika serupa juga terlihat di sektor lain, misalnya saat akuisisi Marvell justru disambut anjloknya saham.

Yang membuat pernyataan ini menarik: Alphabet adalah salah satu pemegang saham luar terbesar SpaceX, dengan kepemilikan tercatat 6,11% pada akhir 2025 menurut Bloomberg. Google juga dilaporkan tengah berbicara dengan SpaceX soal peluncuran perangkat Suncatcher berikutnya. Kepala energi Google mempertanyakan tesis yang menopang sebagian aset milik Alphabet, sementara moonshot Google sendiri bergantung pada peluncuran SpaceX yang murah dan tepat waktu.

Google Data Center

Hingga saat ini, belum ada pihak yang menerbangkan test bed berskala lebih dari satu kilowatt dan mempublikasikan berapa biaya sebenarnya. Selisih antara orbit dan darat, apakah 3x, 10x, atau hingga 100x, masih merupakan perkiraan. Batas atas yang disebut Corio sama-sama belum terbukti seperti tenggat waktu Musk. Hanya saja, salah satu dari angka itu sudah tercermin cukup besar dalam valuasi saham saat ini, dan investor SpaceX akan menunggu laporan keuangan untuk membuktikan klaim CEO mereka. Konteks adopsi AI di lingkungan kerja juga menjadi sorotan, termasuk soal penggunaan ChatGPT yang berdampak pada kepercayaan atasan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.